Keputusan menjadi kurator seni yang berfokus pada isu lingkungan, mempertemukan saya dengan Arami Kasih. Sebagai sesama alumni She Creates Change dan We Create Change, kami bertemu di Yogyakarta dalam program Puan Bersua(ra) akhir tahun 2024 lalu. Ara panggilannya. Kami tidur sekamar, tetapi karena saya datang terlambat di saat seisi kamar sudah terlelap, kami baru berkenalan secara layak ketika bangun pagi dan nyawa mulai berkumpul.
Ara yang saat itu masih menyusui anaknya sedang memompa ASI sembari bercerita ini itu dengan seru. Ketika menyebutkan aktivitas utamanya sebagai kurator, mulai banyak pertanyaan berlompatan di kepala. Bagaimana kurator bekerja? Dapat uangkah dia? Seni macam apa yang dikurasi? Pasti seru pekerjaan macam itu, mengingat Yogyakarta adalah kota seni, pasti aktivitas macam itu sangat hidup di sini.
Perempuan berdarah Aceh ini meskipun di awal kupikir agak menjaga jarak, tapi ternyata ketika sesi demi sesi program berlangsung, justru dialah yang memecah kebekuan. Aksinya ketika menjadi model sesi beauty class membuat peserta lain tidak berhenti terbahak. Lambaian tangannya yang tipis-tipis ala Putri Kecantikan Dunia menarik semua orang tertawa dan saling melempar komentar.

Turtle World, Pembuka Mata pada Dunia yang Tidak Baik-baik Saja
Jika ditanya apa yang menyebabkan Arami begitu fokus di jalur sepi kampanye kesadaran iklim melalui seni, jawabnya mengembalikan dia ke masa ketika masih duduk di bangku SMP. Waktu itu empat orang kakak, mungkin mahasiswa dari salah satu kampus di Aceh – Ara tidak terlalu ingat pasti – masuk ke kelas dan mengajak seisi kelas menonton film berjudul Turtle World. Film animasi karya sutradara Nick Hilligoss ini menampilkan seekor kura-kura yang melayang-layang di udara, dengan punggung yang ditumbuhi pohon-pohon dan ditinggali oleh monyet.
Awalnya para monyet hidup seadanya, hingga persaingan terjadi. Satu monyet membangun ranting di atas pohon, yang lainnya membuat rumah pohon. Iri dengan pemilik rumah pohon, yang lain membuat rumah sungguhan di cangkang kura-kurang, terus demikian hingga salah satu keluarga monyet membuat bangunan semacam Taj Mahal. Adegan demi adegan terus berlanjut, di mana pada akhirnya para monyet membongkar cangkang kura-kura untuk dijadikan entah apalah, hingga terlihat jantungnya berdetak di bawah cangkang itu.
Seekor anak monyet menyadari bahwa kura-kura mulai melemah, lalu berusaha mengingatkan monyet-monyet senior. Tetapi tidak seekor pun mendengarnya. Mereka menutup mata, telinga, dan mulut. Mereka terus menggali hingga akhirnya sang kura-kura terjun bebas dan mati. Tentu saja mati jugalah seluruh kura-kura dan kehidupan lain di atas cangkangnya.
Cerita dunia kura-kura tersebut sangat membekas di kepala Ara. Dia merasa tertarik pada isu lingkungan dan mulai mempertanyakan apa itu lingkungan, kenapa sampai ada film seperti itu, dan berbagai pertanyaan kritis anak usia SMP lainnya. Tetapi semua pertanyaan tersebut belum mendapatkan jawabannya, hingga dia lulus SMA dan kuliah di IPB University, Bogor tahun 2010.
Di Bogor Ara mulai membaca artikel-artikel terkait lingkungan dan berkali-kali dihadapkan pada kata global warming, pemanasan global. Semakin tinggi rasa ingin tahunya, tetapi karena tuntutan untuk segera menyelesaikan kuliah, maka dia tidak sempat banyak beraktivitas di luar urusan kuliah pada masa itu. Selepas kuliah, Ara segera mendapatkan pekerjaan di Jakarta, tetapi tidak lama, dia memutuskan untuk kembali belajar. Yogyakarta pilihannya. Di kota ini Ara belajar seni di Institut Seni Indonesia (ISI), yang kemudian memperkenalkannya pada dunia aktivisme lingkungan yang sesungguhnya.
Seni, Aktivisme, dan Keriuhan di Dalamnya
Di ISI penggemar novel-novel Swedia ini berkenalan dengan Bio Andaru. Nama ini kelak akan berpengaruh banyak pada bukan saja hidup Ara, karena kemudian mereka menikah, tetapi juga kerja-kerja seninya. Bio yang memperkenalkan Ara pada seni rupa, yang kemudian justru lebih diminatinya, dibanding seni media rekam, jurusan yang dipelajarinya secara resmi di kampus.
Bio, Sang Suami, juga yang kemudian memperkenalkan Ara pada Climate Rangers (CR). Ketika itu masih bernama Fossil Free Jogja. Sebagai orang yang selektif, karena trauma masa kecil yang mengharuskannya berhadapan dengan isu-isu serius dan sensitif semasa konflik di Aceh, di awal perkenalan Ara menghabiskan energi untuk observasi. Tetapi semakin lama dia justru yang jauh lebih aktif di CR dibandingkan Bio sendiri. Pengalaman menghelat pameran bersama kawan-kawan CR membuatnya terjun bebas dengan penuh suka cita sebagai kurator seni dengan tema kepedulian terhadap iklim dan lingkungan.
Artivisme, begitu orang menyebutnya sekarang. Perkawinan seni dan aktivisme. “Kurator itu semacam sutradara kalau di film,” Ara mencoba menjelaskannya dengan bahasa paling mudah dipahami. “Kalau sutradara tugasnya bikin film, kurator tugasnya bikin pameran seni, konservasi penemuan benda bersejarah, riset, dan hal-hal lain semacam itu. Dalam hal artivisme lingkungan, tugasnya bikin kampanye lingkungan dalam bentuk seni, khususnya seni rupa.”

Membuat konsep acara, mengumpulkan seniman, memberikan pembekalan tentang tema, mengajak mereka berkarya, memamerkan karya para seniman tersebut, menerjemahkan karya mereka, itu adalah kesibukan yang menghabiskan waktu Ara sehari-hari. Ketika ditanya, bagaimana hal-hal tersebut dapat menghidupinya, Ara kemudian bercerita bahwa memang seringkali dunia pergerakan dan pencarian nafkah tidak dapat berjalan beriringan.
“Bentuk apresiasi terhadap seni yang kukurasi ini masih belum ketemu.” Arami menjelaskan. Kalau pada seni-seni konvensional, orang bisa membeli barangnya, entah itu lukisan, patung, atau semacamnya. Tapi dalam pameran-pameran seperti Echo Justice, yang belum lama dipamerkannya, orang mau membeli apa? Ada memang beberapa karya lukis dan patung, tetapi peminatnya masih jarang sekali. Ara kemudian menunjukkan karya-karya seniman yang dikurasinya.

Jadi kalau ditanya tantangan menjadi kurator dengan idealisme seperti Ara, maka jawabannya adalah uang dan menemukan seniman yang fokus pada isu lingkungan serta melakukan riset yang baik sebelum berkarya. Keterbatasan keuangan untuk menerjemahkan isi kepala ke dalam sebuah pameran, kadang membuat Ara harus mandeg dulu, mengambil jeda sejenak dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan uang. Tapi demikianlah dunia, ketika kita sedang gigih memperjuangkan idealisme, ada lapar yang menyelinap di antaranya.
Hidup mayoritas seniman di Indonesia memang masih harus disertai kemampuan menahan lapar. Yang dijual oleh seniman memang bukan sesuatu yang kasat mata dan dibutuhkan oleh kebanyakan orang. Seniman menjual Imajinasi. Bagi masyarakat yang masih sibuk berkutat memenuhi kebutuhan perutnya, maka imajinasi bukan jualan yang akan diborong dengan harga tinggi. “Perjuangan artivisme ini memang kadang nggak bisa dibarengin sama perjuangan mengisi perut,” timpal Ara sembari tersenyum.
Nyala yang Tak Boleh Padam
Banyak orang yang juga bertanya-tanya, bagaimana artivisme ini memiliki dampak langsung pada isu krisis iklim seperti yang dikerjakan Ara, maka dia menjawabnya dengan, “Pameran seni tentang iklim yang memang tidak akan tiba-tiba menghentikan krisis iklim. Tapi kolaborasi adalah salah satu kata kuncinya.”
Ibu dari Kalang Melangit ini kemudian menuturkan bahwa di dalam dunia pergerakan itu ada tiga hal yang bisa kita lakukan, advokasi, kampanye, dan terjun langsung. Yang terjun langsung bisa apa saja, turun ke jalan, jadi pendidik, dan sebagainya. Pameran seni, atau bentuk-bentuk kesenian yang lain, seperti buku, film, dan sebagainya, ada di tataran kampanye. Tugasnya di penyadaran masyarakat tentang sebuah ide, mengajak lebih banyak orang untuk sama-sama resah dan kemudian bergerak sesuai kemampuan masing-masing.

Seni adalah sesuatu yang universal. Tidak perlu memahami bahasa tertentu, orang bisa merasakan apa yang sedang dilihatnya. Dari bayi sampai orang tua bisa melihat gambar dan merasakan sesuatu tentangnya. Seni juga bisa jadi media yang cukup penting digunakan sebagai alat kampanye karena dapat mencopet perhatian orang, membuat orang menengok untuk kemudian mencari tahu lebih lanjut, jika dia memang tertarik pada isunya. Di situ seni berperan.
Tiga Hal yang Ingin Diubah di Negeri Ini
Di akhir perbincangan, saya mencoba menanyakan pada Arami, jika ada tiga hal yang dengan kekuatan supernya, bisa dia ubah dari negeri ini, maka apa saja itu? Ini jawabannya.
Pertama, negara harus menghentikan pola-pola militer yang ada. Apapun berbasis militer seperti misalnya memasukkan anak ke barak, Revisi UU TNI yang berpotensi membuka peluang dwifungsi TNI, militer masuk kampus dan sekolah, dan bentuk militerisme lain, harus dihapuskan.
Trauma pemberontakan di Aceh yang dialaminya membuat Ara merasa bahwa militerisme dan kekerasan bukan hal yang patut dipertahankan. Dia mengalami sendiri terusir dari rumah karena seluruh kampungnya dibakar. Sampai sekarang, ketika sedang berbicara di telepon dengan ibunya, kisah-kisah kelam di masa lalu diceritakan dengan tawa, sebagai upaya untuk menghalau kepedihan.
Kedua, kebijakan energi harus dilakukan dengan basis komunitas. Sejauh ini transisi energi diperbincangkan dan diputuskan oleh orang-orang yang bekerja dan mengambil keuntungan di bidang batubara. Seharusnya masyarakat yang benar-benar mengerjakan itu semua. Energi bersih yang dibahas sekarang lagi-lagi masih energi kotor, biomasa, nuklir, panas bumi.

Seharusnya kita benar-benar memikirkan untuk berpindah ke energi berbasis angin, sinar matahari, air, gelombang, dan tidak perlu berbicara skala besar. Disesuaikan saja dengan kapasitas masing-masing wilayah dengan potensi energi bersih tersebut.
Terakhir, kesenian. Arami sangat merindukan seniman-seniman yang memiliki energi dan sumber daya untuk melakukan riset, menggali cerita, fakta, agar karya seninya lebih bermakna. Benar bahwa seniman banyak bekerja berdasarkan apa yang dia rasakan, tetapi jika dipadukan dengan riset, maka karya tersebut pasti akan jauh lebih dahsyat.
Di ujung diskusi, Ara menyampaikan, terlepas dari banyak hal yang membuat kita merasa putus asa dengan kondisi bangsa, tetapi dia merasa selalu punya harapan. “Harus ada. Kita nggak punya pilihan selain terus memupuk harapan itu. Kalau aku nggak punya harapan, buat apa aku melakukan ini semua?” demikian katanya menutup perbincangan.




