Westiani, Ikut Mewujudkan Kedaulatan Reproduksi Bersama Biyung

Dari Proyek Sekolah Lahirlah Biyung

Di dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, setiap perempuan yang memiliki rahim dan mengalami menstruasi diperkenalkan pada pembalut sekali pakai saja, seolah-olah tidak ada pilihan lain. Padahal di masa lalu, pendahulu kita justru menggunakan pembalut kain yang mereka buat sendiri.

Beberapa tahun terakhir ini, dengan semakin banyaknya isu krisis iklim dan upaya melakukan pelestarian lingkungan dibicarakan, penggunaan pembalut yang lebih berkelanjutan mulai marak disosialisasikan.

Namun demikian, mengubah kebiasaan menggunakan pembalut sekali pakai menjadi pembalut yang dapat dipakai ulang memiliki tantangannya tersendiri.

Westiani dan perempuan-perempuan lain di dalam keluarganya telah menggunakan pembalut kain sejak tahun 2011. Di masa-masa awal mereka masih mengalami kesulitan membeli pembalut kain, karena yang menjual masih sangat terbatas. Hal ini kemudian menjadi awal pemikiran perempuan yang biasa dipanggil Ani ini, untuk bergeser bukan sebagai pemakai saja, tetapi menjadi pihak yang juga menyediakan.

Lalu semesta seperti begitu saja mendukung pemikiranya. Ani yang awalnya bekerja di lingkungan yang tidak jauh dari rumahnya, karena satu hal terjadi, terpaksa berhenti bekerja. Kemudian di saat berdekatan, di tahun 2016, anaknya mendapat tugas sekolah untuk membuat project terkait isu lingkungan.

Mereka memilih membuat usaha sosial sebagai penyedia pembalut kain. Dari projek kecil inilah, Biyung bermula. Sebuah usaha sosial yang menyediakan kebutuhan pembalut kain sebagai ganti pembalut sekali pakai yang tidak ramah lingkungan.

Projek awal keluarga ini adalah mengkampanyekan pemakaian pembalut kain melalui media sosial. Tanggapan yang didapat sangat bagus dan banyak yang antusias. Hingga dua tahun kemudian, pembalut kain yang dibuat masih diproduksi secara in house. Di tahun 2018 barulah Ani dan keluarganya mulai berani meluncurkan secara luas pembalut kain ini di pasaran.

 

Bergeser dari Isu Lingkungan ke Isu Perempuan

Di dalam perjalanan mengelola usaha sosial, Biyung menemukan beberapa kenyataan yang membuat mereka harus merumuskan ulang tujuan. Pada saat mengunjungi kelompok perempuan di beberapa daerah, ketika mengampanyekan peran perempuan untuk ikut menjaga lingkungan, terkait kesehatan menstruasi mereka, Biyung justru menemukan hal lain. Ada banyak perempuan yang baru pertama kali berbicara tentang menstruasi secara terbuka.

"Mereka merasa terharu," tutur Ani. "Katanya selama ini tidak ada yang bertanya, ada yang bahkan menganggap tabu membicarakan menstruasi di depan umum, sementara di acara ini, justru diberi microphone untuk cerita."

Kenyataan ini membuat Ani dan kawan-kawannya berpikir ulang, jangan-jangan mereka sudah berlari terlalu jauh, sementara para perempuan ini masih di belakang garis start, yang melangkah saja tidak berani?

Lalu dengan kampanye ramah lingkungan terkait pembalut, mereka juga kembali refleksi, jangan-jangan Biyung sudah menggunakan bahasa-bahasa maskulin yang menyalahkan perempuan, seolah-olah menjadi kontributor besar terhadap kerusakan lingkungan, terkait kesehatan menstruasi mereka, tanpa menyediakan pilihan yang terjangkau.

Salah seorang peserta sosialisasi pembalut kain ini pernah menanyakan, apakah mereka boleh membuat pembalut kain sendiri, karena kalau harus membeli harganya terlalu mahal buat mereka. Jika diizinkan, mereka juga mau meminta diajarkan caranya, karena mereka tidak memiliki keterampilan menjahit pembalut sama sekali.

Kenyataan ini menempatkan Biyung pada pemikiran baru, bahwa mungkin berangkat dari isu lingkungan untuk membicarakan pembalut kain masih terlalu cepat dan terlalu maskulin. Jangan-jangan mereka justru harus berbicara tentang perempuan dan kebutuhan-kebutuhannya.

"Keadilan ekologi yang tadinya kita pikirkan itu jadi terasa begitu ndakik-ndakik," tutur Ani. Lalu melanjutkan, "Sementara perempuan di banyak tempat masih takut berbicara tentang tubuhnya sendiri. Jadi kita memutuskan bahwa usaha sosial ini harus menyentuh ke dasar yang paling dibutuhkan, yaitu pemahaman tentang tubuh dan keberdayaan perempuan itu sendiri."

Berangkat dari pemikiran tersebut, bahwa bukan hanya produk yang ditawarkan, tetapi isu yang dibawa juga masih eksklusif, Ani dan Biyung memutuskan untuk mengubah haluan.

 

 

Proses Belajar Tanpa Henti

Di dalam perjalanan usaha ini, Ani yang yang saat itu menjadi pengurus salah satu Credit Union di Yogyakarta, sering kali mengikuti pelatihan pengelolaan keuangan. Dia sering kali diingatkan bahwa setiap usaha itu membutuhkan waktu 3-5 tahun sebagai masa tanam.

Artinya, kita tidak bisa berharap mendapat keuntungan di masa-masa tersebut. Dari sini Ani sadar bahwa dia memang sedang berada di fase tersebut. Tidak bisa buru-buru berharap cuan.

Di dalam proses bertumbuh, Biyung belajar banyak dari Sociopreneur Indonesia pada pelatihan-pelatihan daring yang mereka berikan, dan Ani melahap berbagai buku. Salah satunya adalah How to Change the World karya David Bornstein yang berbicara tentang social entrepreneurship. Dari situ Ani belajar bahwa ada berbagai cara untuk menyelesaikan sebuah persoalan. Unit usaha adalah salah satunya.

Dengan unit usaha, seseorang atau sebuah organisasi bisa mendapatkan pendanaan agar aktivitas bisa berjalan dan mencapai tujuan. Jadi bukan fokus pada bisnisnya, melainkan upaya penyelesaian masalahnya.

Dari pemikiran-pemikiran yang diantaranya dipengaruhi oleh buku itulah, Biyung kemudian bertransformasi menjadi sebuah yayasan.

 

Dengan entitas organisasi sebagai yayasan, Biyung lebih leluasa mencari mitra untuk mendukung edukasi yang mereka lakukan. Namun rupanya perjalanan sebagai yayasan juga tidak semudah yang dibayangkan.

Ada beberapa perusahaan yang menawarkan dukungan CSR, yang tentu saja sangat membantu berjalannya program. Tetapi sayangnya perusahaan tersebut bergerak di bidang yang tidak sejalan dengan Biyung, sehingga mereka memutuskan untuk tidak menerima tawaran dana CSR tersebut.

Menurut Ani, cita-cita besar yang diimpikan oleh Biyung adalah; pertama, mengupayakan perempuan hidup sehat, termasuk kesehatan reproduksinya; kedua, membantu perempuan untuk memiliki alat baru dan berdaya; ketiga, yaitu berupaya agar sesama perempuan memiliki usaha kolektif di mana keuntungannya dapat digunakan oleh mereka bersama.

Dengan tiga tujuan tersebut, maka ide untuk melibatkan perusahaan dalam bentuk CSR ini dirasa menjadi kurang pas. Meskipun jika perusahaan tidak meminta apapun sebagai imbalan, tetapi dengan mencantumkan logo perusahaan tersebut di setiap kegiatan saja, sudah menjadi tidak sejalan dengan tujuan.

Tahun 2019 Ani dipertemukan dengan berbagai perempuan inspiratif dari seluruh penjuru negeri di program She Creates Change. Di sana dia terpikir untuk membuat petisi yang ditujukan ke Kepala Dinas Kesehatan di salah satu wilayah di Yogyakarta, untuk memberikan pembalut kain gratis di Puskesmas. Pembalut tersebut akan diupayakan pembuatannya oleh perempuan yang tergabung dalam PKK wilayah setempat. Jadi semua tujuan yang dicita-citakan Biyung dapat diraih.

Sayangnya ketika berproses, Ani terus menemukan bahwa perjalanannya masih akan panjang, karena mengubah perilaku memang tidak mudah. Di salah satu pendekatan yang dilakukannya dengan Dinas Kesehatan, Ani bercerita bahwa dia merasa sudah cukup banyak menyampaikan, hingga harapannya Dinas sudah cukup paham. Tetapi rupanya dia salah.

"Jadi ketika kami merasa sudah berbusa-busa dan sampai pada pemahaman yang sama, antiklimaks banget, Dinas mengakhiri dengan menyampaikan seperti ini di depan peserta," kata Ani menceritakan kembali apa yang disampaikan oleh perwakilan pemerintah tersebut,

"Baiklah, kita menunggu dari pihak perusahaan kapan bisa membantu Pemerintah Indonesia untuk mengadakan pembalut di sekolah gratis." Pembalut yang dimaksud tentu saja pembalut sekali pakai.

Meskipun menemui banyak tantangan, tapi Ani dan Biyung tidak pernah menyerah. Mereka terus berbicara di banyak tempat, berkolaborasi dengan banyak pihak, karena percaya perubahan akan lebih mudah jika diupayakan bersama.

Cek produk biyung di Lapak Hijau wespeakup.org/lapak-hijau

 

Kedaulatan Reproduksi, Perjalanan Panjang Perjuangan Perempuan

Di tahun ke-7 Biyung berdiri, Ani justru merasa bahwa ada semakin banyak hal yang masih menjadi PR besar untuk mencapai kedaulatan reproduksi yang menjadi hak setiap individu. Dari keseriusannya membesarkan Biyung, mau tidak mau perempuan yang merasa tenang ketika berada di dalam air ini, membaca banyak literatur terkait perempuan dan ketidakadilan gender.

Di sana Ani menemukan jawaban dari banyak pertanyaannya, termasuk tentang kenapa selama ini menstruasi ditabukan dan stigma terkait menstruasi sulit untuk dihentikan.

Jika ditelusuri kembali, dari mulai sejarah peradaban kuno hingga modern, tercatat bagaimana sebuah sistem besar bernama patriarki terus menerus berusaha meminggirkan perempuan karena rahimnya.

Di dalam sejarah kuno Eropa, kita pernah mendengar tentang perempuan yang dianggap penyihir dibantai secara besar-besaran. Konon ditemukan fakta bahwa pada saat mendekati masa menstruasi, karena hormon femininnya, perempuan menjadi lebih sensitif. Beberapa bahkan mampu membaca tanda-tanda alam seperti waktu terbaik untuk menanam, cuaca, dan sebagainya. Tetapi masyarakat yang patriarkis dan maskulin menolak kemampuan tersebut dan menganggap perempuan-perempuan itu sebagai penyihir.

Sejarah moden juga begitu membenci menstruasi, sehingga PBB baru memasukkan isu ini sebagai isu kesehatan di bawah WHO di tahun 2022. Sebelumnya kesehatan menstruasi diurus oleh UNICEF, sebuah lembaga PBB yang berfokus pada pemenuhan hak anak.

Di Undang-undang Kesehatan RI pun, dalam pasal yang menyebutkan hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi, kesehatan menstruasi sama sekali tidak disebutkan. Pasal tersebut hanya membahas tentang bagaimana anak perempuan dipersiapkan untuk melahirkan dengan baik dan sehat, dan anak untuk pengendalian kelahiran dan kematian.

Tubuh perempuan adalah proyek besar untuk mengendalikan populasi, dan semua hal tersebut adalah untuk kepentingan patriarki. Tanpa sadar perempuan mengalami kekerasan dan diskriminasi berkali-kali, termasuk diantaranya ketika memasuki masa reproduktif.

Perempuan diharapkan melahirkan anak-anak yang sehat dan baik, tetapi tidak diperhatikan dan kebutuhan dasarnya, termasuk kesehatan menstruasinya. Banyak perempuan mengalami trauma karena menstruasi yang dialaminya. Sebagian membeli ide patriarki bahwa darah yang keluar dari tubuhnya adalah darah kotor, sehingga menganggap dirinya juga kotor.

Semakin banyak belajar tentang perempuan dan tubuhnya, Ani, salah satu cohort di program DIWA untuk Women Social Enterprise dan Ashoka Asia ini merasa bahwa perjalanannya masih panjang. Hal-hal yang menjadi renungannya tersebut harus diketahui oleh lebih banyak perempuan. Mengetahui penyebab terjadinya sebuah situasi adalah hal penting, agar kita dapat mencari solusi terbaik, yang menyentuh langsung ke akar masalah, begitu menurutnya.

 

 

Biyung telah berkeliling ke berbagai provinsi di Indonesia, dari Jambi, Palembang, berbagai wilayah di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, NTT, hingga Papua. Bagi Ani, ketika ada yang bertanya wilayah mana yang paling membuatnya selalu ingin kembali, maka jawabannya adalah Papua.

Bukan hanya karena dia lahir dan besar di Papua, tetapi karena tantangan besar yang ditemui di sana. Di tengah masyarakat yang terus menerus hidup dalam konflik, di bawah tekanan eksploitasi sumber daya alam oleh penguasa, perempuan dan anak perempuan Papua semakin terpinggirkan, terutama terkait kebutuhan kesehatan menstruasi.

Saat ini Ani sedang mendorong semesta untuk membukakan jalannya untuk bisa selalu kembali ke tanah kelahirannya. Jika diizinkan, dia ingin lebih dekat dengan perempuan di Papua, bersama mengupayakan tercapainya kedaulatan reproduksi, dengan memenuhi kebutuhan kesehatan menstruasi, sembari mengupayakan diri agar lebih memiliki kemandirian.

Kalau kamu tertarik untuk mengetahui lebih banyak terkait Ani dan Biyung, serta perjuangannya untuk memenuhi salah satu hak dasar perempuan, silahkan berkunjung ke @biyung_org

 

Tentang Penulis:
Dian Purnomo adalah seorang penulis dan periset yang memiliki perhatian khusus pada isu-isu sosial dan lingkungan. Klik untuk melihat profil lengkap Dian Purnomo.

Lihat artikel lainnya

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram