Linda Nursanti tidak pernah menyangka bahwa dunia film, terutama film dokumenter, pada akhirnya dia tekuni hingga kini.
Kembali ke masa kecil di Gresik, orang yang mengenalnya mungkin tidak akan percaya bahwa perempuan pemalu ini akhirnya akan memanggul kamera sebagai senjata perjuangannya. Perubahan itu terjadi ketika sebuah tugas mata pelajaran Sinematografi di SMA membuatnya bersentuhan dengan dunia film.
Tugas sinematografinya waktu itu adalah membuat film dokumenter tentang kehidupan seorang pemulung.
Linda adalah orang yang sering mengalami kesulitan berinteraksi dengan orang lain, terutama orang asing. Untuk mengerjakan tugas ini, mau tidak mau dia harus berusaha menggali cerita dari seseorang yang sama sekali tidak dikenal, untuk membagikan kisah hidupnya.
Di luar dugaan, narasumbernya bercerita panjang lebar, bahkan lebih dalam dari yang diperkirakannya di awal, hingga menangis. “Buatku itu terasa wow banget, Kak,” tutur Linda menceritakan pengalaman pertamanya melakukan pengambilan gambar. “Baru kali ini ada orang ngobrol sama aku sampai segitunya. Rasanya aneh, tapi aku menikmati proses itu.” Sejak saat itulah Linda merasa bahwa film akan menjadi dunianya.
Jurusan film di Institut Seni Indonesia Surakarta dipilihnya dengan berbagai konsekuensi, karena ayah Linda yang pegawai bank sejak awal mengarahkannya kuliah di jurusan teknik. Tapi belajar dari masa SMA, Linda merasa kewalahan karena dipaksa masuk IPA, padahal minatnya sendiri adalah ilmu-ilmu sosial, maka kali ini dia tidak mau menyerah begitu saja. Dia memilih apa yang dia sukai, bukan apa yang disukai orang lain. Meskipun orang tersebut adalah ayahnya.

Lakardowo Mencari Keadilan
Masa kuliah adalah masa transisi dan pencarian jati diri bagi banyak orang. Demikian juga dengan Linda. Sebagai mahasiswa jurusan film, dalam pencariannya beralih dari film dokumenter ke fiksi, lalu kembali ke dokumenter, dan beberapa kali berulang lagi. Hingga tugas akhir kuliah membawanya berkenalan dengan Desa Lakardowo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Warga Lakardowo kala itu sedang berupaya mencari keadilan, untuk memperjuangkan hak mereka atas lingkungan yang bersih dan sehat. Kondisi tanah, air dan udara mereka tercemar karena limbah B3 (bahan beracun dan berbahaya) yang dibuang oleh PT. Putra Restu Ibu Abadi (PT. PRIA) ke tanah yang ada di desa. Ratusan orang telah terdampak. Gatal-gatal di kulit, air sumur tercemar sehingga warga harus membeli air bersih untuk keperluan konsumsi dan mandi, belum lagi udara yang membuat mata pedas dan terasa seperti kelilipan.
Dua tahun Linda dan Mada – yang kemudian menjadi suaminya – mengikuti perjuangan warga Lakardowo. Dari mulai aksi di depan pabrik, aksi di depan kantor-kantor pemerintah daerah baik di tingkat desa hingga provinsi, bahkan sampai di tingkat nasional. Selama dua tahun tersebut, mereka berdua berakhir dengan sebuah karya yang luar biasa berjudul Lakardowo Mencari Keadilan.
Masa kuliah Linda dan Mada menjadi lebih panjang dibanding kawan-kawannya yang lain. Tetapi jika menyaksikan bagaimana film ini memberi dampak bukan hanya pada warga Lakardowo, maka dua tahun yang panjang itu jelas tidak terbuang sia-sia.
Selain mendapat nominasi Dokumenter Panjang Fitur Terbaik di Festival Film Indonesia 2018, Maya Award 2019, dan Dokumenter Panjang Fitur Terbaik di Borneo Environment Film Festival 2018, film ini juga menginspirasi banyak wilayah lain untuk juga menuntut keadilan.
“Waktu itu Lakardowo Mencari Keadilan diputar di Jembrana, Bali. Warga yang menonton kemudian sadar bahwa logo perusahaan mirip dengan logo sebuah perusahaan lain yang akan beroperasi di sana. Karena itu warga kemudian mencari tahu tentang perusahaan itu dan berusaha menolak,” papar Linda tentang salah satu dampak langsung film tersebut.
Selain itu di Lamongan juga ada pabrik pengolahan limbah. Warga yang menonton film ini kemudian mencari tahu lebih jauh, mengedukasi warga lain dan kemudian bersama-sama mengajak mereka untuk memprotes perusahaan, atas dampak buruk yang rupanya juga sudah mereka rasakan.
Dari sini penggemar warna hitam dan abu-abu ini berpikir, “Wah rupanya dengan membuat film aku bisa bermanfaat buat banyak orang. Hidupku jadi berarti dan nggak hanya sekedar hidup untuk mencari uang.” Film ini memang tidak spesifik mengajak orang melakukan perlawanan terhadap perusahaan, tetapi memancing kekritisan orang untuk mencari tahu apa yang terjadi di sekeliling mereka dan berani menuntut keadilan.
Memangnya Bisa Hidup dari Film?
Pertanyaan di aas sering dilontarkan orang ketika diberi tahu apa pekerjaan Linda dan Mada. Setiap kali mereka menyebutkan pekerjaan sebagai pembuat film, kening orang berkerut, seperti ada pertanyaan yang muncul di kepala, “Memangnya ada uangnya?” Pertanyaan tersebut sangat valid.
Sebagai pasangan muda, di saat kawan-kawan seangkatannya ditanya bekerja apa, dan mereka menyebutkan nama kantor atau instansi pemerintah tempatnya bernaung, pasangan ini menceritakan kalau mereka adalah pasangan seniman/pekerja film.

Penggemar berat gado-gado ini mengakui bahwa tantangan sebagai pembuat film memang adalah pendanaan. Film yang mereka buat selama ini memang tidak diputar secara komersial, sehingga tidak ada insentif keuangan yang masuk ke dalam kantong. Maka support dari donor memang menjadi sangat penting.
Selain itu yang juga sangat berarti bagi pasangan yang sedang menantikan anak pertama mereka adalah, dukungan dari keluarga. Orang tua Mada yang petani dan peternak mengajarkan pada anak dan menantunya untuk mencukupi kebutuhan pangan dari kebun dan kandang sendiri. Di akhir pekan mereka berdua pulang ke desa untuk membantu mengurus kebun dan ternak. Di hari-hari kerja mereka berkolaborasi untuk meramu karya-karya berikutnya.
Menemukan pasangan yang se-vibe dengan dukungan keluarga di belakangnya, bagi Linda adalah rezeki yang tidak dapat ditukar dengan mata uang apapun. Sebagai tambahan, Linda juga membangun usaha sosial bernama Arthup.id. Arthup (singkatan dari art of hope) merupakan gerakan kolaborasi seni bersama penyandang disabilitas mental. Dari hasil kegiatan menggambar bersama ini, karya-karya yang ada kemudian diolah menjadi merchandise seperti kaos, tas jinjing, patch emblem, poster cukil dan stiker.

Lihat produk-produk Artup di Lapak hijau Linda ini: wespeakup.org/lapak-hijau
Usaha sosial ini juga tidak datang dari ruang hampa. Waktu itu Linda dan suami sedang dalam proses pembuatan film berjudul A Fish and A River, yang bercerita tentang kehidupan disabilitas mental di Desa Bacem yang inklusif di Blitar. Di desa yang terletak di Kecamatan Ponggok ini, banyak warganya yang mengalami disabilitas mental. Solusi yang diambil oleh keluarga yang memiliki cukup biaya adalah dibawa dan dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Sementara yang tidak memiliki sumber dana, biasanya berakhir dengan melakukan pemasungan.
Seorang kawan Linda dari jurusan DKV membuat program di desa tersebut yaitu terapi seni, dengan mengajak para disabilitas mental menggambar. Rupanya gambar-gambar tersebut bagus-bagus dan memiliki makna yang cukup dalam. Dari sinilah bisnis ini bermula. Kepala desa Bacem ini sangat progresif, selain memberikan ruang untuk terapi seni, dia juga memikirkan kesejahteraan warga disabilitas mental dengan memberikan sembako pada mereka.
Perlahan-lahan ketika masyarakat sudah dapat menerima, pekerjaan sederhana mulai mereka dapatkan, seperti memotong rumput, menyapu halaman, potong bambu, dan pekerjaan-pekerjaan semacam itu.
Di Bacem juga anak-anak sudah sangat familiar jika ada orang dengan disabilitas mental lewat. Tidak terdengar olok-olok yang semakin menstigma mereka. Hal ini yang dipotret oleh Linda dan Mada menjadi sebuah film.
“Kadang aku tuh capek kalau lihat film dokumenter isinya cuma keluhan. Ini termasuk otokritik buatku ya,” katanya memaparkan. “Makanya melihat dan menjadi bagian yang mendokumentasikan upaya menghapus stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan disabilitas mental di Bacem ini, buatku adalah sebuah pencapaian tersendiri.”
Linda berharap ada wilayah lain yang memiliki masalah serupa dapat belajar dari Bacem. Orang dengan disabilitas mental tidak menginginkan terlahir atau mengalami gangguan mental seperti itu. Menerima mereka, memberi ruang yang aman, adalah hal terkecil yang bisa kita lakukan.
Hasil dari usaha Arthup.id ini digunakan kembali untuk membantu kesejahteraan para senimannya. Hasilnya dibagi rata dalam bentuk bantuan makanan tambahan, karena makanan pokoknya sudah diberikan oleh desa. “Belum banyak memang yang bisa dibagikan, tetapi setidaknya kita sudah memulainya,” kata Linda.
Transformasi Kekhawatiran Menjadi Harapan
Sebagai perempuan yang sedang menanti kelahiran anak pertamanya, Linda merasa bahwa sesungguhnya dia sangat khawatir dengan kondisi kekerasan terhadap anak, terutama kekerasan seksual. Banyaknya kasus yang terjadi semakin membuktikan bahwa tidak ada tempat yang aman bagi perempuan dan anak di muka bumi ini. Bahkan di dalam rumah sendiri, sekolah, tempat ibadah sekalipun, perempuan dan anak perempuan terus menjadi target kekerasan seksual.
Hampir semua teman perempuannya pernah mengalami kekerasan seksual, termasuk Linda sendiri, yang sampai harus lompat dari motor untuk menghindari pelaku. Hal yang dialaminya ketika SD itu masih membekas hingga sekarang.
Ketika ditanya apakah ada rencana untuk membuat film terkait dengan kekerasan seksual atau tidak, Linda mengatakan kalau untuk dalam waktu dekat dia belum bisa melakukannya. Membuat film dokumenter dengan tema sesensitif itu tentu menguras energi yang sangat besar, sementara fokusnya saat ini adalah mempersiapkan banyak perubahan dalam hidup sebagai seorang ibu.
Tapi Linda mengatakan bahwa dia akan mengedukasi orang-orang terdekatnya, terkait upaya untuk melindungi diri sendiri dari kemungkinan menjadi korban kekerasan seksual. “Aku pasti akan berusaha sekuat tenaga memastikan anakku berada di lingkungan yang aman ketika dia lahir nanti,” katanya penuh harap. Selain itu, orang di sekelilingnya juga akan menjadi target awal upaya edukasi pencegahan kekerasan seksual tersebut. Keponakan, tetangga, keluarga besar, semuanya.
Selama dunia masih belum menjadi tempat yang aman bagi perempuan, maka penguatan kapasitas perempuan untuk membela diri sendiri dan orang terdekatnya, adalah sesuatu yang mutlak untuk dimiliki. Di akhir perbincangan, Linda mengatakan bahwa sekelam apapun kondisi negeri atau dunia ini, dia merasa bahwa harapan itu harus tetap ada.
“Harapan itu kita yang menciptakan. Kalau kita khawatir dan diam saja, maka harapan itu juga akan hilang. Harapan itu sebetulnya ada di dekat-dekat kita sendiri. Dengan apa yang kita miliki atau lakukan, baik melalui media seperti film, maupun secara langsung, kita bisa menularkannya dengan membangkitkan kesadaran, empati, pada siapapun yang mau mendengarkannya. Kalau para pemimpin yang sudah tua-tua ini sulit memberi kita harapan, maka tugas kita adalah menanam benih harapan itu pada angkatan yang lebih muda,” pungkasnya.
Tentang Penulis:
Dian Purnomo adalah seorang penulis dan periset yang memiliki perhatian khusus pada isu-isu sosial dan lingkungan. Klik untuk melihat profil lengkap Dian Purnomo.



