
Bertemu banyak aktivis muda belakangan ini, selalu ada dua warna yang terpancar di wajah mereka. Kelelahan sekaligus harapan. Dari hari ke hari menghadapi pengelola negara yang tidak berpihak pada masyarakat, semakin mempertontonkan kekuasaan dengan semena-mena, tentu sangat melelahkan.
Tetapi fakta bahwa orang-orang muda ini masih terus berdiri dan berjuang untuk sesuatu yang bukan kepentingan pribadinya, tentu hanya karena mereka masih memiliki harapan.
Demikian juga dengan Ade Hutasoit. Kami pertama kali berjumpa di Yogyakarta, di acara Puan Bersua(ra). Dalam sesi-sesi yang sangat menggugah, menguatkan, sekaligus memberi ruang untuk menunjukkan kelemahan masing-masing, Ade banyak menunjukkan wajah pertamanya. Lelah. Tetapi ketika diajak bicara lebih lama, semangatnya menular pada lawan bicara.
PLTU Pangkalan Susu
Kita semua tahu bahwa masalah lingkungan di Indonesia bukan hanya terjadi di Sumatera Utara, provinsi di mana Ade berasal saja. Di hampir seluruh penjuru negeri kita dapat dengan mudah menemukan masalah lingkungan yang sedang diperjuangkan oleh rakyat. Dari mulai penggundulan hutan untuk dijadikan food estate, penambangan, pencemaran lingkungan, pembangunan kawasan mewah yang merebut dan merusak tanah rakyat, dan masih banyak lagi.
Di Sumatera Utara sendiri, salah satu kasus yang cukup menyita perhatian terjadi di Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat. Sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berdiri di sana dan menjadi salah satu masalah yang merugikan warga. Ade yang saat ini menjadi staf Yayasan Srikandi Lestari (YSL), ikut aktif berupaya membersamai perjuangan masyarakat di sana.
PLTU ini pertama kali dibangun di tahun 2014, untuk Unit 1 dan Unit 2-nya. Masyarakat– seperti kebanyakan cerita di berbagai wilayah lain, di awal proyek berjalan tidak terlalu merasakan adanya masalah. "Jadi dulu dia tawarkan pekerjaan, seperti biasa, humasnya menjanjikan ke masyarakat kalau ini adalah potensi lapangan kerja," tutur Ade, "tapi seperti juga yang terjadi di tempat lain, setelah satu dua bulan dipekerjakan, warga sekitar dikeluarkan. Ada saja alasan yang dipakai, dari mulai tidak kompeten, sampai dituduh mencuri kabel."

Penyakit gatal-gatal yang belum pernah terjadi sebelumnya, dialami oleh warga. Anak-anak sampai kesulitan menulis karena sela jari mereka bernanah. Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) juga banyak terjadi. Sedihnya, beberapa puskesmas tidak mau membuka data penyakit yang diperkirakan karena dampak PLTU ini.
Dampak lain beroperasinya PLTU yang tak kalah memprihatinkan adalah hilangnya mata pencaharian warga. Masyarakat yang di awal menyetujui PLTU karena berpikir akan ada peluang kerja selain yang sudah mereka miliki sebelumnya, justru menghadapi kondisi sebaliknya. Mata pencaharian warga yang selama ini dilakukan justru hilang. Dulu ada hutan mangrove di Pangkalan Susu. Karena terjadi degradasi lahan, perusahaan juga mengambil sebagian lahan hutan bakau, maka tempat ikan bertelur juga terganggu.
"Kami dulu itu bisa menyimpan bubu di akar mangrove, tapi sekarang tidak bisa lagi," kata Ade menirukan penjelasan warga padanya. "Sekarang bakau sudah jadi lahan PLTU. airnya memanas sehingga ikan juga tidak mau datang ke sana."
Yang lebih memprihatinkan dari seluruh kondisi ini adalah beberapa nelayan yang didampingi oleh YSL, sampai harus menjual sampan mereka. Apa yang paling menyedihkan dari nelayan yang menjual sampannya? Mereka terpaksa mencari penghidupan di bidang-bidang yang tidak dikuasai keterampilannya. Menjadi kuli bangunan, membuka warung, migrasi ke Aceh, Dumai, Pekanbaru untuk bekerja di kebun sawit, dan semacamnya. Karena kondisi ini juga, beberapa orang sudah masuk ke dalam jebakan rentenir.
Berada di dalamnya dan ikut berjuang
Tahun 2022, ketika masih menjadi mahasiswa Kesejahteraan Sosial di Universitas Sumatera Utara, Ade telah aktif menjadi relawan di YSL. Turun ke jalan, ikut menyuarakan kasus-kasus yang sedang ditangani, membantu membuat film pendek tentang dampak lingkungan bagi para nelayan, riset, dan berbagai aktivitas lainnya dia kerjakan. Begitu kuliahnya selesai, Ade masuk menjadi staf penuh waktu dan bertanggung jawab atas kampanye dan publikasi.
Posisi ini memungkinkan Ade dekat dengan masyarakat yang terdampak langsung dari PLTU tersebut. Di sini perempuan kelahiran 15 Juli 2003 ini melihat sendiri bagaimana isu-isu lingkungan bisa berdampak besar ke isu lain seperti perburuhan, perbudakan, perdagangan manusia, juga isu kekerasan berbasis gender. Yayasan Srikandi Lestari menangani semua isu tersebut.
Berawal dari isu lingkungan, dampaknya memang bisa seluas itu. Maka jika ingin membantu menyelesaikan satu masalah, harus turun juga untuk melihat masalah yang lain.
Alam yang rusak memaksa orang mencari pekerjaan di luar wilayah. Karena minimnya pengetahuan tentang dunia di luar wilayahnya, orang jadi sangat mudah tergiur bujukan-bujukan pelaku perbudakan dan perdagangan manusia.
Perempuan yang memiliki kerentanan berganda, mengalami kerugian terbesar. Dampak dari rasa frustasi karena gagal memenuhi kebutuhan rumah tangga bagi para lelaki, mengakibatkan mereka melakukan kekerasan terhadap perempuan. Sementara jika harus mencari pekerjaan ke luar wilayahnya, dengan keterbatasan keterampilan, lagi-lagi perempuan juga berisiko sangat tinggi menjadi korban kekerasan.
"Dulu itu ibaratnya satu orang bekerja bisa menghidupi tiga keluarga," kata Ade menirukan cerita nelayan dari Pulau Sembilan, wilayah terdekat dengan PLTU Pangkalan Susu yang saat ini didampinginya. "Keluarga sendiri, keluarga orang tua, dan keluarga mertua. Kalau sekarang, jangankan tiga keluarga. Untuk mencukupi kebutuhan rumah sendiri saja, orang harus menambah pekerjaan lain. Jadi buruh sawit, kerja serabutan, atau entah apa lagi." Saat ini di Pulau Sembilan sendiri wilayah daratannya juga sudah hampir dipenuhi perkebunan kelapa sawit.

Sebagai respon dari kampanye pengaduan tersebut, akhirnya konstruksi 5 dan 6 PLTU tidak jadi dibangun. Keberhasilan kecil ini tetap harus dirayakan, meskipun kondisi wilayah yang terdampak PLTU unit-unit sebelumnya masih belum selesai juga, tetapi setidaknya sumber kerusakan lingkungannya tidak bertambah lagi.
Saat ini YSL lebih sering bekerja sama dengan dinas-dinas lain seperti Dinas Koperasi, yang membantu masyarakat dalam upaya peningkatan perekonomian. Organisasi yang berdiri sejak 2015 ini membantu mengakseskan bantuan usaha untuk kelompok masyarakat yang terdampak PLTU.
"Jadi kalau kita lihat warga di Pangkalan Susu itu sekarang membuat eco print, keripik, telur asin, olahan jeruju itu bukan sekedar cara bertahan hidup," tutur Ade. Yang mereka lakukan sekarang juga merupakan bentuk perlawanan. "Mereka ingin menunjukkan ironi yang seharusnya membuat penyelenggara negara malu. Warga pesisir tidak lagi mendapatkan penghidupan dari pesisir. Ini seharusnya menjadi refleksi serius kalau mereka memang peduli," tegas Ade.

Terpaan Badai dalam Perjuangan
Setelah bergabung dengan WeSpeakUp.org, menjadi salah satu pemuda penggerak yang beberapa kali mendapat ruang di media, Ade sempat mendapatkan perundungan.
