“Sampah itu bukan musibah, tapi peluang – asalkan kita tahu cara mengolahnya,” kata Muhlis Mukti (49), Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karya Bersama sekaligus penyuluh pertanian di Desa Rato, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Minggu (21/6/2025).
Di tengah tantangan pengelolaan sampah yang semakin kompleks di daerah pedesaan, Muhlis menjadi sosok inspiratif bagi sesama. Ia mampu melihat peluang yang ada pada tumpukan sampah organik menjadi berkah ekonomi bagi dirinya sendiri dan masyarakat.
Muhlis sudah lama prihatin dengan kondisi lingkungan di daerah tempat tinggalnya. Setiap hari ia melihat warga membuang sampah sembarangan, terutama sampah dapur seperti sisa makanan, kulit buah, dan daun-daunan. Sampah tersebut menumpuk di sudut-sudut desa, menimbulkan bau tak sedap dan menjadi sarang penyakit. Kondisi ini membuat ayah dengan tiga anak itu berpikir keras: bagaimana caranya agar tumpukan sampah tidak menjadi beban, tetapi justru membawa manfaat.
Bermula dari hobinya berkebun dan berternak, Muhlis memikirkan cara mengubah halaman rumahnya yang tandus menjadi lahan subur untuk berkebun. Sejak 2017, Muhlis mengumpulkan dan memilah sampah organik dari rumah untuk membuat kompos sebagai media tanam untuk kebunnya. Muhlis juga mencoba beternak ayam kampung, tapi usaha itu gagal karena banyak ayam yang mati setelah terkena penyakit.
Setelah berdiskusi dengan seorang teman, ia menemukan ide brilian untuk beternak ayam kampung super dan memanfaatkan sampah rumah tangga dan kotoran ayam untuk membuat pupuk kompos dan pupuk organik cair untuk diaplikasikan ke tanaman.
Awalnya pupuk hanya dipakai untuk kebutuhan sendiri. Ketika ada tetangga bertanya, ia memberikan pengarahan cara membuat pupuk dan membagikan pupuk kompos buatannya kepada mereka secara cuma-cuma. Setelah tahu manfaatnya, warga datang untuk membeli pupuk tersebut. Dari situ, muncullah ide untuk memproduksi kompos untuk dijual.
Muhlis dan istrinya, Nurhayati (48), juga mulai memproduksi media tanam siap pakai berupa campuran kompos, tanah, dan arang sekam, yang laris di kalangan pecinta tanaman hias. Setidaknya sebanyak 40 karung kompos dijual per bulan. Pupuk kompos berisi campuran kotoran hewan dan daun-daun dijual dengan harga Rp 25.000 per karung.
Tak hanya itu, limbah cair dari proses fermentasi sisa sampah basah dan limbah cair seperti cucian beras juga dimanfaatkan sebagai pupuk cair organik dan dijual. Sebotol pupuk cair berisi 1,5 liter dijual Rp 30.000. Selain dijual, pupuk organik hasil produksi juga digunakan untuk media tanam bunga dan bibit tanaman. Bibit bunga dan tanaman itu kemudian dijual. Dari usaha tanaman ini, Muhlis mendapatkan penghasilan bersih Rp. 2.000.000 per bulan.
Sampah organik juga dipakai sebagai makanan maggot yang merupakan pakan alternatif untuk ayamnya. Hasil budidaya maggot bisa menghemat penggunaan pakan ayam sebanyak satu kwintal seharga Rp. 500.000 per bulan. Keuntungan dari usaha tersebut digunakan Muhlis untuk membiayai pendidikan ketiga orang anaknya dan sisanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Muhlis berusaha mengatasi tantangan ini dengan memberikan edukasi kepada masyarakat. Saat ada yang datang membeli tanaman di rumahnya, ia menunjukkan cara mengaplikasikan pupuk organik pada tanaman sehingga lebih cepat berbuah. Selain itu, Muhlis juga kerap memberikan pupuk gratis dan mempromosikan usahanya melalui media sosial. Lama kelamaan, warga pun tertarik membeli pupuk dan mengaplikasikan pupuk di rumah.
Muhlis tidak hanya bekerja bagi dirinya sendiri. Ia juga melatih pemuda di sekitar tempat tinggalnya untuk membuat pupuk kompos. Berkat edukasi dari Muhlis, kini warga tertarik mengumpulkan dan mengolah sampah organik. Sampah yang dikumpulkan dipakai untuk makanan maggot dan sebagian lagi untuk membuat pupuk kompos.
Didi Kurniadi (34), warga Desa Rato, misalnya, terinspirasi dengan metode pengolahan sampah yang diajarkan Muhlis. Ia menerapkan metode itu di rumahnya.
Menurut Didi, selama ini sampah organik dari sisa usaha membuat kue menumpuk dan terbuang sia-sia di rumahnya. Dari hasil olahan sampah menjadi pupuk yang diajarkan oleh Muhlis, Didi bisa menyediakan media tanam untuk menanam sayuran. Upaya ini bermanfaat bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga orang lain karena Didi kerap membagikan bibit tanaman kepada masyarakat.
Didi terus belajar agar dapat mengembangkan usaha guna mendukung perekonomian keluarganya. “Pak Muhlis selalu berpesan dalam membuat kompos harus konsisten dan ditekuni secara serius agar bisa menghasilkan nilai ekonomi. Hal ini yang terus saya terapkan,” kata Didi.

Melihat keberhasilan tersebut, dalam forum pemilihan pengurus BUMDes Desa Rato Tahun 2023 Muhlis terpilih sebagai ketua BUMDes Karya Bersama Desa Rato. Dari hasil diskusi antara Pemerintah Desa Rato, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bima, dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), masyarakat juga sepakat menjadikan usaha Muhlis sebagai salah satu unit usaha BUMDes. Dengan mengusung tema pertanian terintegrasi diharapkan dalam satu tempat terdapat kandang budidaya maggot, kandang ayam, bak pembuatan kompos dan kolam bioflok lele.
Kisah Muhlis adalah bukti bahwa pengelolaan sampah bukan hanya menyelesaikan masalah lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan. Dari sampah yang dulu disia-siakan, kini lahirlah sumber penghidupan bagi banyak orang. Muhlis tidak sekadar menjadi Ketua BUMDes, tapi juga agen perubahan yang menginspirasi masyarakat desa untuk melihat peluang dari hal-hal yang selama ini dianggap remeh.
Langkah-langkah membuat pupuk kompos (menurut Muhlis):
Peralatan dan Bahan:
- Kantong kompos (bisa menggunakan karung plastik berpori atau karung goni)
- Bahan organik hijau, seperti sisa sayur, buah, kulit telur, daun segar, ampas kopi/teh
- Bahan organik coklat, seperti daun kering, potongan kertas, serbuk gergaji, sekam padi
- Air secukupnya
- Tanah (opsional)
- EM4 atau bioaktivator (jika tersedia, mempercepat proses fermentasi)
Langkah-langkah Membuat Kompos dalam Kompos Bag:
- Siapkan kantong kompos: Gunakan karung yang cukup besar dan berlubang agar sirkulasi udara lancar. Letakkan di tempat teduh dan memiliki drainase (tidak tergenang air).
- Masukkan bahan organik secara bertahap: Campurkan bahan hijau dan bahan coklat dalam perbandingan 1:2. Tambahkan sedikit tanah dan/atau EM4 jika ingin hasil lebih cepat. Setiap kali menambah bahan, aduk rata.
- Atur Kelembaban: Semprot atau siram sedikit air jika bahan terlihat kering. Jangan terlalu basah, kompos sebaiknya lembab seperti spons.
- Aduk Rutin: Aduk isi kompos bag setiap 5–7 hari agar tetap lembab dan menghindari bau. Bisa gunakan kayu panjang atau tongkat.
- Tunggu Hingga Matang: Proses bisa memakan waktu 1–3 bulan tergantung bahan dan kondisi. Kompos matang berwarna coklat gelap/hitam, gembur, dan berbau tanah segar.
Penulis:
Warga Desa Rato: Eka Rahmatiah, Nuryati, Hairunnisa, Didi Kurniadi, Syamsurizal
*Catatan:
Artikel ini merupakan karya kolaboratif warga desa/kelurahan di Bima, Nusa Tenggara Barat yang mengangkat keresahan sekaligus praktik baik terkait pengelolaan sampah di wilayah masing-masing. Para penulis merupakan bagian dari komunitas dampingan Wahid Foundation dalam program We Nexus.



