Di balik pasir putih yang memukau dan laut biru yang menenangkan, Pulau Pari menyimpan kisah perjuangan warga yang berhadapan dengan ancaman besar. Mulai dari tanah mereka yang digugat hingga ekosistem yang dirusak.
Namun, di tengah semua itu, seorang perempuan bernama Asmania atau Teh Aas, membuktikan bahwa keberanian dapat melawan ketidakadilan, bahkan ketika harapan hampir tak tersisa. Bagaimana ia dan komunitasnya berjuang untuk masa depan pulau tercinta?
Awal Kehidupan di Pulau Pari
Teh Aas bukanlah penduduk asli Pulau Pari. Ia berasal dari Bekasi, daerah yang sangat berbeda dengan kehidupan di Pulau Pari. Kepindahan ke pulau kecil itu dimulai pada tahun 2005, setelah ia menikah dengan seorang nelayan.
Di tengah keindahan alamnya, kehidupan di Pulau Pari waktu itu jauh dari kata nyaman. Tidak ada listrik yang memadai. Hanya genset bergilir, akses kebutuhan pokok sangat terbatas, dan kehidupan terasa jauh dari hiruk-pikuk kota besar seperti Bekasi.
Kondisi tersebut sempat membuat Teh Aas mundur. Ia kembali ke Bekasi dan bekerja di sebuah pabrik dengan gaji Rp1,5 juta per bulan. Namun, pekerjaan itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, terutama setelah ia memiliki anak.
Titik balik muncul ketika Teh Aas sadar bahwa meski hidup di Pulau Pari terasa lebih sederhana, ekonomi nelayan yang memanen ikan kerapu maupun budidaya rumput laut ternyata jauh lebih menjanjikan. Akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke pulau tersebut dan bertahan bersama keluarganya.
Kebangkitan Pariwisata dan Perubahan Ekonomi
Tahun 2008 menjadi awal perubahan besar bagi Pulau Pari. Listrik mulai masuk, membuka peluang bagi warga untuk mengembangkan sektor pariwisata. Pada awalnya, hanya puluhan hingga ratusan turis datang setiap bulan. Namun, berkat kerja keras komunitas lokal, jumlah pengunjung melonjak, mencapai 4.000 orang per minggu pada tahun 2015.

Pertumbuhan pariwisata berdampak positif terhadap perekonomian warga Pulau Pari dan sekitarnya. Rumah-rumah sederhana dari bilik bambu bertransformasi menjadi bangunan bertembok bata, bahkan beberapa sudah dilengkapi AC. Banyak pekerjaan baru tercipta, seperti sewa kapal untuk turis, jasa pemandu wisata, katering lokal, hingga pedagang kecil yang berasal dari Jakarta ikut mendapatkan keuntungan.
Namun, di balik kemajuan tersebut, ancaman mulai muncul. Perusahaan-perusahaan besar mulai melirik Pulau Pari sebagai kawasan eksklusif. Konflik merebak ketika tanah yang dihuni oleh warga diklaim sebagai milik perusahaan. Teh Aas mengungkap bahwa banyak warga merasa tertipu oleh oknum dari kelurahan, yang meminta tanda tangan tanpa memberi penjelasan jelas. Tanpa disadari, tanda tangan itu digunakan untuk mengklaim kepemilikan tanah.
Kehancuran Lingkungan: Mangrove yang Hilang
Tak hanya tanah mereka yang terancam, lingkungan Pulau Pari juga menghadapi kerusakan serius. Salah satu tragedi besar terjadi ketika perusahaan mereklamasi wilayah pulau, menghancurkan 40 ribu tanaman mangrove.
Mangrove yang selama ini ditanam warga dengan tujuan mencegah abrasi dan menjaga ekosistem laut, hancur dalam sekejap. Reklamasi membawa dampak buruk. Terumbu karang rusak, padang lamun hancur, dan air laut menjadi keruh. Krisis lingkungan ini memengaruhi budidaya rumput laut dan ikan, yang menjadi sumber utama pendapatan warga.
Ironisnya, ketika warga berjuang mati-matian menjaga kelestarian pulau, pemerintah tampak tak peduli. Bukannya melindungi warga pesisir, pemerintah justru membiarkan perusahaan-perusahaan besar merusak ekosistem yang menopang kehidupan Pulau Pari.

Perjuangan Perempuan Pulau Pari
Teh Aas menyadari bahwa tak ada yang akan datang menyelamatkan mereka jika warga sendiri tidak mulai bergerak. Namun, perjuangan ini juga tak luput dari tantangan internal. Sebagai perempuan, ia sering kali diremehkan dalam gerakan warga.
Perempuan hanya dianggap sebagai penyedia kopi saat rapat-rapat penting. Meski begitu, Teh Aas tidak menyerah. Bersama kelompok Perempuan Pulau Pari, ia membuktikan bahwa perempuan juga dapat memimpin. Kelompok ini aktif dalam berbagai aktivitas, seperti menanam bakau untuk melawan abrasi, membersihkan pantai, hingga membangun kebun bersama untuk kebutuhan pangan warga.

Perlahan, keberadaan perempuan dalam gerakan mulai diakui. Bahkan, Teh Aas kini dipercaya sebagai Ketua LMK Dewan Kelurahan Pulau Pari, menunjukkan bahwa suara perempuan memiliki kontribusi besar dalam membangun komunitas.
Gugatan terhadap Perusahaan Dunia
Tidak puas sampai di situ, Teh Aas bersama tiga aktivis lingkungan lainnya melangkah lebih jauh dengan menggugat Holcim, sebuah perusahaan multinasional, atas kontribusinya terhadap krisis iklim.

Dalam konferensi internasional yang digelar di Bonn, Jerman, Teh Aas menyerukan agar Holcim menurunkan emisi karbon sebesar 69 persen hingga tahun 2024. Juga membayar dana adaptasi serta dana untuk menutupi kerugian (loss and damage) akibat perubahan iklim.
Menurut Teh Aas, warga Pulau Pari telah merasakan dampak krisis iklim akibat aktivitas perusahaan. Usaha budidaya ikan kerapu dan rumput laut warga menurun, karena suhu laut yang semakin hangat. Pendapatan dari panen ikan yang sebelumnya berkisar Rp 30-50 juta kini merosot jauh. Mereka bahkan sudah berhenti membudidayakan rumput laut.
Kerugian pada sektor pariwisata lokal seperti homestay dan fasilitas snorkeling akibat banjir rob serta cuaca ekstrem yang semakin sering melanda Pulau Pari.
Gugatan tersebut diajukan di Pengadilan Zug, Swiss. Meski tantangan besar menghadang, Teh Aas bertekad untuk terus melawan, karena baginya ini bukan hanya soal Pulau Pari, tetapi tentang masa depan anak-anak dan lingkungan global.
Belajar dari Teh Aas
Teh Aas, seorang perempuan biasa tanpa gelar besar atau popularitas, telah menunjukkan bahwa siapapun bisa mengubah dunia. Langkah kecil seperti menanam mangrove dan membersihkan pantai mungkin tampak sepele, namun setiap upaya kecil memiliki potensi untuk memicu perubahan besar.

Pulau Pari tidak hanya menjadi simbol perjuangan warga pesisir, tetapi juga sebuah pesan penting: keselarasan antara manusia dan alam harus diperjuangkan, sekalipun melawan tantangan yang tampak mustahil.
“Bahkan ombak kecil pun bisa mengubah bentuk pantai,” adalah pesan Teh Aas yang menginspirasi. Warga Pulau Pari, terutama perempuan-perempuannya, telah membuktikan bahwa keberanian dan solidaritas dapat menjadi kekuatan yang menggerakkan perubahan besar.
Penulis:
Dhenok Pratiwi
Direktur Kampanye WeSpeakUp.org