Ada yang menanggapi salah satu artikel yang menyebutnya sebagai Kartini dari Medan dengan cemoohan. Mereka bahkan mempertanyakan dirinya, sebagai orang Medan yang memperjuangkan wilayah lain. "Kamu itu orang Medan, bukan Pangkalan Susu. Tidak usah sok pahlawan deh, urus saja daerahmu sendiri, atau sesuatu semacam itu, muncul di komen-komen dan mereka me-mention pihak lain, sehingga bola saljunya terus menggelinding," kata Ade setengah curhat.
Beberapa orang yang memang dikenalnya secara personal dia coba ajak bicara. Ada yang paham, tapi juga ada yang terus melakukan perundungan secara daring. Ade yang awalnya kesal, lama kelamaan belajar untuk tidak peduli. Orang-orang tersebut ketika dilihat satu per satu, memang orang-orang yang berpihak pada PLTU rupanya.
Terbukti bukan hanya dia yang menjadi bahan rundungan, orang tersebut juga secara konsisten membela PLTU, dan mengatakan kalau orang yang tidak setuju dengan PLTU, biasanya karena mereka sendiri yang malas melamar pekerjaan. Orang tersebut masih bersikukuh bahwa PLTU membuka peluang kerja dan tidak merusak lingkungan seperti yang disampaikan oleh LSM-LSM selama ini.
Perundungan seperti ini sama sekali tidak pernah terbersit di kepala Ade bakal terjadi padanya. Sekarang dia menganggapnya sebagai konsekuensi dalam melakukan perlawanan saja. Dia tidak akan mundur dari upaya mendampingi masyarakat terdampak PLTU di Pangkalan Susu, terutama warga perempuan.
Bagi Ade, bekerja di isu lingkungan dan perempuan lewat pendekatan kesejahteraan sosial, ilmu yang dipelajarinya di bangku kuliah, seperti menemukan equilibrium antara hati dan logika, antara empati dan strategi. "Aku nggak cuma pengen bantu orang, tapi juga pengen jadi bagian dari perubahan sosial yang berkelanjutan dan adil," kata Ade.
Setelah berinteraksi dengan YSL selama tiga tahun terakhir ini, dia belajar banyak dari para seniornya. Ade bercerita kalau dia sangat terinspirasi pada keberanian seniornya, yang sampai pernah berargumen hebat dengan orang PLTU, dikejar sampan, diteror, tetapi semua itu tidak membuatnya mundur. Dia bahkan pernah dengan lantang mempertanyakan tentang obyek vital.
"Kalau obyek vital memangnya kenapa?" kata Ade menirukan ucapan seniornya. Waktu itu mereka sedang berhadapan dengan pihak PLTU yang melarang warga menyeberang. “Kami ini orang yang paham regulasi, Pak. Tidak ada aturan yang melarang warga melakukan aktivitasnya di sini. Kami nelayan sudah lebih dulu mencari nafkah di sini, jauh sebelum ada PLTU,” imbuh Ade.
Pihak perusahaan memang selalu berusaha menekan warga dengan menggunakan istilah Obyek Vital Nasional. Warga yang tidak paham regulasi, mendengar kata nasional dan ditakut-takuti hukuman jika mereka melanggar saja, sudah surut dan batal beraktivitas. Padahal adalah hak warga untuk melaksanakan aktivitas mencari nafkah mereka. Perusahaan juga dengan semena-mena menuduh warga mencuri kabel, tetapi tidak pernah bisa membuktikan.
Dari pemberdayaan masyarakat yang dikerjakannya bersama YSL, dia belajar bahwa membantu komunitas adalah bukan tentang memberi bantuan secara fisik. Pemberdayaan sosial adalah mendorong komunitas agar bangkit dan mandiri.
Mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat di Indonesia membutuhkan banyak energi dan kesadaran di berbagai lapisan. Terutama bagi perempuan yang sering kali berada di garis terdepan ketika lingkungan rusak. Di sini Ade sadar bahwa kerja-kerja sosial berperspektif gender dan lingkungan sangat penting untuk mewujudkan keadilan yang sebenarnya.
Tentang Penulis:
Dian Purnomo adalah seorang penulis dan periset yang memiliki perhatian khusus pada isu-isu sosial dan lingkungan. Klik untuk melihat profil lengkap Dian Purnomo.