Anjar, Kearifan Suku Kajang dan Pertobatan Ekologis

Ketika pertama kali mendengar kata Suku Kajang, apa yang terlintas di benak? Masyarakat adat yang terkenal sangat konsisten menjaga kelestarian hutan, masyarakat adat yang mistis, berpakaian serba hitam yang tinggal di Sulawesi Selatan? Atau apa?

Ketika semesta mempertemukan WeSpeakUp.org secara langsung dengan Anjar, salah seorang Changemaker dari Bulukumba, keturunan asli Suku Kajang, kami mendengar lebih banyak cerita tentang suku tersebut dan nilai-nilai pelestarian lingkungan darinya. Kakek Anjar adalah seorang Suku Kajang yang tinggal di Kajang Dalam. Sementara perempuan penggemar kopi ini lahir dan besar di Kajang Luar. Nama yang diberikan padanya, berasal dari bahasa Bugis, Anjar Masiga. Anjar berarti terang, sementara Masiga artinya cepat.

"Cepat itu artinya mungkin orang tua saya berharap punya anak yang Gesit,” kata Anjar. Sementara terang, bukan terang warna kulitnya yang pasti, tapi terang karena memberi cahaya. Tapi saya tidak mau jadi cahaya seorang sendiri. Saya lebih suka kalau semua orang juga menjadi terang bersama-sama," imbuhnya dengan nada lebih filosofis, walaupun disampaikan sembari tersenyum.

Sebagai keturunan Kajang, yang sejak kecil terpapar kebiasaan ayahnya memilah sampah, juga kakeknya yang sering kali mengajarkan tentang bagaimana merawat hujan, serta filosofi Kajang tentang alam, Anjar merasa bahwa dia banyak terpengaruh akan hal tersebut. Dan pengaruh untuk berada di jalur pelestarian lingkungan ini terasa semakin kental ketika semesta membuatnya berpapasan dengan Yuri, seorang relawan dari JICA (Japan International Cooperation Agency), sebuah organisasi pemerintah dari Jepang, yang berfokus pada dukungan terhadap negara-negara berkembang.

Yuri adalah orang yang sangat konsisten dengan upaya-upaya mengurangi jejak karbon dari keberadaannya di bumi. Perempuan Jepang ini pergi kemanapun dengan berjalan kaki atau bersepeda, kecuali untuk jarak yang terlalu jauh, baru dia mau naik kendaraan umum. Dia selalu membawa botol plastik kemana pun, dan memungut sampah plastik yang ditemui di jalan. Hal-hal baik yang dilakukan Yuri, kemudian melekat dan diadopsi oleh Anjar.

 

Pertobatan Ekologis

Sejak masih remaja, Anjar selalu memilih kegiatan ekstrakurikuler yang tidak jauh-jauh dari lingkungan. Dia bergabung dengan Palang Merah Indonesia (PMI) sebagai Korps Sukarela (KSR) di Bulukumba. Sebagai KSR Anjar harus siapa kapanpun diminta ke lokasi bencana. Melakukan evaluasi, asesmen awal, pendataan korban, menyalurkan bantuan, semuanya dia pelajari sepanjang memerankan tugasnya sebagai KSR.

Selain itu Anjar juga bertugas untuk memberikan materi Ayo Siaga Bencana ke sekolah-sekolah, terutama SMP dan SMA. Di dalam materi yang diajarkannya pada murid-murid di sekolah tersebut, diantaranya adalah materi tentang bagaimana kita bersikap ramah lingkungan, menjaga alam, sebagai bentuk mitigasi bencana. Salah satu yang utama adalah pengendalian sampah plastik, pengurangan volume sampah, memilah dan mengompos, hingga menjaga pesisir dengan sabuk hijau, sebutan untuk hutan mangrove.

Sebagai orang yang tinggal di wilayah pesisir, menjaga pantai adalah hal yang mutlak harus dilakukan. Sayangnya upaya-upaya individu untuk melestarikan lingkungan seringkali tenggelam dan kalah oleh perbuatan baik korporat maupun manusia lain yang abai, dan justru dengan gencar merusaknya. "Di Bulukumba ini terus terang aku lagi sedih banget lihat kondisi pertambangan pasir liar. Bukan hanya merusak jalanan, tapi juga sudah pasti merusak ekosistem," tutur Anjar prihatin.

 

 

Anjar yang mengaku sempat frustasi melihat banyaknya tambang ilegal, pernah melakukan upaya demo bersama teman-temannya sesama penduduk setempat dan aktivis lingkungan, tapi apa yang terjadi? Penambang tanpa izin itu bergeming. Tentu saja mereka tidak takut pada demo yang dilakukan masyarakat, karena seperti praktik yang terjadi di banyak tempat, mereka mendapatkan perlindungan dari aparat dan pemerintah daerahnya.

Tambang ilegal itu baru salah satunya. Yang membuat Anjar dan kawan-kawannya lebih miris adalah pengelolaan sampah yang masih buruk. Tidak jarang dia menyaksikan anak-anak bermain layang-layang di atas tumpukan sampah. Bukan hanya tidak sedap dipandang mata, tetapi kondisi tersebut juga membahayakan anak. Selain mereka bisa terluka jika ada sampah yang tajam, tetapi juga potensi penyakit sangat mudah menyusup ke tubuh-tubuh anak.

Sebagai orang yang paham isu kebencanaan. Anjar tahu pasti bahwa ini hanya masalah waktu, ketika orang menormalisasi pengelolaan sampah yang buruk ini, maka bencana sedang mengintai di kemudian hari. Bulukumba sedang tidak baik-baik saja. Dia sedang sakit. Beberapa musim hujan terakhir ini, Bulukumba tidak lepas dari banjir. Melihat kondisi ini, Anjar merasa bahwa setiap orang adalah pendosa lingkungan. Jika ingin alam kembali lestari, maka setiap orang harus melakukan pertobatan ekologis.

 

Sampah adalah salah satu produk nyata manusia yang seharusnya bisa dikelola, tetapi karena abai, maka keberadaannya menjadi merugikan manusia sendiri. Dengan kesadaran atau yang disebutnya sebagai pertobatan ekologis, jika semua orang melakukannya, maka permasalahan sampah seharusnya bisa ditekan. Mengelola apa yang dikonsumsi oleh manusia adalah kuncinya. Memang tidak mudah menyatukan sudut pandang, tapi bukan berarti tidak bisa diupayakan dan tidak ada solusi sama sekali.

 

Pasang ri Kajang

Sebagai bagian dari Suku Kajang yang sejak kecil diajarkan untuk mengikuti aturan adat yang disebut Pasang ri Kajang, Anjar berharap dapat menularkan ajaran untuk menjaga lingkungan itu pada semua orang, setidaknya di lingkaran yang dikenalnya. Pasang ri Kajang yang berfokus pada lingkungan sebenarnya bermuara pada empat hal utama yang harus dijaga. Sungai tidak boleh diracun, udang tidak boleh diambil berlebihan, rotan tidak boleh diambil berlebihan, dan lebah atau madu yang tidak boleh diambil dengan cara dibakar atau diasapi.

Selain itu, Suku Kajang juga terkenal sebagai suku penjaga hutan yang patuh. Mereka tidak akan mengambil kayu di hutan secara sembarangan. Aturan adat secara ketat menerapkan ini. Bagi Suku Kajang, manusia dan hutan adalah sepasang entitas yang keberadan satu sama lain saling membutuhkan. Maka jika ada masyarakat Suku Kajang yang sampai kedapatan melakukan perusakan hutan, atau melanggar Pasang ri Kajang yang empat perkara tadi, ada sanksi serius yang akan diterapkan. Kehidupan sosial dan alam harus berjalan beriringan dan saling menjaga, demikian kepercayaan yang dipegang teguh oleh Suku Kajang.

Kesederhanaan adalah nilai yang dianut oleh suku tersebut. Ini tercermin dari pilihan warna pakaian yang dikenakan. Hanya warna hitam, baik untuk anak, orang dewasa, pemimpin, maupun masyarakat biasa. Hitam adalah lambang kesamaan derajat seluruh manusia di hadapan Tuhan, kekuatan, kesederhanaan, dan kesatuan segala sesuatu di dalam masyarakat yang hidup di dalamnya. Hitam juga lambang pengingat kematian. Setiap manusia akan kembali ke alam kegelapan di mana mereka berasal.

Perempuan penggemar snorkling ini membayangkan seandainya pada suatu saat seluruh manusia bisa mengimani nilai-nilai kesederhanaan yang diterapkan oleh Suku Kajang, maka rasanya bumi akan kehilangan satu masalah utamanya. Keserakahan. Banyak kerusakan terjadi di bumi bukan dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia, tetapi lebih pada pemuasan ego dan kerakusan mereka.

 

Kolaborasi Biru

Bagi Anjar, Bulukumba adalah rumah. Betapa kakinya ingin melangkah jauh mengelilingi bumi Indonesia, tetapi ketika ditanya dimanakah rumahmu, maka jawabannya jelas dan tidak pernah berganti. Bulukumba. Tanah kelahirannya, sebuah semenanjung di sisi utara Sulawesi Selatan yang dihiasi garis pantai nan indah, sebuah kabupaten yang merupakan rahim kapal Pinisi, beserta pelaut-pelaut hebatnya.

Anjar dan kawan-kawannya yang sama-sama berasal dari Bulukumba merintis sebuah komunitas bernama Kolaborasi Biru. Para relawan Kolaborasi Biru adalah orang-orang yang hobi snorkeling. Mereka bisa menghabiskan waktu nyaris sepanjang hari di permukaan laut, kemudian melakukan transplantasi karang. "Waktu awal itu kami bisa sampai tiga kali seminggu melakukan transplantasi karang. Snorkeling 4-5 jam tiap hari sudah biasa," tutur Anjar menceritakan aktivitasnya dengan sesama relawan Kolaborasi Biru.

Niat kami adalah untuk mewujudkan Bumi Bulukumba yang layak ditinggali saat ini, dan dikembalikan ke generasi yang akan datang dalam keadaan yang terawat. Bersama-sama mereka berupaya untuk memasyarakatkan perilaku ramah lingkungan dengan menyasar kelompok muda, mengembangkan jejaring untuk terus memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak. Program-program yang saat ini berjalan adalah program Merdeka dari Sampah, Jaga Ekosistem Laut, dan Edukasi Lingkungan.

Bumi tidak pernah memilih siapa yang akan hidup di atasnya. Tetapi selalu ada konsekuensi dari keberadaan kita tinggal di sebuah tempat. Anjar mengumpamakan bahwa saat ini kita adalah tamu yang sedang berkunjung jangka panjang ke negara lain. Kita membutuhkan paspor dan visa untuk bertamu. "Bagi saya peduli lingkungan itu seperti visa untuk bisa memperpanjang masa tinggal di bumi. Dan perusak-perusak itu sebetulnya adalah orang yang tidak layak tinggal di bumi. Visa mereka sudah habis masa berlakunya, dan mereka tidak memperpanjangnya!" katanya dengan tegas.

Manusia-manusia yang serakah selalu berpikir bahwa semua yang ada di bumi dapat mereka miliki dan manfaatkan sesuka hati, tanpa memikirkan kelestarian lingkungannya. Hanya karena bumi tidak bersuara dan memilih siapa yang akan tinggal di atasnya, bukan berarti bumi tidak akan bereaksi ketika kerusakan sudah tidak dapat diterimanya lagi. Banyak belajar tentang kebencanaan membuat Anjar tahu bahwa hanya soal waktu alam tidak akan bisa menanggung lukanya lagi, dan bencana besar itu akan datang. Kiamat iklim, dimana peradaban manusia sudah sedemikian runtuh, sehingga cuaca ekstrim, kelaparan, konflik, dan penyakit tidak dapat tertanggulangi lagi.

"Pertobatan ekologis akan membantu mencegah atau setidaknya memperlambat kiamat iklim, jika dilakukan bersama-sama, bukan hanya di level individu saja. Justru utamanya di tingkatan yang berkontribusi merusak bumi dalam skala lebih besar. Pertambangan, pabrik-pabrik yang menggunakan energi kotor, transportasi masif, dan masih banyak lagi," Anjar dengan semangat menyampaikan pendapatnya. Dan dia benar, jika kita semua masih mau tinggal di planet yang sama, maka pertobatan ekologis seluruh umat, wajib kita lakukan!

 

Tentang Penulis:
Dian Purnomo adalah seorang penulis dan periset yang memiliki perhatian khusus pada isu-isu sosial dan lingkungan. Klik untuk melihat profil lengkap Dian Purnomo.

Lihat artikel lainnya

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram