Wiwi dan Upayanya Mengembalikan yang Hilang

Kehilangan sesuatu yang bermakna dalam hidup kita selalu terasa menyakitkan. Tapi kehilangan juga mempertemukan kita pada hal baru. Meski kadang butuh waktu lama untuk menyadari dan menikmatinya. Cerita ini adalah tentang Farida Dwi yang lebih karib disapa Wiwi, seorang perempuan asal Banjarnegara, pemilik Lady Farmer Coffee.

 

Lady Farmer Coffee tak cuma dibuat untuk memproduksi kopi yang enak. Tapi juga memberdayakan petani kopi perempuan. Mereka dibatasi ruang belajar untuk mengolah kopi dengan baik, dipersulit ketika mencari pupuk, yang membuat kopinya tidak tumbuh dengan baik sehingga biji kopinya dibeli dengan harga murah.

Kejadian serupa juga terjadi di banyak negara penghasil kopi lain di dunia. Ketidakadilan gender bahkan sampai di ruang-ruang pertanian kopi.

Wiwi berharap Lady Farmer Coffee yang mengedepankan keramahan lingkungan, memberikan harapan pada petani kopi perempuan di Banjarnegara, bisa punya ruang belajar lebih luas, mengembangkan bisnis di industri kopi, dan mampu bersaing dengan pengusaha kopi lainnya.

Cerita Wiwi mungkin juga cerita kita semua, yang sedang berusaha tidak terjatuh ketika sedang kehilangan, tapi justru membidas dan terbang lebih tinggi lagi.

 

Mereka yang Hilang

Kehilangan adalah hal yang paling ditakuti Wiwi. Dia takut kehilangan orang-orang tersayang yang memiliki pengaruh besar dalam hidupnya. Mereka adalah Ibu, Nenek, dan Pacarnya. Sayangnya dari daftar orang-orang tersebut, saat ini hanya satu yang Wiwi masih bisa sentuh dan peluk.

Neneknya meninggal karena kanker hati di awal tahun 2020. Bagi Wiwi, Uti, begitu dia biasa memanggil sang nenek, adalah orang terdekat dalam hidupnya. Dia yang mengenalkan Wiwi pada dunia kecil yang kaya di desanya. Memetik kopi, memancing, berkebun, berdagang, semua adalah pelajaran berharga yang diajarkan Uti padanya.

Dengan semua pelajaran dari Uti, Wiwi kecil sudah memiliki tekad bulan menjadi petani. Sang Nenek dengan cara yang sederhana dan menyenangkan membuat bertani tampak seperti sesuatu yang agung dan indah.

 

Uti juga yang mengenalkannya pada suara tonggeret yang terdengar seperti alarm menjelang kemarau. Sekarang suara tonggeret sudah tidak didengarnya lagi di kampungnya. Keheningan ini terasa menakutkan buat Wiwi.

Teriakan tonggeret yang nyaring adalah kawan masa kecilnya. Ingatannya yang indah tentang kampungnya, berisi suara tonggeret di dalam daftar keindahan tersebut. Entah karena mereka lelah berteriak, atau tonggeret sendiri bingung kenapa kemarau begitu lama dan musim hujan hanya singgah sesaat saja, sehingga dia memutuskan untuk diam, takut salah memberi informasi.

Bersama Uti, Wiwi kecil menghabiskan banyak waktu menyusuri kebun di belakang rumahnya tanpa membawa bekal apapun. Alam menyediakan minum air bersih yang rasanya manis dari sebuah mata air di kampungnya. Konon menurut Wiwi, bahkan rasanya lebih manis dari air mineral yang mengaku ada manis-manisnya.

Singkong di kebunnya juga paling istimewa. Ketika baru dicabut, lemparkan saja ke nyala api, maka sesaat aroma nikmat singkong bakar akan segera menggoda hidung dan mengirimkan sinyal lapar ke perut. Air manis dan singkong legit itu, sekarang juga hilang.

Air dari mata air itu bahkan sudah tak ada yang berani meminumnya karena warga desa tahu mungkin tanah dimana air tersebut berasal sudah tercemar pestisida, sementara singkong, entah bagaimana menjelaskannya, tapi rasanya tak selegit ketika dia masih kanak-kanak dulu.

 

Belum selesai mengobati kehilangannya akan Uti, Wiwi kembali harus kehilangan sang kekasih. Pandemi Covid-19 merenggut pacarnya, delapan bulan menjelang pernikahan mereka. Rencana pernikahan selamanya akan terus menjadi rencana.

Hanya tinggal ibunya sekarang, yang tinggal agak jauh dari rumahnya.

Menghadapi kehilangan demi kehilangan tersebut, Wiwi menjadi lebih sensitif menggunakan inderanya untuk mengendus hal-hal yang selama ini terlewat begitu saja darinya. Setelah menyelesaikan kuliah dan kembali ke kampung halamannya di dusun Karangkobar, Banjarnegara.

Di desanya, Wiwi menyadari bahwa ada lebih banyak yang hilang dibanding yang dia pikirkan selama ini.

 

Kelekatannya dengan kopi membuat Wiwi bisa membedakan rasa kopi yang dulu dan sekarang. Kopi yang ada di dalam memori masa kecilnya begitu nikmat dan gurih. Tapi kopi yang sekarang dijual rasanya tidak sama. Karena berasal dari biji kopi terus menerus dipaksa berbuah demi memenuhi standar angka pencapaian panen. Bukan rasa.

 

Yang Hilang dan Datang

Cerita-cerita tentang kehilangan sering kali juga berarti cerita tentang hal baru yang datang dalam hidup kita. Sayangnya hal-hal baru tidak selalu lebih baik atau bahkan setidaknya menggantikan yang lama seperti sebelumnya. Itu yang Wiwi lihat belakangan ini terjadi di kampungnya.

Sepanjang ingatan Wiwi, dia mengingat kalau di masa kecilnya ada orang-orang tua hanya mengeluhkan penyakit pinggang karena kebanyakan bekerja di kebun. Atau sakit dada karena rokok tak putus di tangan. Tapi sekarang ini, penyakit-penyakit yang dulu dianggap sebagai penyakit orang kota, penyakit orang kaya, penyakit yang jauh dari jangkauan, perlahan mendekat memasuki rumah-rumah di kampungnya.

Seseorang terkena asam urat, kolesterol, tumor, hingga kanker, mulai menjadi berita yang jamak didengar. Termasuk nenek Wiwi sendiri. Semua penyakit tersebut masuk dalam klasifikasi penyakit tidak menular, artinya tidak ada yang bisa disalahkan karena telah menularkan.

Tetapi kebiasaan yang berubah, gaya hidup yang berbeda, pola makan, serta asupan yang masuk ke dalam perut lah yang kemudian oleh Wiwi dari bacaan yang diperolehnya, disangkakan menjadi penyebab penyakit yang berdatangan tersebut.

 

 

 

Wiwi tentu masih harus menjalani serangkaian penelitian yang lebih mendalam jika ingin menuduh pestisida atau racun-racun lain yang digunakan di dunia pertanian di kampungnya sebagai penyebab utama atau bahkan satu-satunya. Dan tuduhan-tuduhan kecil tersebut menimbulkan ketakutan pada hal-hal yang dulu tidak pernah terlintas di benaknya.

Dulu Wiwi kecil makan sayur dengan lahap. Tetapi setelah melalui sepetak luas kebun kol yang sedang disemprot pestisida untuk menghilangkan hama pengganggu, Wiwi kehilangan selera makan atas kol dan sayur lain. Bukan hanya kehilangan, dia bahkan takut makan sayur. Rasa kopi yang berubah pun, Wiwi beranggapan bahwa ada kontribusi pestisida di dalamnya.

 

Yang Hilang Berganti

Meratapi kehilangan adalah sesuatu yang tidak dilakukan oleh Wiwi. Kesedihannya menjadi energi yang membuatnya terus berkarya. Dia tidak tahu apakah tonggeret suatu saat akan nyaring berbunyi lagi di desanya, apakah air dari mata air yang manis itu akan kembali manis, singkong menjadi legit kembali, dia tidak tahu.

Yang dia tahu pasti, jika hanya diam, meratap, dan tidak melakukan apapun, maka akan semakin banyak kehilangan yang akan ditemuinya. Dengan keyakinan tersebut, Wiwi memutuskan memulai perjuangannya.

Ijazah sarjana hukum yang dimilikinya menjadi bekal yang mungkin suatu saat akan digunakan. Tetapi yang pasti dia akan gunakan saat ini adalah kecintaannya pada kampungnya, kerinduan pada alam yang bersih lestari, segala yang indah, baik, dan enak, semua yang dikenalkannya oleh Uti, dan pengetahuannya yang masih terbatas soal pertanian.

Bersama sepupunya, tempat dia mencurahkan segala perasaan, Wiwi memulai dari pekarangan rumahnya sendiri. Kopi adalah tanaman pertama yang digarapnya.

 

Wiwi menyadari bahwa menjadi petani bukan hal mudah. Kehidupan pertanian sering kali berlabuh dan bersandar pada hal-hal di luar kuasa manusia. Musim dan cuaca adalah diantaranya. Musim yang berubah, hujan dan panas yang tidak bisa diterka kapan datangnya, menjadi tantangan utama bertani saat ini.

Pada masyarakat yang cenderung melihat keberhasilan dari materi, tekanan lain menghimpitnya kiri kanan. "Mana hasilmu?" tanya orang-orang ketika tak kunjung melihat adanya perubahan pada rumah Wiwi.

Di desa sudah menjadi kebiasaan jika setelah panen petani akan membeli sesuatu seperti kendaraan, atau peralatan rumah tangga mewah lain, untuk menjadi kenang-kenangan keberhasilan musim panen tersebut. Sedangkan Wiwi memang tidak berorientasi ke arah sana. Maka kemudian dipertanyakan lah keberhasilannya.

Sempat Wiwi menyerah. Berbekal uang saku yang dia pikir cukup untuk tinggal beberapa hari di ibukota, Wiwi merantau mencari pekerjaan. Tetapi tiga malam menginap di bilangan Blok M, Jakarta, kepalanya pusing luar biasa. Melihat kendaraan lalu lalang menghamburkan karbon ke udara, dia merasa jeri.

Belum lagi ketika uang saku yang dipikirnya cukup, rupanya sangat tak bermakna di Jakarta, karena semua harga berkali-kali lipat lebih mahal dari yang diperkirakannya, membuat dia harus pulang lebih cepat. Kali ini Wiwi pulang dengan keyakinan untuk menjadi petani yang berhasil dengan tetap mempraktikkan cara-cara baik yang tidak mengotori alam.

Salah satu kenangan yang ditinggalkan oleh Uti adalah tentang bagaimana sang nenek selalu menggunakan kotoran sapi dan kambing sebagai pupuk. Rabuk, demikian Uti menyebutnya.

Bahkan di kala itu pun Uti sudah mengatakan, kalau sebetulnya alam sudah menyediakan semua yang dibutuhkan manusia. Memakai pupuk kimia mungkin memang dapat mengusir hama lebih cepat, tetapi di saat yang sama, dia menyongsong kematian manusia dengan lebih cepat.

Pernah Wiwi merasa sangat putus asa. Ketika dengan susah payah upayanya merabuk tanaman dengan kotoran hewan  kemudian berbuah kesia-siaan. Hama tetangga yang diusir dengan pupuk kimia, tentu saja menganggap kotoran hewan sebagai hal yang sepele. Maka ke kebun Wiwi lah mereka semua berlari.

Hasil panennya gagal. Buah bit yang ditanamnya dimakan tikus, bunga kopinya rusak, dan daun-daun juga dimakan ulat.

Pengalaman tersebut membuat Wiwi mencoba mendekati petani lain, berusaha meyakinkan mereka untuk mengikuti upaya yang dilakukannya. Karena bekerja sendiri saja, tentu sangat berat di tengah kepungan petani yang memakai zat kimia.

Sebetulnya di masa kecil Wiwi, ketika Utinya sering mengajak berjalan keliling kampung, dia ingat hampir semua orang menggunakan pupuk dari kotoran hewan. Ingatan masa lalu itu yang Wiwi sedang coba bangkitkan kembali di kampungnya.

Langkahnya tidak pernah mudah. Tetapi memang tidak ada yang menjanjikan kemudahan bagi mereka yang memulai perubahan. Tapi Wiwi tidak mudah menyerah.

Dia “merayu” petani lain dengan membuat konten-konten berkebun. Cara menanam sayuran rumahan seperti pokcoy, labu botol, bunga telang, buah beet, lobak, dan sebagainya. Dia juga membuat konten cara membuat makanan yang aneh-aneh seperti selai bunga mawar, untuk membuat orang tertarik pada apa yang dikerjakannya.

 

Wiwi yakin perlahan-lahan orang akan melihat perbedaan Satu hal yang dia yakini, dia berada di jalan yang benar. Lady Farmer Coffee yang menjadi brand miliknya dan sepupunya, akan membuktikan hal tersebut. Perjuangan Wiwi, telah dilirik oleh beberapa media yang mendukungnya. Saat ini Wiwi sangat berharap perlahan-lahan petani di sekitar dusunnya yang kembali ke cara-cara alami untuk merawat tanaman.

 

Kerusakan alam yang terjadi, berpengaruh besar pada berubahnya rasa makanan, minuman yang dinikmati manusia. Alam tidak pernah tidur. Dia mengembalikan apa yang manusia berikan padanya. Maka memberikan yang terbaik bagi alam, sebetulnya sama seperti memberikan kebaikan untuk diri kita sendiri.

 

Tentang Penulis:
Dian Purnomo adalah seorang penulis dan periset yang memiliki perhatian khusus pada isu-isu sosial dan lingkungan. Dua novel terakhirnya menyoroti isu kekerasan terhadap perempuan di Sumba yang menjadi korban kawin tangkap dan di perjuangan perempuan Sangihe yang mempertahankan ruang hidup mereka dari penambangan emas. Alumni She Creates Change Vol. 2 ini juga menginisiasi Nulis di Taman, sebuah kelas menulis terbuka untuk belajar menulis bersama, dengan bayaran 1 koin kebaikan buat alam. Saat ini Dian sedang belajar mempraktikkan pola hidup tidak menetap dan minimalis.

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram