
Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa: Bukan Jargon, Apalagi Omon-omon!
"Meskipun hari-hari ini teman-teman kami sedang mendapat intimidasi yang cukup keras, kami berharap dengan jaringan yang sudah dibangun terutama di basis NTT ini, kita bisa bangun satu gerakan yang yang lebih besar lagi, yang lebih kuat untuk untuk kita semua.
Hari ini mungkin di Poco Leok, kita tidak tahu besok apa yang terjadi di Sumba, di Lembata, di Sikka, di Larantuka, Timor, kita tidak pernah tahu.
Jangan sampai kita jadi seperti kodok yang direbus di dalam panci tapi kita tidur dengan pulas sampai kita tidak sadar kita sedang dibunuh pelan-pelan."
Magdalena Valeria Afriani Rahmat, Rumah Baca Aksara
Apa yang disampaikan Vale, begitu Ia disapa, terdengar tidak hanya menyiratkan emosi tunggal, ada kekecewaan dan kemarahan terhadap situasi negara akhir-akhir ini. Kemarahan terhadap situasi di kampung halamannya, Ruteng, yang tidak kalah mengancam seperti kondisi chaos di beberapa kabupaten/kota di Indonesia pasca gelombang aksi massa di pekan terakhir Agustus 2025 lalu.
Di sisi lain, Vale menyiratkan harapan dan rasa optimis bahwa masa depan orang muda tetap cerah, asalkan mereka mampu untuk saling menguatkan.
Vale menekankan bahwa dukungan dan empati tidak boleh terkikis, bahkan ketika dipisahkan oleh batas geografis. Setidaknya, itu yang dirasakan Vale ketika Ia berhasil terhubung dengan orang-orang muda penggerak dari Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui acara Muda Bersua(ra) Simpul Wilayah Bali dan Nusa Tenggara (Bali Nusra) pada akhir September 2025 lalu.
Koneksi ini terjadi di tengah suasana yang sulit. Saat dimana linimasa media sosial sedang ramai oleh isu aktivis muda yang secara tidak adil menjadi korban penangkapan aparat. Mereka dituduh sebagai "provokator" demonstrasi dan kerusuhan hanya karena bersuara menentang kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat.
Membangun Jaringan Lintas Wilayah di Bali-Nusa Tenggara
WeSpeakUp.org melalui inisiatif Muda Bersua(ra) Simpul Wilayah Bali Nusra, telah berhasil menghubungkan dan mempertemukan 26 orang muda penggerak dari Bali, NTB, dan NTT.
Pertemuan strategis yang diselenggarakan di Kupang, pada 24-28 September 2025, tidak hanya melibatkan alumni She Creates Change dan We Create Change. Lebih dari itu, pertemuan ini juga mengumpulkan perwakilan dari lebih 20 mitra komunitas lokal dan nasional yang bergerak di lintas isu.
Jaringan yang hadir mencakup berbagai organisasi kunci, mulai dari basis lokal seperti CIS Timor, Jaringan Perempuan Muda Sumba (JPM), PIKUL, Balebengong, Ana Humba Community, Ruang Baca Aksara, Sahabat Hijau Lestari, Koalisi KOPI Manggarai Timur, For PKBI NTT, Lowewini, Power Hub Girl, Bapalok, dan J-RUK Kupang.
Hadir pula lembaga-lembaga yang fokus pada isu hukum dan keadilan seperti LBH Bali dan LBH Apik NTB, hingga kehadiran lembaga pembangunan seperti perwakilan INFID - Yayasan Alfa Omega, serta media independent seperti Floresa.co dan juga hadirnya perwakilan nasional, Perkumpulan Huma, semakin mempertegas luasnya cakupan dan kekuatan kolaborasi yang dibangun dalam acara ini.
Membangun Kapasitas dengan Kerangka Kerja Holistik
Muda Bersua(ra) Bali & Nusra memberi ruang bagi para penggerak muda dari ketiga provinsi untuk berbagi pengalaman, berbagi wawasan, mengambil jeda, juga menguatkan solidaritas untuk segala isu yang sedang diperjuangkan.
Selama empat hari peserta dibekali dengan penguatan kapasitas melalui serangkaian topik-topik strategis yang holistik. Materi yang disampaikan berfokus pada narasi dan kampanye termasuk "Story of Self, 101 Campaign, dan Kampanye Kreatif", hingga topik krusial terkait penguatan gerakan seperti "Interseksionalitas dalam Gerakan".

Isu Kritis, dan Membangun Solidaritas serta Jaringan Personal
Topik mengenai Interseksionalitas dalam Gerakan merupakan materi yang diberikan secara khusus untuk Simpul Bali Nusra. Materi ini menyesuaikan dengan kebutuhan konteks isu yang penting untuk diangkat di simpul wilayah ini, mengingat tingginya kasus kekerasan berbasis gender, khususnya terhadap perempuan dan anak.
Melalui Muda Bersua(ra), WeSpeakUp.org juga berupaya untuk membangun kedekatan, dan ikatan antar peserta. Hal ini diwujudkan melalui pembentukan kelompok kecil dan buddy system untuk mendorong solidaritas seperti "We-Bestie" di mana peserta secara berpasangan menjadi buddy satu sama lain untuk saling mendukung, mengingatkan agenda kegiatan, dan menjaga kondisi satu sama lain selama kegiatan.
Selain itu, terdapat Kelompok Kampanye Kolaborasi yang dikelompokkan berdasarkan kedekatan isu yang diperjuangkan oleh masing-masing peserta.
(Baca juga Artikel: Coaching Clinic: Mengubah Keresahan Orang Muda di Kupang Menjadi Aksi dan Narasi Yang Menggugah)
Terakhir adalah Kelompok Kompetisi Konten Kreatif, untuk berbagi ide dan kreativitas dalam membuat konten video pendek seperti Reels.
Salah satu keunikan di Muda Bersua(ra) Bali Nusra kali ini adalah karakteristik geografis wilayah Indonesia Tengah yang khas. Pertemuan tatap muka yang melibatkan berbagai provinsi dari pulau berbeda ini menjadi momentum yang sangat diapresiasi oleh para peserta, memperkuat rasa persatuan dan kepemilikan.
"Menyenangkan karena bisa bertemu kawan-kawan, apalagi tadi malam bercerita cukup panjang, walaupun diskusinya memang banyak hal yang mungkin nyeleneh-nyeleneh, tapi satu yang bisa saya tangkap adalah ternyata memahami kawan-kawan dalam berjuang hari ini butuh tertawa juga untuk kita bisa memahami satu sama lain."
Muhammad Abihul Fajar, Climate Rangers NTB, alumni We Create Change 3"Sudah banyak belajar terkait komunitas, memahami soal apa akar masalah, dan apa yang sudah kita gerakkan, dan juga sekaligus menjadi suntikan semangat untuk melanjutkan segala perjuangan"
Mariane Imel Yunita Nassa, Alumni She Creates Change 1/Komunitas CSCD
Selain dapat saling berkenalan dan terhubung, peserta merasakan nilai yang lebih dalam dari kegiatan Muda Bersua(ra). Kegiatan ini berhasil menjadi ruang aman untuk untuk menepis stigma dan stereotype 'kedaerahan' yang selama ini membatasi.

Peserta juga berharap, pasca Muda Bersua(ra) mereka dapat terus menguatkan gerakan bersama dan berkolektif di ruang pertemuan dan inisiatif lanjutan lainnya.
Author:
Nafilah Safitri
Communication Officer, WeSpeakUp.org