Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa: Bukan Jargon, Apalagi Omon-omon!

"Meskipun hari-hari ini teman-teman kami sedang mendapat intimidasi yang cukup keras, kami berharap dengan jaringan yang sudah dibangun terutama di basis NTT ini, kita bisa bangun satu gerakan yang yang lebih besar lagi, yang lebih kuat untuk untuk kita semua.

Hari ini mungkin di Poco Leok, kita tidak tahu besok apa yang terjadi di Sumba, di Lembata, di Sikka, di Larantuka, Timor, kita tidak pernah tahu.

Jangan sampai kita jadi seperti kodok yang direbus di dalam panci tapi kita tidur dengan pulas sampai kita tidak sadar kita sedang dibunuh pelan-pelan."

Magdalena Valeria Afriani Rahmat, Rumah Baca Aksara

 

Apa yang disampaikan Vale, begitu Ia disapa, terdengar tidak hanya menyiratkan emosi tunggal, ada kekecewaan dan kemarahan terhadap situasi negara akhir-akhir ini. Kemarahan terhadap situasi di kampung halamannya, Ruteng, yang tidak kalah mengancam seperti kondisi chaos di beberapa kabupaten/kota di Indonesia pasca gelombang aksi massa di pekan terakhir Agustus 2025 lalu.

Di sisi lain, Vale menyiratkan harapan dan rasa optimis bahwa masa depan orang muda tetap cerah, asalkan mereka mampu untuk saling menguatkan.

Vale menekankan bahwa dukungan dan empati tidak boleh terkikis, bahkan ketika dipisahkan oleh batas geografis. Setidaknya, itu yang dirasakan Vale ketika Ia berhasil terhubung dengan orang-orang muda penggerak dari Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui acara Muda Bersua(ra) Simpul Wilayah Bali dan Nusa Tenggara (Bali Nusra) pada akhir September 2025 lalu.

Koneksi ini terjadi di tengah suasana yang sulit. Saat dimana linimasa media sosial sedang ramai oleh isu aktivis muda yang secara tidak adil menjadi korban penangkapan aparat. Mereka dituduh sebagai "provokator" demonstrasi dan kerusuhan hanya karena bersuara menentang kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat.

 

 

Membangun Jaringan Lintas Wilayah di Bali-Nusa Tenggara

WeSpeakUp.org melalui inisiatif Muda Bersua(ra) Simpul Wilayah Bali Nusra, telah berhasil menghubungkan dan mempertemukan 26 orang muda penggerak dari Bali, NTB, dan NTT.

Pertemuan strategis yang diselenggarakan di Kupang, pada 24-28 September 2025, tidak hanya melibatkan alumni She Creates Change dan We Create Change. Lebih dari itu, pertemuan ini juga mengumpulkan perwakilan dari lebih 20 mitra komunitas lokal dan nasional yang bergerak di lintas isu.

Jaringan yang hadir mencakup berbagai organisasi kunci, mulai dari basis lokal seperti CIS Timor, Jaringan Perempuan Muda Sumba (JPM), PIKUL, Balebengong, Ana Humba Community, Ruang Baca Aksara, Sahabat Hijau Lestari, Koalisi KOPI Manggarai Timur, For PKBI NTT, Lowewini, Power Hub Girl, Bapalok, dan J-RUK Kupang.

Hadir pula lembaga-lembaga yang fokus pada isu hukum dan keadilan seperti LBH Bali dan LBH Apik NTB, hingga kehadiran lembaga pembangunan seperti perwakilan INFID - Yayasan Alfa Omega, serta media independent seperti Floresa.co dan juga hadirnya perwakilan nasional, Perkumpulan Huma, semakin mempertegas luasnya cakupan dan kekuatan kolaborasi yang dibangun dalam acara ini.

 

Membangun Kapasitas dengan Kerangka Kerja Holistik

Muda Bersua(ra) Bali & Nusra memberi ruang bagi para penggerak muda dari ketiga provinsi untuk berbagi pengalaman, berbagi wawasan, mengambil jeda, juga menguatkan solidaritas untuk segala isu yang sedang diperjuangkan.

Selama empat hari peserta dibekali dengan penguatan kapasitas melalui serangkaian topik-topik strategis yang holistik. Materi yang disampaikan berfokus pada narasi dan kampanye termasuk "Story of Self, 101 Campaign, dan Kampanye Kreatif", hingga topik krusial terkait penguatan gerakan seperti "Interseksionalitas dalam Gerakan".

Selain itu materi terkait isu keamanan juga diberikan - "Keamanan Holistik", serta materi terkait bagaimana "Membangun Relasi Strategis dengan para pengambil keputusan" (decision makers).

 

Isu Kritis, dan Membangun Solidaritas serta Jaringan Personal

Topik mengenai Interseksionalitas dalam Gerakan merupakan materi yang diberikan secara khusus untuk Simpul Bali Nusra. Materi ini menyesuaikan dengan kebutuhan konteks isu yang penting untuk diangkat di simpul wilayah ini, mengingat tingginya kasus kekerasan berbasis gender, khususnya terhadap perempuan dan anak.

Melalui Muda Bersua(ra), WeSpeakUp.org juga berupaya untuk membangun kedekatan, dan ikatan antar peserta. Hal ini diwujudkan melalui pembentukan kelompok kecil dan buddy system untuk mendorong solidaritas seperti "We-Bestie" di mana peserta secara berpasangan menjadi buddy satu sama lain untuk saling mendukung, mengingatkan agenda kegiatan, dan menjaga kondisi satu sama lain selama kegiatan.

Selain itu, terdapat Kelompok Kampanye Kolaborasi yang dikelompokkan berdasarkan kedekatan isu yang diperjuangkan oleh masing-masing peserta.

(Baca juga Artikel: Coaching Clinic: Mengubah Keresahan Orang Muda di Kupang Menjadi Aksi dan Narasi Yang Menggugah)

Terakhir adalah Kelompok Kompetisi Konten Kreatif, untuk berbagi ide dan kreativitas dalam membuat konten video pendek seperti Reels.

Salah satu keunikan di Muda Bersua(ra) Bali Nusra kali ini adalah karakteristik geografis wilayah Indonesia Tengah yang khas. Pertemuan tatap muka yang melibatkan berbagai provinsi dari pulau berbeda ini menjadi momentum yang sangat diapresiasi oleh para peserta, memperkuat rasa persatuan dan kepemilikan.

"Menyenangkan karena bisa bertemu kawan-kawan, apalagi tadi malam bercerita cukup panjang, walaupun diskusinya memang banyak hal yang mungkin nyeleneh-nyeleneh, tapi satu yang bisa saya tangkap adalah ternyata memahami kawan-kawan dalam berjuang hari ini butuh tertawa juga untuk kita bisa memahami satu sama lain."
Muhammad Abihul Fajar, Climate Rangers NTB, alumni We Create Change 3

"Sudah banyak belajar terkait komunitas, memahami soal apa akar masalah, dan apa yang sudah kita gerakkan, dan juga sekaligus menjadi suntikan semangat untuk melanjutkan segala perjuangan"
Mariane Imel Yunita Nassa, Alumni She Creates Change 1/Komunitas CSCD

 

Selain dapat saling berkenalan dan terhubung, peserta merasakan nilai yang lebih dalam dari kegiatan Muda Bersua(ra). Kegiatan ini berhasil menjadi ruang aman untuk untuk menepis stigma dan stereotype 'kedaerahan' yang selama ini membatasi.

Solidaritas yang terbangun menguatkan pemahaman bahwa isu yang diangkat di masing-masing wilayah para peserta sudah selayaknya menjadi isu bersama. Hal ini memicu semangat untuk diperjuangkan melalui aksi-aksi kolektif lintas batas.

Peserta juga berharap, pasca Muda Bersua(ra) mereka dapat terus menguatkan gerakan bersama dan berkolektif di ruang pertemuan dan inisiatif lanjutan lainnya.

 

Penulis:
Nafilah Safitri
Communication Officer, WeSpeakUp.org

Pesisir yang Kian Terancam

Manado, kota pesisir yang memiliki garis pantai sepanjang 18,7 kilometer, kini dihadapkan pada krisis lingkungan yang mengancam keberlanjutan ruang hidup masyarakat pesisir.

Menurut data dari Sabua: Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur, hanya sekitar 1,37 kilometer garis pantai alami yang tersisa di bagian utara kota, meliputi wilayah Karang Ria, Maasing, Tumumpa, dan Sindulang.

Dengan rencana reklamasi seluas 90 hektar yang terus digulirkan, kondisi pesisir semakin terancam.

Jika proyek tersebut terealisasi, hanya sekitar 500 meter garis pantai di bagian selatan yang akan tersisa, menjadi satu-satunya ruang terbuka pantai, hasil perjuangan kelompok masyarakat pesisir bersama Komnas HAM.

