“Saya baru pertama kali ikut acara yang juga dihadiri oleh kelompok disabilitas. Bertemu dengan Kak Hadija (peserta dari kelompok disabilitas), membuka mata saya bagaimana disabilitas itu bisa berdaya, karena di kampung kami di (Kecamatan) Kulawi, kelompok disabilitas masih belum mendapat perhatian.”
Begitu kata Uto – salah satu peserta Program Muda Bersua(ra) – di penghujung malam apresiasi, penutup acara Muda Bersua(ra) Batch #1 di Sulawesi.
Berkenalan dengan Kelompok Disabilitas di Muda Bersua(ra)
Awal Mei lalu, tepatnya tanggal 07-11 Mei 2025, WeSpeakUp.org mengundang organisasi dan komunitas lokal di regional Sulawesi dalam Program “Muda Bersua(ra)”, yaitu serangkaian pelatihan kampanye sosial dan seni bercerita (storytelling) bagi penggerak muda lintas isu dari berbagai daerah di Sulawesi.
Muda Bersua(ra) dibuka dengan pelatihan residensial selama 4 hari yang diikuti oleh 22 penggerak muda terseleksi dari berbagai wilayah di Sulawesi. Rangkaian acara ditutup dengan Coaching Clinic, sebuah talkshow yang menghadirkan narasumber berpengalaman di bidang jurnalisme dan kampanye sosial untuk memperkuat jurnalisme warga di Palu.
Salah satu poin menarik dari kegiatan ini, Muda Bersua(ra) tidak hanya menjadi ruang berkumpul para penggerak muda berdasarkan kelompok usia yang sama, namun juga menjadi ruang aman untuk penggerak muda dengan ragam identitas kelompok rentan yang berbeda, salah satunya kelompok disabilitas.
Kehadiran Hadija, sebagai perwakilan kelompok disabilitas dari Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Sulawesi Selatan yang juga bagian dari Perempuan Bumi, serta keikutsertaan Ical, salah satu changemakers We Create Change yang juga aktif menjadi tenaga pendidik di Sekolah Luar Biasa (SLB), memberi perspektif dan warna tersendiri bagi sebagian besar penggerak muda Sulawesi yang selama ini lebih banyak fokus terhadap salah satu ancaman terbesarnya, yaitu isu keberlanjutan lingkungan.

Hal ini kemudian menginspirasi penggerak muda yang turut aktif dalam pemberdayaan komunitas seperti Uto dari Libu Muda untuk belajar lebih banyak tentang isu disabilitas, serta melibatkan kelompok disabiltas dalam kerja-kerja komunitasnya.
Muda Bersua(ra) jadi Ruang Aman Bersama
Tidak hanya menjadi ruang belajar dan berkenalan lintas isu, Muda Bersua(ra) juga menjadi ruang aman bersama untuk memvalidasi perasaan dan emosi yang keluar dari satu sama lain tanpa memandang gender. Muda Bersua(ra) diikuti oleh peserta dengan jumlah peserta laki-laki lebih banyak dibanding peserta perempuan. Dengan jumlah total peserta laki-laki 13 orang dan peserta perempuan 9 orang. Namun dengan perbandingan jumlah tersebut, tidak menjadikan peserta jadi saling menghakimi atas ekspresi masing-masing.
Salah satu sesi dalam Muda Bersua(ra), yaitu sesi “Story of Self” mengajak peserta untuk menceritakan momen-momen membanggakan dalam proses hidup masing-masing. Baik dari sisi pekerjaan, aktivitas bersama organisasi dan komunitas, maupun pencapaian personal. Dalam prosesnya, tidak jarang peserta merasakan haru dan empati yang mendalam saat berbagi cerita. Komposisi peserta yang lebih banyak laki-laki dalam suatu forum, biasanya cenderung kaku untuk mengekspresikan rasa haru dan empatinya.
Namun, yang terjadi di Muda Bersua(ra) di Palu justru berkebalikan. Peserta saling mendukung dan memberi ruang untuk setiap emosi yang keluar baik dari peserta laki-laki maupun perempuan. Entah itu ekspresi bahagia, haru, simpatik, sedih, juga kemarahan. Seluruh bentuk emosi itu diberi ruang yang luas untuk disuarakan.
“Nangis saja, keluarkan saja …” begitu ucap teman-teman peserta ketika peserta lain sedang bercerita tentang momen kebanggaannya.

Dari Ruang Aman Menuju Kampanye Kolaboratif
Setelah empat hari penuh refleksi, pertukaran perspektif, dan pertemanan yang tumbuh, peserta Muda Bersua(ra) tidak pulang dengan tangan kosong. Mereka melanjutkan proses dalam ruang aman dengan membangun kampanye kolaboratif, yang menjadi wujud konkret dan solidaritas yang telah dirajut.

Kampanye kolaboratif ini bukan sekedar produk dari pelatihan, tetapi menjadi medium untuk bergerak bersama, memperkuat jaringan, mempertajam strategi, dan memastikan bahwa suara-suara penggerak muda Sulawesi tak hanya terdengar, tetapi juga menggema lebih luas.
Simak juga rangkaian keseruan Coaching Clinic Muda Bersua(ra) di Palu di sini
Penulis:
Nafilah Safitri
Communication Officer, WeSpeakUp.org



