
Hilangnya sesuatu sering kali membuat kita menyadari betapa berharganya hal itu. Di Papua, kehilangan bukan hanya soal tanah dan hutan, tetapi juga tentang kehidupan, tradisi, dan jati diri.
Iren Fatagur, seorang perempuan muda Suku Marab dan community organizer Kabupaten Keerom, Papua, menjadi saksi dan sekaligus pejuang tanah adatnya. Cerita hidupnya adalah potret nyata tentang bagaimana proyek pemerintah dan perusahaan besar mengancam alam dan budaya masyarakat adat.
Kehilangan yang Membekas
Iren dibesarkan di Kampung Yamara, yang terletak di tanah adat Suku Marab. Tanah ini tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sumber kehidupan dan identitas bagi masyarakat kampung.

Bagi Iren, kehilangan ini bukan hanya tentang tanah yang berpindah tangan. Ia juga kehilangan ayahnya, seorang pejuang tanah adat, yang meninggal saat memperjuangkan hak-hak masyarakat.
Kepergian ayahnya di usia 19 tahun menjadi titik balik dalam hidup Iren. Saat itu, ia mulai memahami bahwa perjuangan ayahnya adalah untuk melindungi masa depan generasi muda Papua, termasuk dirinya.
Hutan yang Menghilang, Tradisi yang Terkikis
Iren menggambarkan bagaimana kehidupan kampungnya berubah drastis sejak hutan mereka diambil alih. Dulu, sungai-sungai di kampung penuh ikan dan airnya jernih. Masyarakat hidup selaras dengan alam, mengandalkan hasil hutan untuk makanan, obat-obatan, dan kehidupan sehari-hari. Namun sekarang, sungai-sungai telah dangkal, ikan menghilang, dan tradisi mereka perlahan terkikis.
Tradisi adat seperti ritual lima tahunan yang dulu menjadi bagian penting kehidupan, kini sulit dilakukan. Bahkan sumber utama ritual, seperti babi hutan, sudah sulit ditemukan karena habitatnya tergantikan perkebunan.
Selain itu, gaya hidup masyarakat juga berubah. Anak-anak lebih sering mengonsumsi makanan instan daripada makanan alami, dan masyarakat tidak lagi memanfaatkan ramuan hutan sebagai obat seperti generasi sebelumnya. Semua ini menunjukkan bahwa hilangnya hutan berimbas pada cara hidup, kesehatan, dan identitas masyarakat adat Papua.

Perjuangan Melawan Kehilangan Tanah
Tak ingin diam saja, Iren memutuskan untuk bergerak. Ia bergabung dengan Papuan Voices, sebuah organisasi yang mendukung upaya masyarakat adat dalam menjaga hutan dan tanah mereka. Bersama organisasi ini, Iren melakukan berbagai pendekatan, mulai dari edukasi warga hingga berdiskusi dengan pemerintah.
Namun perjuangan ini penuh tantangan. Tidak hanya menghadapi tekanan dari mereka yang lebih berkuasa, Iren juga sering diremehkan karena ia perempuan.
Iren menceritakan pengalaman bertemu dengan anggota dewan yang berusaha membungkamnya.
"Saya pernah bertemu seorang anggota dewan yang bilang ke saya biar jangan bersuara karena ini proyek presiden. Katanya, perempuan seharusnya tidak berbicara tentang hal semacam ini. Apalagi laki-laki sudah membuat keputusan. Ini sudah abad ke-21, tapi budaya patriarki masih saja ada. Karena saya perempuan, apakah saya tidak pantas bersuara? Di momen itu, saya merasa marah. Tapi di balik amarah itu, saya jadi semakin bertekad," kata Iren,
Alih-alih menyerah, pengalaman ini justru menyalakan semangat Iren untuk melawan dan terus bergerak.
Salah satu proyek yang menjadi perhatiannya adalah program food estate. Kampung Yamara, kampungnya sendiri, masuk dalam peta proyek ini. Rencana besar yang akan mengubah tanah adat mereka semakin memotivasi Iren dan warga kampung untuk melakukan penolakan.

Mengorganisasi Perlawanan dan Berdaya Bersama
Iren tidak sendiri dalam perjuangan ini. Ia mengorganisir kelompok masyarakat, termasuk komunitas mama-mama Papua, seperti Manda, Mayapa, dan Vuyamor. Perempuan Papua menjadi tulang punggung perjuangan di Keerom, sebab mereka adalah pihak yang paling terdampak ketika hutan dan tanah hilang.

Mama-mama Papua mulai bergerak. Mereka merawat lahan bersama, menanam tanaman lokal, dan belajar memahami pasar agar hasil panen mereka dapat dijual. Tidak hanya itu, mereka juga membangun solidaritas yang kuat, membantu sesama perempuan yang mengalami kesulitan. Perjuangan ini berhasil mengubah peran perempuan, baik di keluarga maupun masyarakat. Kini, mama-mama Papua berdaya, bersuara, dan ikut ambil keputusan dalam komunitas mereka.
Harapan di Tengah Perjuangan
Perjuangan Iren dan masyarakat Papua masih jauh dari selesai. Namun apa yang telah dicapai menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin. Iren percaya bahwa generasi muda adalah penerus perjuangan orang tua mereka.
Untuk menjaga Papua, tidak cukup hanya mengandalkan masyarakat lokal. Mereka membutuhkan dukungan dari seluruh rakyat Indonesia.
Melalui kisahnya, Iren ingin menyampaikan pesan kepada semua orang: Papua bukan tanah kosong. Tanah adat ini adalah rumah bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada alamnya.

Iren, bersama teman-temannya di Papua, tidak meminta lebih, mereka hanya ingin menjaga tanah yang menjadi warisan nenek moyang mereka. Karena ketika tanah hilang, maka hilang pula identitas mereka sebagai masyarakat Papua.
Mari dengarkan suara mereka. Bantu perjuangan mereka. Izinkan mereka menjaga tanah dan hutan mereka. Agar kita tidak hanya melihat Papua sebagai tanah yang penuh potensi ekonomi, tetapi juga sebagai rumah bagi budaya dan kehidupan yang hidup berdampingan dengan alam.
Penulis:
Dhenok Pratiwi
Direktur Kampanye WeSpeakUp.org