 

Dampak Reklamasi: Kehancuran Ekologis dan Sosial

Reklamasi pesisir di Manado bukan hanya memengaruhi ekosistem laut yang kaya biodiversitas tetapi juga menekan kehidupan nelayan tradisional.

Dalam laporan Mongabay Indonesia (2023), reklamasi tidak hanya merusak terumbu karang di kawasan segitiga terumbu karang dunia, tetapi juga menutup akses ekonomi bagi warga pesisir.

Reklamasi yang dilakukan pemerintah sejak 1995 dengan konsep Water Front City menyebabkan hilangnya ruang hidup dan mempersempit ruang ekonomi nelayan. Praktik ini juga menciptakan preseden pembangunan yang eksploitatif tanpa partisipasi publik.

 

Jambore Jurnalistik 2025: Solidaritas untuk Pesisir

Menyadari urgensi untuk bertindak, Jambore Jurnalistik 2025 hadir dengan tema "Selamatkan Pesisir, Selamatkan Ruang Hidup Kita" Acara ini diadakan selama dua hari, 19-20 Juli 2025, sebagai forum solidaritas bagi jurnalis, aktivis lingkungan, akademisi, dan masyarakat pesisir di utara Manado.

Sorotan utama dari jambore ini adalah diskusi publik bertajuk "Reklamasi dan Masa Depan Pesisir Manado: Siapa Diuntungkan, Siapa Tergusur?" Diskusi ini menghadirkan pakar lingkungan seperti Prof. Dr. Rignolda Djamaluddin yang dengan tegas menyebut reklamasi sebagai ancaman besar bagi kelestarian ekosistem laut.

"Reklamasi pantai Manado Utara adalah hal gila karena melanggar zona lindung ekosistem laut yang diatur dalam Perda Nomor 1 Tahun 2017 dan RZWP3K," ungkap Prof. Rignolda.

Dalam diskusi tersebut, Ketua Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), Joni Aswira, menyerukan pentingnya jurnalistik lingkungan untuk berpihak pada ekologi dan kelompok masyarakat yang rentan.

"Jurnalis harus berdiri bersama lingkungan, bukan netral, terutama ketika nelayan kehilangan sumber penghidupan mereka," tegas Joni.

 

Gerakan Simbolik untuk Pesisir

Selain diskusi panel, acara ini juga diwarnai berbagai kegiatan seni seperti mural, puisi, musik akustik, dan sesi aspirasi. Masyarakat pesisir bersama pelajar dan aktivis membagikan keresahan mereka.

Piter Sasundame, Sekjen AMPLTR (Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan Tolak Reklamasi), menekankan bagaimana reklamasi dilakukan tanpa partisipasi masyarakat.

"Proyek ini penuh manipulasi, suaranya hanya untuk keuntungan developer tanpa memikirkan dampaknya bagi nelayan," ujarnya.

 

Film Dokumenter dan Petisi Penolakan

Jambore ini juga menjadi ajang edukasi masyarakat dengan pemutaran film dokumenter "Watchdog: Memunggungi Laut". Film ini merefleksikan dampak reklamasi di berbagai wilayah Indonesia, yang by design menghancurkan ekosistem dan mengabaikan kehidupan masyarakat pesisir.

Sebagai penutup, ratusan peserta Jambore, mulai dari jurnalis hingga masyarakat pesisir, menandatangani petisi sebagai langkah awal perlawanan bersama. Petisi ini menjadi simbol solidaritas untuk menghentikan proyek reklamasi yang dianggap mencederai lingkungan dan kemanusiaan.

Jambore Jurnalistik 2025 adalah sebuah upaya kolektif untuk menyuarakan keprihatinan terhadap krisis lingkungan dan sosial yang terjadi di pesisir Manado. Reklamasi yang terus bergulir bukan hanya mengancam ekosistem laut, tetapi juga mampu menghilangkan ruang ekonomi bagi nelayan tradisional dan masyarakat pesisir.

Melalui diskusi, seni, hingga penandatanganan petisi, Jambore ini menjadi momentum solidaritas yang mendesak tindakan nyata dari pemerintah untuk menghentikan reklamasi.

Jangan diam! Dampak reklamasi akan memengaruhi kita semua. Mari bergabung menjadi bagian dari gerakan peduli lingkungan dengan menyuarakan penolakan terhadap eksploitasi pesisir. Bagikan artikel ini agar lebih banyak orang yang sadar akan aksi reklamasi di wilayah pesisir Indonesia.

 

Penulis:
Findamorina Muhtar
Alumni Program We Create Change 1

Dalam perubahan sosial, generasi muda selalu punya peran signifikan baik dalam kancah lokal, nasional, maupun internasional. Berkaca pada sejarah Indonesia, kaum muda kerap muncul sebagai pelopor dan penggerak transformasi sosial, mulai dari perjuangan kemerdekaan hingga berbagai reformasi politik dan sosial.

 

 

Peran orang muda dalam perubahan sosial di Indonesia ditandai dengan peringatan sumpah pemuda yang berlangsung tiap 28 Oktober.

Berangkat dari semangat dan peran orang muda sebagai agen perubahan, WeSpeakUp.org pada 28 September 2025 membuat ruang perjumpaan bagi orang muda di Kupang, NTT. Kegiatan bertajuk "Coaching Clinic" ini bertujuan sebagai wadah berkumpul dan penghubung gerakan kolektif di tingkat lokal.

 

Kenapa Harus Orang Muda?

Orang muda memiliki peran vital sebagai agen dalam membangun perubahan sosial. Mereka juga merupakan pilar inti yang mampu menciptakan semangat, inovasi, dan visi baru untuk mencapai kemajuan dan perubahan yang bermakna.

 

Semangat ini tercermin dalam peran orang muda dan ketertarikannya menyuarakan isu sosial yang ada di masyarakat. Lewat jurnalisme warga, orang muda punya andil besar menyuarakan keresahan sosial seperti isu lingkungan, demokrasi, kesehatan, peran perempuan, hingga persoalan lokal di daerahnya.

Tak hanya memiliki peran strategis, penguasaan orang muda terhadap teknologi telah menciptakan warna sekaligus medium lain untuk menyuarakan keresahan yang mereka alami, antara lain melalui berbagai jenis platform digital seperti youtube, instagram, TikTok dan lain sebagainya.

Dalam konteks ini, WeSpeakUp.org melihat jurnalisme warga melalui multi-platform sebagai salah satu peluang untuk pelibatan orang muda agar dapat berpartisipasi aktif dalam menyuarakan perubahan sosial yang bermakna, secara lebih efektif dan berdampak.

 

Tantangan Orang Muda dalam Mendorong Perubahan

Kendati memiliki semangat yang tinggi, bukan berarti tidak ada tantangan yang dihadapi oleh orang muda dalam mendorong perubahan yang bermakna. Di tengah perkembangan zaman yang serba cepat dan kompleks, generasi sekarang dihadapkan dengan berbagai tantangan yang kontekstual.

Sebaran informasi yang cepat, di satu sisi memberikan dampak positif terhadap penerimaan informasi secara real time dengan jangkauan yang lebih masif. Namun, di sisi lain "banjir informasi" yang terjadi memiliki konsekuensi kepiawaian dalam memilah kabar yang tersedia.

 

Dalam konteks menyuarakan keresahan yang terjadi, orang muda khususnya di Indonesia dihadapkan pula oleh Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang kerap dianggap sebagai "pasal karet". Oleh karena itu semangat yang tinggi untuk bersuara, arus informasi yang cepat, serta bayang-bayang jeratan UU ITE menjadi tantangan yang kompleks bagi orang muda.

Untuk menjawab tantangan tersebut, WeSpeakUp.org menghadirkan Coaching Clinic. Kegiatan ini lahir dari realitas dan tantangan spesifik yang dihadapi orang muda lokal: bagaimana mengubah keresahan terhadap isu-isu sosial dan lingkungan menjadi narasi perubahan yang efektif dan aman di ruang publik.

 

Coaching Clinic: Perjumpaan Orang Muda Lintas Isu di Kupang

Setelah sukses dengan penyelenggaraan Coaching Clinic di Palu, Sulawesi Tengah, pada Mei 2025 lalu, WeSpeakUp.org kembali mengukuhkan komitmennya dalam memfasilitasi suara orang muda dengan menggelar Coaching Clinic di Kupang, Nusa Tenggara Timur pada 28 September 2025.

Coaching Clinic diikuti oleh 80 peserta yang merepresentasikan berbagai elemen pemuda dari Kota Kupang dan sekitarnya. Mereka terdiri dari perwakilan mahasiswa, aktivis komunikasi muda, serta penggerak isu-isu strategis seperti sosial, lingkungan, ketahanan pangan, dan kesetaraan gender. Kehadiran peserta dari organisasi lokal yang bergerak di bidang kampanye dan advokasi digital semakin memperkaya perspektif dalam ruang diskusi tersebut.

Kegiatan ini merupakan komponen penting dari program Muda Bersua(ra), sebuah inisiatif pemberdayaan orang muda yang dikembangkan oleh WeSpeakUp.org sebagai kelanjutan dari program flagship - We Create Change - yang berfokus pada kepemimpinan dan kampanye sosial. Coaching Clinic sebagai ruang belajar yang bersifat intensif dan interaktif, di rancang sebagai platform bersuara bagi peserta umum dengan berbagai latar belakang, khususnya mahasiswa/i, aktivis muda, dan penggerak akar rumput (usia 18–35 tahun).

Acara dibuka dengan stand-up comedy dari komika ternama dari our Comedy of Change, Sakdiyah Makruf. Lewat penampilannya, Sakdiyah menjukkan bagaimana humor dapat menjadi medium yang kuat sekaligus 'ringan' untuk memecah kebisuan seputar isu-isu sosial yang berat. Penggunaan humor ini menjadi referensi bahwa suara perubahan yang umumnya berat tidak selalu kaku.

Sesi kemudian dilanjutkan dengan acara inti yaitu talkshow inspiratif bertajuk "Jurnalisme Warga: Dari Keresahan Jadi Narasi, Dari Cerita Jadi Gerakan". Untuk menciptakan dialog yang kaya, panel diskusi menghadirkan kolaborasi antara seniman lokal dan pakar nasional: Elsy Grazia, penulis dan filmmaker dari Komunitas Film Kupang; Thalitha Yuristiana dari Bijak Memantau, serta Frida Kurniawati, Campaign Koordinator, WeSpeakUp.org.

Keempat panelis berbagi strategi mendalam dalam mengemas isu sosial melalui storytelling dan kampanye kreatif. Elsy Grazia, sutradara film pendek lokal yang dikenal melalui karyanya Bloody Rose - tentang pengalaman menstruasi perempuan, menekankan pentingnya bersuara melalui keresahan yang dekat dengan keseharian. Elsy mencontohkan, isu besar seperti krisis iklim perlu disampaikan dengan karya visual yang lebih ringan, sehingga bisa mudah "masuk bahkan sampai ke dapur-dapur rumah tangga", agar relevan dan menggugah audiens lokal.

 

Coaching Clinic juga tidak hanya menyajikan berbagi pengalaman, namun juga memberikan bekal praktis. Dalam sesi "Membuat Konten Ala WeSpeakUp", Frida Kurniawati, Campaign Koordinator WeSpeakUp.org membekali peserta dengan panduan fundamental dan tips serta trik praktis menulis konten yang aman dari jeratan UU ITE.

Di tengah tantangan kebebasan berekspresi di media sosial, pembekalan ini menjadi komponen vital, memastikan orang muda Kupang tidak hanya berani bersuara, tetapi juga bersuara dengan aman dan bertanggung jawab.

 

Wadah Penghubung, Merawat Ekosistem Gerakan Kolektif Lokal

Coaching Clinic di Kupang menegaskan bahwa ruang aman yang menghubungkan gerakan kolektif di tingkat lokal adalah kunci untuk mewujudkan perubahan yang transformatif. Orang muda, sebagai agen transformasi sosial, tidak hanya berperan di level individu tetapi juga berperan penting dalam mendorong perubahan bermakna pada level kolektif yang lebih luas.

Inisiatif ini telah berhasil memantik koneksi antara kreator lokal di Kupang, dengan dibekalinya para peserta dengan strategi narasi yang aman dan efektif. WeSpeakUp.org memastikan bahwa keresahan sekecil apapun yang diekspresikan bersama-sama dapat tumbuh menjadi gerakan yang besar dan bertanggung jawab.

Maka, upaya merawat dan menjaga wadah gerakan kolektif ini harus terus berlanjut. Bukan tidak mungkin, lewat rasa resah yang kerap dianggap sepele kemudian dituangkan dalam ragam ekspresi akan melahirkan perubahan yang lebih besar.

WeSpeakUp.org berkomitmen untuk terus mendukung momentum yang telah tercipta di Kupang. Dengan dukungan kolaboratif dari berbagai pihak, potensi orang muda NTT untuk menjadi garda depan perubahan akan terwujud melalui gerakan yang saling dukung, saling jaga, dan berkelanjutan.

 

Penulis:
Rizky Aulia Isyatami Hidayat
Community Engagement Assistant

"Saya baru pertama kali ikut acara yang juga dihadiri oleh kelompok disabilitas. Bertemu dengan Kak Hadija (peserta dari kelompok disabilitas), membuka mata saya bagaimana disabilitas itu bisa berdaya, karena di kampung kami di (Kecamatan) Kulawi, kelompok disabilitas masih belum mendapat perhatian."

Begitu kata Uto - salah satu peserta Program Muda Bersua(ra) - di penghujung malam apresiasi, penutup acara Muda Bersua(ra) Batch #1 di Sulawesi.

 

Berkenalan dengan Kelompok Disabilitas di Muda Bersua(ra)

Awal Mei lalu, tepatnya tanggal 07-11 Mei 2025, WeSpeakUp.org mengundang organisasi dan komunitas lokal di regional Sulawesi dalam Program "Muda Bersua(ra)", yaitu serangkaian pelatihan kampanye sosial dan seni bercerita (storytelling) bagi penggerak muda lintas isu dari berbagai daerah di Sulawesi.

 

 

Muda Bersua(ra) dibuka dengan pelatihan residensial selama 4 hari yang diikuti oleh 22 penggerak muda terseleksi dari berbagai wilayah di Sulawesi. Rangkaian acara ditutup dengan Coaching Clinic, sebuah talkshow yang menghadirkan narasumber berpengalaman di bidang jurnalisme dan kampanye sosial untuk memperkuat jurnalisme warga di Palu.

Salah satu poin menarik dari kegiatan ini, Muda Bersua(ra) tidak hanya menjadi ruang berkumpul para penggerak muda berdasarkan kelompok usia yang sama, namun juga menjadi ruang aman untuk penggerak muda dengan ragam identitas kelompok rentan yang berbeda, salah satunya kelompok disabilitas.

Kehadiran Hadija, sebagai perwakilan kelompok disabilitas dari Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Sulawesi Selatan yang juga bagian dari Perempuan Bumi, serta keikutsertaan Ical, salah satu changemakers We Create Change yang juga aktif menjadi tenaga pendidik di Sekolah Luar Biasa (SLB), memberi perspektif dan warna tersendiri bagi sebagian besar penggerak muda Sulawesi yang selama ini lebih banyak fokus terhadap salah satu ancaman terbesarnya, yaitu isu keberlanjutan lingkungan.

Pengalaman-pengalaman Hadija dan Ical yang bergerak di isu disabilitas menjadi catatan penting bagi peserta Muda Bersua(ra) bahwa ternyata di wilayah Sulawesi sendiri masih ada banyak kelompok yang masih memiliki keterbatasan ruang untuk mendapatkan hak-hak mendasar seperti pendidikan dan pekerjaan yang layak. Salah satunya apa yang dihadapi oleh kelompok disabilitas.

Hal ini kemudian menginspirasi penggerak muda yang turut aktif dalam pemberdayaan komunitas seperti Uto dari Libu Muda untuk belajar lebih banyak tentang isu disabilitas, serta melibatkan kelompok disabiltas dalam kerja-kerja komunitasnya.

 

Muda Bersua(ra) jadi Ruang Aman Bersama

Tidak hanya menjadi ruang belajar dan berkenalan lintas isu, Muda Bersua(ra) juga menjadi ruang aman bersama untuk memvalidasi perasaan dan emosi yang keluar dari satu sama lain tanpa memandang gender. Muda Bersua(ra) diikuti oleh peserta dengan jumlah peserta laki-laki lebih banyak dibanding peserta perempuan. Dengan jumlah total peserta laki-laki 13 orang dan peserta perempuan 9 orang. Namun dengan perbandingan jumlah tersebut, tidak menjadikan peserta jadi saling menghakimi atas ekspresi masing-masing.

Salah satu sesi dalam Muda Bersua(ra), yaitu sesi "Story of Self" mengajak peserta untuk menceritakan momen-momen membanggakan dalam proses hidup masing-masing. Baik dari sisi pekerjaan, aktivitas bersama organisasi dan komunitas, maupun pencapaian personal. Dalam prosesnya, tidak jarang peserta merasakan haru dan empati yang mendalam saat berbagi cerita. Komposisi peserta yang lebih banyak laki-laki dalam suatu forum, biasanya cenderung kaku untuk mengekspresikan rasa haru dan empatinya.

Namun, yang terjadi di Muda Bersua(ra) di Palu justru berkebalikan. Peserta saling mendukung dan memberi ruang untuk setiap emosi yang keluar baik dari peserta laki-laki maupun perempuan. Entah itu ekspresi bahagia, haru, simpatik, sedih, juga kemarahan. Seluruh bentuk emosi itu diberi ruang yang luas untuk disuarakan.

"Nangis saja, keluarkan saja ..." begitu ucap teman-teman peserta ketika peserta lain sedang bercerita tentang momen kebanggaannya.

Dari dua sorotan tentang dinamika suasana pelaksanaan Muda Bersua(ra) di Sulawesi lalu, kita bisa melihat bahwa ruang inklusif dan setara itu perlu kesadaran, juga proses untuk dibangun. Perlu ada ruang untuk menuju ke sana yang dalam perjalanannya tidak bisa kita lakukan sendirian. Kita butuh kolaborasi bersama agar suara yang kita perjuangkan bisa lebih lantang terdengar.

 

Dari Ruang Aman Menuju Kampanye Kolaboratif

Setelah empat hari penuh refleksi, pertukaran perspektif, dan pertemanan yang tumbuh, peserta Muda Bersua(ra) tidak pulang dengan tangan kosong. Mereka melanjutkan proses dalam ruang aman dengan membangun kampanye kolaboratif, yang menjadi wujud konkret dan solidaritas yang telah dirajut.

Dari sesi workshop, mereka berkolaborasi berdasarkan kemiripan dan keterkaitan isu yang sedang mereka perjuangkan bersama komunitas atau organisasinya.

Kampanye kolaboratif ini bukan sekedar produk dari pelatihan, tetapi menjadi medium untuk bergerak bersama, memperkuat jaringan, mempertajam strategi, dan memastikan bahwa suara-suara penggerak muda Sulawesi tak hanya terdengar, tetapi juga menggema lebih luas.

Simak juga rangkaian keseruan Coaching Clinic Muda Bersua(ra) di Palu di sini

 

Penulis:
Nafilah Safitri
Communication Officer, WeSpeakUp.org

Di era modern ini, konsep "self-care" (perawatan diri) sering dikomersilkan dan menjadi trend yang memisahkan banyak orang dari praktik-praktik sederhana. Aktivitas seperti healing, pijat dan spa dianggap sebagai kemewahan yang hanya bisa diakses segelintir orang. Di satu sisi kegiatan ini memang membutuhkan biaya, di sisi lain, kesibukan sehari-hari juga seringkali menjadi penghalang untuk mempraktikannya. Namun bagi para penggerak/aktivis perempuan yang kerap berhadapan dengan tantangan-tantangan besar, self-care bukan sekedar kemewahan, melainkan kebutuhan.

Penggerak perempuan seringkali menghadapi tantangan unik dalam upaya mereka memperjuangkan keadlian sosial, hak-hak perempuan, keadilan lingkungan dan kesetaraan gender. Semua ini membutuhkan energi fisik dan emosional yang luar biasa besar. Mereka tidak hanya menghadapi tekanan eksternal, seperti kekerasan berbasis gender, stigma, dan penindasan, tetapi juga menghadapi beban internal dari ketidakadilan yang mereka lawan. Self-care menjadi penting untuk memastikan bahwa mereka tetap menjaga kesehatan mental, fisik, dan emosional mereka.

 

Mengapa Self-Care Bukanlah Kemewahan

Self-care adalah upaya sadar untuk merawat diri sendiri secara fisik, mental dan emosional. Bagi penggerak perempuan, self-care bukanlah tindakan egois maupun sekedar kemewahan, tetapi kebutuhan essensial untuk menjaga keberlanjutan perjuangan mereka.

Di bawah narasi patriaki, perempuan seringkali diharapkan mengorbankan diri mereka demi orang lain. Praktik self-care adalah bentuk perlawanan terhadap ekspektasi tersebut, di mana mereka mengambil alih kendali atas kesejahteraan mereka sendiri dan menegaskan bahwa kesehatan mereka adalah prioritas.

 

Membangun Solidaritas dengan Collective Care

Meski self-care bersifat individual, keberhasilannya tidak bisa dilepaskan dari dukungan kolektif. Ini lah peran "collective care" (perawatan kolektif) - sebuah pendekatan di mana komunitas saling menjaga kesejahteraan satu sama lain, memperkuat solidaritas, dan berbagi beban. Para penggerak/aktivis perempuan dapat saling menjaga baik secara emosional maupun praktis, dengan berbagi beban dan memberikan dukungan dalam menghadapi tantangan yang berat.

Tanpa self-care dan collective care, gerakan penggerak perempuan berisiko tidak berkelanjutan. Ketika aktivis mengalami burnout, depresi, atau trauma, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh gerakan secara keseluruhan.Terlebih di era digital ini, banyak penggerak/aktivis perempuan menghadapi ancaman kekerasan berbasis gender online (KBGO), seperti pelecehan, doxing, atau ancaman digital lainnya. Collective menjadi penting karena dapat memberikan lingkungan yang aman untuk berbagi pengalaman, membangun rasa kebersamaan, dan memulihkan diri.

 

Puan Bersua(ra): Ruang Aman untuk Collective Care

Menyadari pentingnya self-care dan collective care, WeSpeakUp.org (WSU) mengadakan kegiatan Puan Bersua(ra) di Yogyakarta pada akhir 2024. Kegiatan ini mengajak 21 orang penggerak perempuan untuk mengambil jeda sesaat dan mengingatkan pentingnya "self-care" dan "collective care" dalam menguatkan gerakan.


Puan Bersua(ra) merupakan wujud nyata dari collective care. Puan Bersua(ra) adalah ruang aman yang dirancang untuk membangun komunitas penggerak perempuan untuk lebih tangguh dan adaptif. Melaui praktik-praktik seperti "ruang berbagi, mindfulness, ruang kolaborasi, dan kegiatan seni dan ekspersi kreatif", para penggerak perempuan dapat saling mendukung dan memastikan bahwa mereka tetap sehat secara mental dan fisik, sehingga mampu membuat keputusan yang berdampak bagi gerakannya.Collective care juga membantu membangun jaringan dukungan yang memfasilitasi transfer pengetahuan, solidaritas, dan regenerasi kepemimpinan di kalangan perempuan.

 

"Yoga dan Mindfulness" : Pendekatan Holistik untuk Penggerak Perempuan

Setelah sukses dengan Puan Bersua(ra), di awal 2025, WSU kembali mengajak para penggerak perempuan untuk mempraktikan self-care melalui "Yoga dan Mindfulness". Pada 15 Februari 2025, WSU mengadakan "Yoga and Mindfulness Pop-Up Class", dengan mengajak 14 orang penggerak perempuan yang berada di Jabodetabek, termasuk tim WSU. Selain bertujuan untuk melakukan praktik self-care, kegiatan ini juga sebagai upaya WSU untuk dapat terus terhubung dan melakukan dukungan penguatan kepada komunitas penggerak perempuan.

Di pop-up class ini, WSU menggandeng Dhanny Tantri, seorang instruktur yoga tersertifikasi untuk memandu sesi yoga dan Mila Nuh, praktisi mindfulness yang juga fasilitator di Puan Bersua(ra). Keduanya juga sudah tidak asing dalam kerja-kerja di bidang "development", termasuk berinteraksi dengan komunitas penggerak perubahan.


Yoga dan mindfulness dipilih karena di banyak studi, dua praktik ini terbukti efektif untuk mendukung self-care dan collective care. Yoga, melalui gerakan terstruktur seperti asana (postur yoga) dan pranayama (pernapasan), secara efektif merelaksasi tubuh dan menenangkan pikiran. Praktik ini membantu mengurangi stres dan mencegah burnout, masalah umum yang sering dialami penggerak/aktivis perempuan.

Sementara itu, mindfulness (kesadaran penuh), mengajak peserta untuk berlatih memusatkan perhatian dan hadir penuh pada momen saat ini, meningkatkan kesadaran akan perasaan, pikiran dan tubuh mereka. Melalui meditasi mindfulness, para penggerak dapat lebih mengenali batasan diri dan merespons kebutuhan pribadi mereka dengan empati.


Yoga memperkuat tubuh dan meningkatan fleksibitas yang penting bagi keseimbangan hidup, sangat berguna bagi para penggerak untuk tetap sehat secara fisik sehingga lebih siap menghadapi tantangan sehari-hari dan lebih tahan terhadap stress. Sedangkan mindfulness mengajarkan praktik "non-reaktivitas", melatih para penggerak untuk dapat menjaga stabilitas emosi mereka, sehingga menjadi lebih tangguh.

Kombinasi self-care dan collective care melalui yoga dan mindfulness, menciptakan keseimbangan antara individu dan komunitas, memungkinkan para penggerak perempuan untuk merawat diri sendiri (self-care) sambil tetap terhubung dalam komunitas yang peduli dan mendukung (collective care). Pendekatan holistik ini memungkinkan mereka untuk lebih hadir dan berkontribusi dalam kelompok, sekaligus memastikan keberlanjutan gerakan penggerak perempuan di era modern.

 

Penulis:
Mathilde Hutagaol
Community Engagement and Learning Specialist, WeSpeakUp.org

 

Referensi:
1. Chamberlin, L. (2020). From Self Care To Collective Care. International Journal on Human Rights 30. https://sur.conectas.org/en/from-self-care-to-collective-care/
2. Christoper, J.M., et.al. (2006). Teaching Self-Care Through Mindfulness Practices: The Application of Yoga, Meditation, and Qigong to Counsel Training. Humanistic Psychology 46(4): 494-509.
3. Sawyer, H. (2023, Feb 13). Mindfulness: Strategies to implement targeted self-care. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9924360/?utm_source=chatgpt.com

Hari Kamis di penghujung Bulan Januari kemarin, tepatnya tanggal 23 Januari2024, berlangsung acara Bi-monthly Capacity Building yang kedua dengan Tema "Keamanan Perangkat Digital".

Kegiatan yang kami selenggarakan dua kali setiap bulannya ini mempunyai tema yang berbeda-beda, disesuaikan akan kebutuhan pesertanya yang mana adalah para Alumni Program We Create Change guna membangun kapasitas untuk para peserta serta memperkuat komunikasi dan solidaritas antar Alumni Program.

 

Pada tema kali ini, kami berharap peserta dapat mengetahui langkah-langkah preventif untuk mengamankan perangkat digital yang digunakan dan tahu langkah memitigasi risiko keamanan apabila terdapat ancaman maupun gangguan melalui perangkat digital.

 

Acara dikemas semi formal, selain materi yang disampaikan oleh narasumber, ada juga kegiatan games, tanya jawab dan sesi sharing pengalaman antar peserta dalam memanfaatkan perangkat digital di kegiatan aktivismenya.

Narasumber yang kami hadirkan pada kegiatan Bi-monthly Capacity Building ini adalah Farhanah dari Digital Defenders.

Kak Farhanah adalah fasilitator proteksi digital yang saat ini bekerja di Digital Defenders Partnership. Kak Farhanah juga menjadi bagian dari Kolektif Digisec lokal, Codayati Collective.

"I have been working at the intersection of digital technology, security, gender, and media. Currently, I am mostly working on support for digital security for human rights defenders, feminists, and journalists through accompaniment and training. In the meantime, I am also working closely with rapid responder networks and love to do research as well as writing." Terang Kak Farhanah

Di Pembuka acara Kak Farhanah, bertanya kepada peserta tentang "apa arti aman untuk kita?" Ternyata perasaan kita jadi acuan penting, tapi keamanan kita tergantung juga dengan pihak lain, seperti tanggung jawab pemerintah untuk menjaminnya.

Kak Farhanah juga membuka diskusi mengenai ancaman digital yang pernah peserta alami atau khawatirkan.

Ancaman digital terbagi ke dalam beberapa kategori seperti ancaman tidak langsung, ancaman tertarget (biasanya terdapat kepentingan politis), dan ancaman digital terhadap masyarakat sipil.

Pada masing-masing kategori ancaman di atas langkah mitigasinya juga berbeda. Mulaai dari cara mengamankan perangkat digital dengan antivirus, metode 2FA, menggunakan aplikasi yang aman, dan sekuritasnya.

 

 

Salah satu pesan yang menarik adalah “Keamanan digital itu kolektif”, tidak hanya dilakukan oleh satu orang, namun dilakukan bersama dengan dukungan kebijakan yang kuat.

Tidak terasa 2,5 jam berlangsung dengan serunya. Semua peserta kami pastikan mendapatkan insight yang diperlukan agar lebih aman berjejaring di perangkat digital.

Dua minggu ke depan kami akan melangsungkan kegiatan Bi-monthly Capacity Building yang ketiga. Teman-teman yang berminat untuk mengikuti acaranya, jangan lupa untuk selalu memantau informasi yang ada di kanal @wespeakuporg ya!

Ada satu pertanyaan reflektif yang dilontarkan Sakdiyah Ma'ruf kepada para peserta acara Puan Bersua(ra) di Yogyakarta.

"Berapa banyak sih orang yang bisa secara tulus merayakan keberhasilan yang diraih perempuan?"

Sakdiyah memimpin salah satu sesi "The Proudest Moment" di acara Puan Bersua(ra).  Ia bilang, saat perempuan mengalami kegagalan, mereka memiliki sedikit tempat untuk mengungkapkan perasaannya. Bahkan lebih sedikit lagi tempat untuk mereka berbagi kesuksesan.

Karena itu, WeSpeakUp.org mengadakan acara Puan Bersua(ra). Untuk menyediakan tempat bagi para penggerak perempuan agar saling berbagi dan merayakan pencapaian mereka.

Dilaksanakan di Yogyakarta tanggal 11-15 Desember 2024, acara Puan Bersua(ra) mempertemukan 21 pegiat perempuan lintas isu dari berbagai organisasi, usia, dan daerah di Indonesia.

Selain alumni program She Creates Change dan We Create Change, WeSpeakUp.org juga mengundang perwakilan organisasi masyarakat sipil untuk turut berpartisipasi sebagai peserta. Di antaranya Kawula17, Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, Rifka Annisa Women Crisis Center, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), dan Institute for Criminal Justice Reform (ICJR).

Tujuannya, agar para peserta bisa terhubung dan berkolaborasi dengan organisasi lain, untuk mengangkat isu sosial yang mereka ingin dorong.

Melalui acara ini, WeSpeakUp.org ingin mengajak peserta untuk bersama-sama mengambil jeda, berefleksi, memperkuat kapasitas, jaringan, dan ketahanan/resiliensi. Agar dapat saling memberi dukungan dan membangun gerakan kolektif.

Ani dari Biyung yang merupakan alumni program She Creates Change (SCC) menyampaikan,

“Puan Bersua(ra) kali ini menjadi momen refleksi dan melihat kembali proses perjalanan kami sejak 2019 sampai hari ini menambah amunisi dan recharge (energi) untuk fokus pada misi. 2019 banyak membuat mimpi yang besar, ternyata dalam perjalanannya dengan ilmu yang didapat dari SCC pertama kita bisa belajar untuk membuat strategi yang baik, dan hari ini kami merasa bahwa dengan mengikuti program hari ini bisa berefleksi bahwa mimpi yang disebut dari 2019 terwujud karena strategi yang lebih tepat. Dan pilihan-pilihan yang tidak mengawang tapi justru lebih menapak dan lebih realistis."

Di acara ini, peserta diajak untuk mengapresiasi tiap momen dalam aktivisme mereka, memahami dan menerapkan mindfulness dalam rutinitas sehari-hari mereka sebagai perempuan yang memegang banyak peran. Acara ini juga mengenalkan tentang collective care, di mana peserta dapat saling mendukung untuk memperkuat gerakan mereka.

Sabine, salah satu peserta dari Rifka Annisa Women Crisis Center menyampaikan “Perasaanku campur aduk, karena perasaan kita digali sebagai person, sebagai caregiver, sebagai orang yang bekerja di suatu isu. Jadi aku memaknai pertemuan ini sebagai care of caregiver secara kolektif. Kita diajak untuk melihat kembali ke dalam diri kita, untuk melihat dan memulai untuk peduli kepada diri sendiri terlebih dahulu sebelum peduli kepada orang lain."

 

Hal yang tidak kalah seru, adalah kehadiran tim Wardah yang menjadi mitra komunitas di acara Puan Bersua(ra). Tim Wardah hadir untuk memberi dukungan bagi para peserta untuk bisa mengambil waktu untuk self care. Merawat diri menjadi salah satu hal yang bisa dilakukan peserta untuk merilis stres, juga bentuk cinta dan perayaan terhadap eksistensi diri.

Peserta juga diajak untuk menguatkan kapasitasnya dalam menyuarakan isu mereka melalui materi kampanye dan storytelling. Peserta diajak untuk memahami dasar-dasar penceritaan yang menjadi kekuatan kampanye yang berdampak yang harapannya akan dilakukan secara kolaboratif berdasarkan isu area yang ingin disuarakan.

Chaus dari WALHI Nasional, yang juga alumni She Creates Change, menyampaikan,

“Ini adalah momen penting di akhir tahun 2024 untuk mencoba membangun kolaborasi. Saya dari WALHI menyadari bahwa kerja-kerja advokasi dan kampanye untuk lingkungan hidup di Indonesia itu tidak bisa dikerjakan sendirian, jadi mesti harus berjejaring, membangun gerakan kolaboratif bersama, bersuara bersama untuk menuju perubahan yang kita harapkan, dengan adanya WeSpeakUp.org saya berharap kerja-kerja kita dalam membangun kesadaran."

Pasca-pelaksanaan Puan Bersua(ra), harapannya para pegiat perempuan dalam forum ini dapat secara kolaboratif mengimplementasikan kampanye dan gerakan-gerakan yang sudah direncanakan bersama.

WeSpeakUp.org berkomitmen untuk mendampingi rekan-rekan pegiat isu sosial untuk memperkuat kampanyenya. Ke depannya, WeSpeakUp.org juga masih terus mengupayakan forum-forum perjumpaan dan penguatan kapasitas serupa dengan kelompok yang berbeda. Untuk terus menyebarluaskan semangat aktivisme dan mengamplifikasi suara-suara kelompok yang terpinggirkan.

Apakah kamu tertarik mengikuti acara selanjutnya?

 

Penulis:
Nafilah Safitri
Communication Officer, WeSpeakUp.org

Pada Sabtu, 9 November 2024 lalu, WeSpeakUp.org bersama dengan KBR Media menyelenggarakan Talkshow #AllYouCannotEat “Orang Muda Bicara Pangan” di sekretariat Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Jakarta Selatan.

 

Acara ini adalah kelanjutan dari kampanye kami bertajuk #AllYouCannotEat, yang selama beberapa bulan ini sedang diamplifikasi oleh WeSpeakUp.org.

Kampanye ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran publik, terutama orang muda, tentang isu kedaulatan pangan yang kian hari memiliki tantangan yang makin besar. Hal ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah terhadap sistem pangan dan juga tantangan dari adanya perubahan iklim. Sehingga di masa depan, kita berpotensi tidak bisa lagi menikmati pangan-pangan lokal yang sebelumnya banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.

Di acara ini, kami mengundang pembicara dari orang muda untuk berbagi pengalaman dan berbagi perspektif terkait situasi kedaulatan pangan di Indonesia saat ini. Pembicaranya di antaranya dari Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL), Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), dan KBR Media.

Rizki Cahyani Nurani salah satu narasumber perwakilan KRKP, menyampaikan bahwa salah satu fakta tentang situasi pertanian di Indonesia, bahwa 62% petani di Indonesia merupakan petani gurem. Artinya mayoritas petani di Indonesia adalah petani kecil yang kepemilikan lahannya hanya sebesar 0.2 h.a. Dengan demikian, produk pangan yang dihasilkan juga produksi skala kecil. Penguasaan lahan oleh petani sendiri masih rendah.

Di sisi lain, penggunaan-penggunaan pupuk organik yang berasal dari keanekaragaman hayati juga masih minim. Hal ini juga mengakibatkan kebergantungan petani pada pupuk non organik yang distribusinya belum merata, dan berpotensi menghambat produksi pertanian yang berkelanjutan.

Sementara Hosiana Simamora dari World Resources Institute (WRI) yang merupakan bagian dari Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) menyampaikan bahwa problem lain dari permasalahan kedaulatan pangan di Indonesia adalah tingginya angka susut dan sisa pangan (food loss dan food waste).

Menurut kajian Bappenas, nilai susut dan sisa pangan mencapai 115-184 kilogram per kapita per tahun. Angka ini menyumbang banyak kerugian dari berbagai sektor seperti ekonomi, nilai gizi yang diserap oleh masyarakat dari pangan yang mereka konsumsi, serta meningkatnya gas metana yang berpengaruh terhadap efek rumah kaca dan pemanasan global.

WRI sejauh ini bersama KSPL, Garda Pangan dan Parompong bekerja sama dengan Bappenas mencoba Menyusun standar baku untuk menghitung susut dan sisa pangan yang diadopsi dari global.

Terkait posisi orang muda dalam isu pangan ini, masih dari apa yang disampaikan Hosi dari KSPL, orang muda menurut statistik tahun 2020 menempati separuh populasi dari masyarakat Indonesia.

 

Terlepas dari tantangan yang dihadapi saat ini di berbagai lingkup isu kedaulatan pangan, orang muda juga bisa menjadi peluang penggerak perubahan di berbagai sektor. Terutama di isu pangan.

Hal-hal sederhana seperti gerakan-gerakan dari media sosial juga bisa berdampak. Misalnya seperti mengunggah foto piring bersih dari sisa makanan setelah kita makan, bisa mendorong orang lain melakukan hal serupa untuk melahap habis makanan yang ada di piringnya, sehingga gerakan untuk tidak menyisakan makanan menjadi gaya hidup dan menjadi lebih massif.

Orang muda juga bisa diajak untuk berpikir dengan sistematis, bahwa peristiwa yang muncul di hadapan kita belum tentu menjadi masalah utama seperti fenomena gunung es.

Berpikir sistematis membuat kita dapat memahami akar dari sebuah permasalahan secara terstruktur. Misalnya kita bisa melihat alasan di balik banyaknya orang yang lebih memilih membeli makanan import yang lebih mahal atau sedang menjadi trend. Faktor kualitas dan kesehatan mungkin bukan menjadi alasan utama. Tapi ada faktor lain seperti masifnya iklan dan kebijakan terkait distribusi produk pangan import itu sendiri.

Beralih ke perwakilan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Ade, menyampaikan bahwa permasalahan kepemilikan lahan bagi petani memang masalah yang krusial. KPA sendiri saat ini memiliki mitra-mitra serikat petani yang menjadi dampingan untuk menghadapi konflik agraria yang banyak dihadapi petani lokal.

KPA, melalui gerakannya, menginisiasi Desa Maju Reforma Agraria (Damara). Yang bertujuan untuk mendorong terjadinya reformasi agrarian yang berkelanjutan, dan memulihkan ketimpangan struktur agraria di level desa. Mereka menggunakan mekanisme penanganan konflik dan menjadikan desa sebagai pusat produksi dan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan. KPA memberikan pendampingan untuk memperbaiki dan mengelola proses produksi hasil pangan agar dapat memiliki nilai jual lebih dan dapat didistribusikan secara lebih luas melalui koperasi Lanusa.

Di acara "Orang Muda Bicara Pangan" ini, kami juga memamerkan produk-produk yang dijual di koperasi Lanusa, sehingga peserta dapat melihat secara langsung. Harapannya, peserta yang hadir dapat mengetahui bahwa ada banyak produksi petani lokal yang juga berkualitas namun belum terjamah oleh pasar, karena kebijakan agraria yang belum berkeadilan dan pemasaran produk pangan yang masih dikuasai perusahaan besar.

(Lihat di Ragam Produk Pangan Lokal di "#AllYouCannotEat Orang Muda Bicara Pangan")

Dari berbagai masalah dan upaya-upaya yang sudah dikemukakan terkait dengan kedaulatan pangan hingga kepemilikan lahan, dalam diskusi ini kita juga mendengar bahwa ada bentuk upaya lain untuk menyuarakan isu pangan agar lebih mudah dipahami dan disadari masyarakat. Salah satunya melalui kampanye di media.

Dalam hal ini, KBR sebagai salah satu media yang bergerak dalam berbagai format, kemudian menginisiasi terbentuknya podcast Planet Plate yang mengangkat resep-resep pangan lokal tertentu. Nafisa sebagai Assisten Produser podcast ini menyampaikan bahwa Planet Plate hadir tidak hanya untuk berbicara tentang resep pangan lokal yang jarang dikenal oleh masyarakat, namun secara eksklusif hadir dengan format yang menarik dan santai.

 

Tidak hanya sekedar berbincang, podcast ini direkam sambil memasak bersama chef. Sambil memasak, narasumber juga akan bercerita tentang sejarah maupun perjalanan makanan yang yang sedang dimasak sehingga bisa terhidang sampai di piring kita. Termasuk konflik-konflik yang terjadi di balik sejarah makanan lokal yang sedang diolah.

Dari podcast ini, Planet Plate ingin berbagi dengan pemirsanya, bahwa kisah di balik panganan yang sampai ke piring kita seringkali tidak sederhana. Planet plate juga ingin menyampaikan ke masyarakat bahwa kita di Indonesia sangat memiliki kekayaan budaya pangan sehingga kita tidak perlu mengalami krisis pangan.

Yang menjadi tugas kita bersama adalah, bagaimana menjadikan pangan lokal ini sebagai gaya hidup yang tak kalah mengakar dengan makanan-makanan internasional yang sedang menjadi tren dan lebih banyak dikenal oleh generasi yang lebih muda.
Kita harus berani berinovasi dan tidak “gatekeeping” atau membatasi resep lokal yang jika diolah justru bisa menjadi menu baru yang digemari.

Ternyata ada banyak hal dari isu pangan yang masih perlu menjadi perhatian kita bersama, tidak hanya sama-sama bersuara untuk kebijakan yang berkeadilan bagi tiap unsur yang ada dalam sistem pangan, namun juga perlu adanya keterbukaan dan kolaborasi dalam menguatkan budaya pangan lokal kita.

Sekarang, kita kembali lihat dapur dan piring kita bersama, seberapa lokal makananmu hari ini?

 

Penulis:
Nafilah Safitri
Communication Officer, WeSpeakUp.org

Si Kancil sering berhasil lolos, tapi kali ini tak lagi. Berani kukatakan begitu, karena dalam tragedi tumbangnya si Kancil, aku adalah salah satu saksi. Belakangan, Debu berdesir masuk Balai Desa, membawa berita dengan isak mengiringi. Ia mendesis, “Di tengah jalan, si Kancil tertelungkup, mati.”

Gelegak amarah berakar di kakiku, tumbuh makin lama makin tinggi. Batang-batang berdurinya membeliti sekujur tubuh. Menusuk. Mengimpit kediaman yang selalu kupertahankan sejak awal mula aku berdiri. Ujung batang emosi itu telah sampai di puncak kepalaku, mengintrusi pengendalian diri. Ia memeras pundi-pundi kesabaranku sampai tak berisi.

“Seandainya aku bisa bersaksi”

***

Jika bisa bersaksi, pasti senyum telah melintang di wajahku, kala satu telinga menyerap celotehan anak-anak menanggapi sang guru PAUD berdongeng dengan ekspresif dan ceria. Si Kancil dan Buaya, judul dongengnya.

“Setelah berhasil lolos dari kejaran Anjing piaraan Pak Tani, si Kancil tiba di tepi sungai. Sungai itu terlihat sangat, sangat dalam. Si Kancil berpikir bagaimana caranya ia bisa menyeberang.”

Ah, aku melihat jelas binar-binar berbintang di mata-mata lugu itu. Jalinan kata-kata sang guru berhasil menyeret kepala-kepala mungil itu ke adegan saat para buaya tertipu.

“Dengan lincah, dilompatinya punggung-punggung para buaya”

Beberapa anak bersorak, seolah heroisme si Kancil terpampang jelas di hadapan. Sang guru lalu melanjutkan ke bagian simpulan.

“Si Kancil memang kurus, tapi otaknya sangat cerdas.”

Ingin aku terkekeh karena geli. Sejak kapan kondisi fisik dan kecerdasan pantas untuk dijadikan kontradiksi? Setahuku, melalui pengamatan yang sering kulakukan, kondisi fisik tak bertalian dengan inteligensi. Senyumku memudar kala telingaku yang lain menjala suara derap kaki mengarah ke ruang di lain sisi. Umpatan-umpatan kasar meningkahi celotehan anak-anak yang langsung meredup dan mati.

Apa yang terjadi? Aku tak pernah tahu sampai para buaya menjelma nyata di hadapanku, dengan si Kancil terikat tali. Para buaya itu berdiri di atas dua kaki, matanya merah, dan mulutnya menggerung-gerungkan serapah.

Ketika si Kancil diseret dan diempaskan ke lantai ruangan, anak-anak dari ruang sebelah mengintip dengan raut pasi. Antisipasi bergolak di dalam kelenjarku, hingga tersekresi dalam wujud serupa ngeri. Titik-titik keringat kurasakan bersembulan di atas bibir dan dahi.

Kuperhatikan bahwa pertarungan ini tak imbang. Si Kancil sendirian dan terikat erat, sedang para buaya begitu riuh berbekal berbagai senjata, dari yang tumpul sampai tajam. Dari batu seukuran kepala, pentungan kayu, gergaji, sampai alat canggih berupa setruman. Aku tak paham, bukankah si Kancil ditakdirkan selalu lolos dari ancaman?

Bukankah si Kancil, berbekal kecerdasan, selalu berhasil menipu semua binatang? Adakah kecerdasannya mulai berkurang? Atau para buayalah yang makin banyak akal?

Otakku tercengkeram beku ketika erangan si Kancil memenuhi ruangan. Kecupan alat penyetrum merabai seluruh tubuhnya, mengejangkan otot-ototnya, dan berakhir dengan lenguh kesakitan.

Sudut mataku mengabadikan teror yang membayangi wajah-wajah yang mengintip dari luar ruangan. Tangan sang guru membekap mulut, menahan lesatan jerit ketakutan. Mungkin juga ia tak percaya bahwa si Kancil bisa terkalahkan. Ditariknya cepat-cepat anak-anak didikannya, yang beberapa sudah meraung-raung ketakutan.

Para buaya seolah tak terganggu sama sekali. Juga tak peduli, meski tahu bahwa adegan itu tak layak masuk dalam pedagogi. Apalagi dipertontonkan di depan anak-anak belia yang baru saja memuja heroisme si Kancil.

Setelah sang guru dan anak-anak PAUD itu berlari pergi, tinggal aku sendiri sebagai saksi. Kediaman nyaris membuatku transparan.

Tubuh kurus si Kancil menggelepar, mengejang, lalu terdiam. Lalu mengejang lagi ketika tersentuh setruman. Salah satu buaya mengumpat kesal saat mendapati mata si Kancil masih menantang nyalang. Lalu, tanpa sadar kutahan napas ketika untuk pertama kalinya kudengar si Kancil berbicara, suaranya bak gesekan mata celurit di muka aspal jalan.

“Heh, Boyo-boyo, aku gak wedi mbok pateni!” (*Hai, Buaya-buaya, aku tidak takut kamu bunuh!)

Selarik kalimat itu telah menyetrum saraf kesabaran para buaya. Salah satu dari mereka melompat, lalu menendang, menggampar sisi-sisi tubuhnya dengan cakar. Buaya lain menimpali, “Menengo cangkemmu!” (*Tutup mulutmu!), sembari menukik di atas leher si Kancil.

Sengatan pilu merobek-robek kelindan udara yang terjalit rumit melingkupi seisi ruangan. Gigi-gigi cakar si buaya menggores leher si Kancil, meninggalkan jejak nyeri di sekujur penglihatanku, yang terbenam pada tetesan darah yang mulai menginjak lantai. Cakarnya merobek kulit, lalu menyentuh pembuluh darah si Kancil sembari mengirimkan sinyal-sinyal pedih.

Sekali lagi, si Kancil meraung. Kudengar, ada segaris kesesakan napas yang tersendat dalam raungan itu.

Ajaib, mata si Kancil masih terbuka dan memercikkan sekilas pandangan berbau anyir padaku. Tungkainya menendang-nendang, seolah mengumumkan bahwa ia masih melakukan perlawanan. Meski napasnya bagai sehelai tali rafia yang helai-helainya telah rantas, ia tetap berjuang. Si Buaya terlihat gemas karena si Kancil tak mati jua. Dengan daging leher setengah menganga, tubuh si Kancil diseret ke luar ruangan.

Di lantai, tilas darah membekas. Tertancap dalam di sudut-sudut benak.

***

Saya mengerang, tapi tak mungkin terdengar. Berpasang ban raksasa truk nyaris tiada jeda menginjak saya, hingga remuk tulang-tulang. Pola bannya menggores-gores sekujur tubuh saya, sebelum pola ban truk lain meningkahinya dengan yang baru.

Bibir abu-abu saya tak bisa lagi tersenyum seperti sedia kala. Tak lagi, sejak cakar backhoe menikam sudut bibir saya hingga lebam, robek, dan bernanah. Tak berhenti di situ. Cakarnya mulai mencuili bibir sedikit demi sedikit, hingga saya tak berbibir lagi. Saya tak kuat membayangkan betapa menjijikkannya wajah saya!

Hari berikutnya, backhoe yang dikemudikan buaya itu kembali lagi. Kini cakarnya mengincar perut saya. Saya tak bisa lari, saya tak bisa sembunyi. Tubuh saya terpapar seluruhnya, seolah mengundang untuk digagahi. Ketika cakar itu mulai mengerat kulit perut saya, beberapa truk telah datang mengantri. Saya tahu, mereka menanti diberi asupan timbunan jeroan perut saya.

Saya mengerang, tapi tak ada suara menjelma. Cakar itu mengenai organ dalam tubuh saya, lalu mengeruk seluruhnya dalam sekali libas. Air yang sedari tadi saya tahan, akhirnya terbit di sudut-sudut mata.

Cakar itu membayang di atas saya, lalu melayang turun lagi. Sisa-sisa perut saya dikeruknya, demi mengenyangkan bak truk terbuka. Mual berbual di pangkal tenggorokan. Akhirnya muntahan tersembur dari perut saya yang terbuka. Belakangan, ketika truk-truk dan backhoe itu telah pergi, si Kancil mendapati perut dan mulut saya telah tergenang oleh air laut.

Belakangan, genangan air di lubang-lubang pada tubuh saya itu makin meluas. Lubang-lubangnya makin banyak, dan air laut mencium batas sawah. Belakangan, si Kancil datang dan mendapati padi-padinya telah membusuk terkena limpasan muntahan.

Satu-satunya sumber nafkah si Kancil kocar-kacir. Belakangan, sawah si Kancil tersingkir, digantikan tempat parkir.

Wahai, siapa peduli akan wajah saya yang telah rusak?

Lalu, belakangan, sahabat si Kancil juga mendapati wajah saya sudah terlalu bopeng untuk bisa menjadi sandaran perahunya. Ia tak bisa lagi melaut untuk mencari ikan, seperti biasa.

Wahai, siapa peduli akan lubang-lubang di tubuh saya?

***

Berbulan-bulan kemudian, bagian-bagian tubuh saya telah tercerai-berai oleh rongga-rongga berisi air. Mata saya, untunglah masih bisa melihat sekeliling, menangkap sepasukan manusia yang dipimpin si Kancil, mendatangi gerombolan buaya yang tengah mengeruk sisa-sisa tubuh saya, seperti biasa. Selembar spanduk besar diangkat tinggi-tinggi, bertuliskan “Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Desa Selok Awar-awar menolak penambangan pasir ilegal”.

Harapan mulai terbit di benak saya. Mungkin mereka bisa menghentikan deruman mesin backhoe dan langkah-langkah truk yang setiap hari melindas tubuh saya. Tak kuasa saya menahan mencuatnya angan-angan, bahwa wajah saya akan bisa kembali secantik dulu. Bahwa tubuh saya akan bisa utuh seperti sebelumnya.

Seorang lelaki yang tak muda lagi, dengan kumis hitam melintang di atas bibir, berjalan mendekati si Kancil. Rupanya seperti tokoh Pak Raden dalam acara televisi Si Unyil, menurut saya. Para buaya, anak buahnya, meninggalkan pekerjaan mereka dan mengikuti langkah Pak Raden dengan ekor bergoyang-goyang.

“Ono opo iki, rame-rame?” (*Ada apa ini, ramai-ramai?) ujar Pak Raden, dengan suara berat yang dibuat-buat agar terdengar berwibawa.

“Tambang pasir ilegal iki wis ngrusak sawah warga Selok! Nelayan-nelayan yo podo gak iso nggolek iwak, mergo aktivitas Panjenengan lan boyo-boyo kuwi!” (*Tambang pasir ilegal ini sudah merusak sawah warga Selok! Nelayan-nelayan juga tidak bisa mencari ikan, karena aktivitasmu dan para buaya itu!) tuntut si Kancil, yang memang terkenal paling vokal.

“Kami menuntut agar penambangan ini dihentikan!” sambung yang lain.

“Tidakkah Panjenengan sadar, Watu Pecak wis rusak!”

Pak Raden terkekeh arogan. “Hei, bukankah sudah kubilang, bahwa ini adalah proyek wisata Pantai Watu Pecak? Ini demi kesejahteraan kalian semua!”

Jika bisa, pasti saya sudah menebaskan tangan ke wajah Pak Raden. Proyek wisata seharusnya memperindah, bukan malah merusak tubuh saya! Saya tak akan lupa akan apa yang telah saya lihat di hari-hari sebelumnya. Para buaya itu menyetorkan uang pada Pak Raden setiap kembali dari membawa truk berisi penuh dengan jeroan, daging, dan tulang saya.

Kata-kata isapan jempol Pak Raden ditanggapi dengan hujatan-hujatan dari pasukan si Kancil. Saat itulah, salah satu buaya maju sambil mengacungkan sebilah celurit, yang entah dari mana asalnya.

“Balik, ambil celuritmu, Kancil!” tantangnya pongah.

Si Kancil bergeming. Rautnya mengeras. “Saya tidak hendak main kekerasan, Buaya! Kekerasan hanya dilakukan oleh mereka yang berpikiran sempit dan picik.”

Dari arah belakang pasukan si Kancil, dua orang manusia berseragam datang dan melerai. Untuk sementara, pertarungan ditangguhkan. Saya mencibir nyinyir. Setelah si Kancil dan kawan-kawannya pergi, dua orang manusia berseragam itu menerima setumpuk uang dari Pak Raden sambil tersenyum lebar. Lebar sekali, melebihi lebarnya bibir saya sebelum direnggut oleh backhoe itu.

***

Selama dua minggu kemudian, truk-truk dan backhoe beroperasi seperti biasa. Kecemasan saya bergejolak, hingga menerbangkan jutaan debu dari yang awalnya melekat di sekujur tubuh saya.

Bagaimana kelanjutan perlawanan si Kancil? Mengapa para buaya tetap leluasa mengganyang potongan-potongan tubuh saya?

Hari itu, segerombolan debu kembali ke pelukan saya, dari berkelana ke penjuru desa.

“Di tengah jalan, si Kancil tertelungkup, mati,” bisik mereka.

Tubuh saya mengejang, debu-debu makin berempasan.

Mereka melanjutkan, “Pohon-pohon menjadi saksi, betapa tubuh si Kancil dirajam sepanjang jalan.”

“Pun si Dinding ruang Balai Desa menceritakan betapa si Kancil sangat kuat, bertahan hingga penghabisan,” lanjut mereka.

Wahai, Debu, saya ingin ikut berjuang sampai penghabisan seperti si Kancil. Namun, apa yang bisa saya lakukan? Saya hanyalah pasir abu-abu berbijih besi yang dulu indah menghampar di sepanjang tepi Pantai Watu Pecak. Dulu, dulu sekali.

 

Cerpen dibuat oleh:

Frida Kurniawati, Associate Campaigner WeSpeakUp.org

Selamat datang di Talkshow “#AllYouCannotEat: Orang Muda Bicara Pangan”, kudapanmu hari ini kita pilih sepenuh hati dan secara istimewa hadir ke piringmu. Yuk kenali isi piring kudapanmu hari ini!

 

  1. Ondol

Ini dia “bintang tamu” piring kudapanmu hari ini. Perkenalkan, namanya Ondol, jauh-jauh kami undang dari Banjarnegara, Jawa Tengah. Kudapan ini berbahan dasar singkong, dan pas sekali dimakan dengan cocolan aneka sambal.

Di Banjarnegara sendiri, kudapan ini ternyata sudah mulai langka. Jadi, hari ini special sekali kita hadirkan ke piring kudapanmu. Kalau kamu mau coba buat di rumah dan ingin tahu lebih jauh tentang Ondol, kamu bisa ke tautan ini untuk membaca resep dan cara mengolahnya: Resep Ondol Banjarnegara

 

  1. Ubi Jalar (Ipomoea batatas)

Ubi jalar adalah salah satu tanaman umbi-umbian yang mudah ditemui dan bisa diolah jadi beragam makanan. Dan yang perlu kamu tahu, ubi jalar masuk ke kategori pangan superfood loh.

Ubi jalar mengandung banyak nutrisi yang diperlukan tubuh seperti antioksidan, vitamin dan mineral. Lebih jauh, dikutip dari USDA dalam secangkir atau sekitar 130 gram ubi jalar  mengandung kalori: 112, Lemak: 0,1g Sodium: 71mg Karbohidrat: 26g Serat: 3,9g Gula: 5.4g Protein: 2g. Mengganti sumber karbohidrat dengan ubi jalar untuk program dietmu cocok banget loh.

Di Indonesia, wilayah yang paling banyak menghasilkan ubi jalar adalah Jawa Barat, Jawa Timur, Papua, dan Jawa Tengah. Ubi jalar juga dijual dengan harga yang sangat terjangkau.

 

  1. Talas (Colocasia esculenta)

Kamu suka minuman rasa taro? Kalo iya, taro yang kamu minum itu adalah nama lain dari Talas. Iya, sebetulnya minuman gurih manis warna ungu rasa taro itu… Ya … rasa talas. Kalau kamu tinggal di wilayah Jabodetabek, mungkin kamu pernah dengar kalau talas sudah melekat banget namanya sama wilayah Bogor. Tapi sebetulnya, talas juga ditemukan di banyak wilayah lain di Indonesia loh. Di wilayah lain, talas punya banyak nama lokal seperti bolang atau taleus (Sunda), kladi, tales, candung (Bali), dan uju bima (Flores).

Kandungan gizinya? Wah jangan ditanya lagi. Talas punya segudang manfaat seperti antioksidan, vitamin A, C, B. Termasuk juga mineral seperti tembaga, mangan, seng, magnesium, kalsium, besi, selenium, potasium, beta-karoten dan cryptoxsantin yang bisa memperlambat penuaan.

 

  1. Labu Parang (Cucurbita moschata)

Buah yang identik sama perayaan Halloween ini biasanya diolah buat berbagai macam makanan loh, bisa untuk lauk, pengganti nasi, jadi bahan makanan untuk kue, juga bahan makanan yang bagus untuk bayi yang sudah memasuki proses MPASI.

Labu parang memiliki banyak sekali kandungan vitamin dan mineral yang bermanfaaat buat tubuh kita. Salah satu unggulannya, labu memiliki kandungan beta karoten yang bisa mencegah rabun. Buat kita yang dalam kesehariannya sering banget terpapar gadget dan punya screentime yang Panjang, makan labu jadi salah satu cara jitu buat menjaga mata lebih sehat (tapi screen-timenya juga harus dikurangi ya).

 

Nah itu dia hidangan special kita hari ini, selamat menikmati! Jangan lupa isi perutmu sebelum mengikuti bincang-bincang seru tentang pangan lokal kita!

 

Penulis:
Nafilah Safitri
Communication Officer, WeSpeakUp.org

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram