SIAPA KAMI

Sejarah Kami

2019

Pendiri kami, Desma Murni dan Dhenok Pratiwi, memperkenalkan She Creates Change―Green Camp, sebuah program kepemimpinan untuk memberdayakan perempuan penggerak perubahan lingkungan di Indonesia.

2020

Untuk kedua kalinya, Program She Creates Change―Green Camp dilaksanakan di Indonesia. Karena Pandemi Covid-19, kegiatan offline diadaptasi ke dalam kurikulum online. Program She Creates Change adalah bagian dari inisiatif global Change.org yang berupaya membangun ekosistem para pembuat perubahan di India, Indonesia, Kolombia, Kenya, Nigeria, dan Afrika Selatan.

2022

Program kepemimpinan ini berlanjut dan berkembang menjadi “We Create Change” dengan jangkauan peserta yang lebih inklusif, termasuk perempuan dan anak muda. Saat ini komunitas kami hadir di 24 provinsi di seluruh Indonesia.

2023

Pendiri kami mendirikan WeSpeakUp.org sebagai organisasi lokal yang independen untuk terus dapat memberikan dukungan bagi masyarakat sipil dalam gerakan sosial di Indonesia. WeSpeakUp.org menjadi mitra Change.org dalam menjalankan program We Create Change dan She Create Change di Indonesia.

WE

SPEAK

UP

Di WeSpeakUp.org, kami memberikan pelatihan, pendampingan, dan kolaborasi dalam memenangkan kampanye-kampanye sosial di era digital ini. Kami mengangkat  berbagai isu-isu kritikal yang membutuhkan perhatian segera, termasuk isu lingkungan, pelanggaran hak asasi manusia,  kesetaraan gender dan mempromosikan partisipasi pemuda serta nilai-nilai demokrasi. Kami tidak terafiliasi terhadap partai politik manapun.

Kami percaya bahwa dengan memberdayakan individu dan komunitas, mempromosikan keterlibatan masyarakat, dan memanfaatkan kekuatan bercerita, kita dapat menciptakan perubahan yang berkelanjutan.

Kami berkomitmen untuk membuat dampak positif dalam jangka panjang dengan memfasilitasi para penggerak perubahan dan kelompok-kelompok yang terpinggirkan dengan pelatihan, alat, strategi, taktik dan sumberdaya yang mereka butuhkan untuk mengamplifikasi suaranya demi perubahan positif.

Di WeSpeakUp.org kami juga berupaya mempromosikan nilai-nilai dan kultur kolaborasi. Kami percaya solusi tidak datang dari satu orang atau satu kelompok yang terisolasi, tetapi dari banyak orang atau kelompok yang secara kolektif  saling menguatkan dan mendukung demi mencapai gerakan perubahan inklusif.

Dewan Penasihat

Dewan Penasihat

Sakdiyah Ma'ruf

Ia tidak hanya berprestasi dalam bidang komedi, tetapi juga memiliki gelar Master dalam bidang Studi Amerika. Selain itu, ia telah dianugerahi berbagai penghargaan internasional atas karyanya, termasuk Vaclav Havel International Prize for Creative Dissent 2015 dan BBC 100 Women 2018. Selain tampil di atas panggung sebagai standup comedian, Sakdiyah juga aktif terlibat sebagai Juru Bahasa Konferensi, Pembawa Acara Talkshow, MC, Moderator, dan Fasilitator di berbagai acara. Bersama keluarganya, Sakdiyah saat ini merintis kegiatan literasi dan seni bersama warga desa di Rumah Bambu Fatimah, Desa Kalisalak, Batang, Jawa Tengah. Di WeSpeakUp.org Sakdiyah berperan sebagai Dewan Penasehat ( Advisory Board ), untuk memberi arahan dan dukungan agar organisasi dapat menjalankan visi misinya hingga berdampak positif bagi masyarakat.

Tim Kami

Didirikan oleh para pendiri perempuan yang berpengalaman dibidangnya, WeSpeakUp.org juga berkomitmen untuk meningkatkan partisipasi perempuan di level manajemen organisasi dan gerakan sosial, dengan tujuan akhir berkontribusi pada masyarakat yang lebih adil.
Executive Director

Desmarita Murni

Sebelum memegang peran saat ini, Desma bekerja dengan Change.org selama lebih dari 8 tahun, mulai dari perannya sebagai Direktur Komunikasi dan Kemitraan di Indonesia, serta perannya di organisasi global sebagai Partnership Lead di Change.org Foundation, di mana ia bertugas membangun dan mengelola hubungan dengan mitra strategis Change.org Foundation di Asia dan Afrika. Sejak tahun 2019, Desma memainkan peran utama dalam merancang dan melaksanakan Program She Creates Change, yang bertujuan untuk memberdayakan perempuan penggerak perubahan sosial di Indonesia, khususnya dalam isu perlindungan lingkungan, keadilan iklim, dan kesetaraan gender. Sebelum bekerja dengan Change.org, Desma menjabat sebagai Campaign Manager untuk WWF-Indonesia dan jurnalis di jaringan Media Group.
Campaign Director

Dhenok Pratiwi

Indonesia, di mana ia memimpin tim mengembangkan strategi untuk mencapai target pendapatan. Dhenok aktif terlibat dalam kampanye sosial, termasuk mempromosikan partisipasi perempuan dalam politik, advokasi untuk undang-undang anti-kekerasan seksual, dan meningkatkan aksesibilitas bagi orang dengan disabilitas. Dhenok juga terlibat dalam kampanye lingkungan, mulai dari mempromosikan pengurangan penggunaan kantong plastik hingga mendukung kampanye pembela lingkungan di Kalimantan dan Pulau Sangihe. Sebelum bekerja di Change.org, Dhenok bekerja sebagai editor dan jurnalis di beberapa media seperti Detik.com dan The Jakarta Post. Baru-baru ini, Dhenok menjajaki bidang ESG, pembangunan berkelanjutan, dan energi terbarukan.
Event and Community Engagement Specialist

Mathilde Hutagaol

penyelenggaraan acara, keterlibatan masyarakat, pembangunan kapasitas, fasilitasi, dan kerjasama dengan pemerintah. Pada tahun 2019, Mathilde memainkan peran penting sebagai penyelenggara dua acara penting untuk Change.org Indonesia yaitu: She Creates Change learning lab dan konferensi AKAR―sebuah konferensi yang menampilkan cerita pembelajaran dari kampanye-kampanye yang digerakkan oleh para pembuat perubahan di Indonesia. Mathilde antusias dengan misi WeSpeakUp.org untuk memberdayakan perempuan dan pemimpin muda di Indonesia agar dapat berpartisipasi lebih aktif.
Brand and Technology Specialist

Aprijanti

Aprie punya minat yang dalam terhadap teknologi digital dan berdedikasi mempromosikan representasi perempuan di sektor teknologi. Aprie percaya bahwa dengan mendorong partisipasi perempuan di bidang STEM (Science, Technology, Engineering and Maths), memberi peluang pengembangan kapasitas, dan menciptakan sistem dukungan, perempuan pasti dapat mengatasi hambatan dan memaksimalkan potensinya. Dengan latar belakang teknik dan pemrograman web, Aprie telah bekerja dengan perusahaan-perusahaan teknologi seperti Telkomsel, Daikin, dan Start Up Agency, dalam pemasaran digital, manajemen database, analisis data, pemantauan kampanye, dan pemrograman web. Aprie juga aktif menulis, khususnya topik-topik seputar pengalaman gaya hidup, wawasan perjalanan, dan tips kecantikan melalui blog pribadinya.
Associate Campaigner

Frida Kurniawati

Berawal dari keterlibatannya dalam kampanye menyuarakan kasus kekerasan seksual yang terjadi di salah satu kampus di Yogyakarta, Frida bergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Anti-Kekerasan Seksual (KOMPAKS) dimana ia aktif terlibat dalam rangkaian advokasi kampanye pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Pemahamannya akan interseksionalitas antara gender dengan krisis ekologi tumbuh sejak ia bergabung dengan Extinction Rebellion (XR) Indonesia pada awal 2020. Salah satu kampanye yang ia suarakan bersama XR antara lain adalah #MerdekadariKrisisIklim. Sebelum bergabung dengan WeSpeakUp.org, Frida pernah bekerja selama lima tahun sebagai asisten peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sejumlah tulisannya telah diterbitkan di The Conversation Indonesia, Remotivi, dan Magdalene.
Finance Officer

Michelle Nilam

pembukuan hingga lancarnya operasional keuangan dan implementasi proyek strategis organisasi. Sebelum bergabung di WeSpeakUp.org Michelle mempunyai pengalaman hampir satu dekade dalam manajemen akuntansi dan keuangan di sejumlah perusahaan swasta, dimana dia juga memegang peran penting termasuk dalam hal manajemen perpajakan, finansial analisis, payroll, monitoring project dan anggaran. Saat ini Michelle sedang melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Paramadina Program Manajemen Bisnis dimana ia sangat tertarik mendalami seputar etika bisnis dan strategi keuangan, agar aspek ekonomi dapat berjalan selaras dengan aspek sosial dan keberlanjutan.
Design Graphic Intern

Retno Wahyuningtyas

Ketertarikan Tyas terhadap isu-isu sosial, khususnya terkait sosiologi gender dan pendampingan bagi perempuan dan anak penyintas kekerasan, bermula sejak tahun 2010, dimana ia bergabung dengan Yayasan PUPA (Pusat Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak) di Bengkulu, dan Yayasan Tanoker Ledokombo, Jember, Jawa Timur. Sejak menyelesaikan studi Sosiologi di Universitas Gajah Mada pada 2022, Tyas mengabdikan waktunya sebagai relawan kegiatan sosial masyarakat, antara lain sebagai fasilitator dan pendamping pendidikan bagi perempuan dan anak penyintas kekerasan di Lembaga Pemasyarakatan di Lubuklinggau. Di waktu luangnya, Tyas aktif menulis di blog dan membuat konten edukasi di media sosial.
coggraduation-hatrocketchevron-downhighlight linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram