Dyah Hastari, Bergerak dalam Senyap di Dunia Pendidikan

Pendidikan adalah salah satu pintu yang harus dibuka seluas-luasnya untuk seluruh warga negara, sebagai salah satu upaya untuk memiliki kehidupan yang lebih baik, juga termasuk sebagai upaya mengentaskan kemiskinan. Sayangnya wajah pendidikan di negeri ini tidak seindah yang dicita-citakan. Akses terhadap pendidikan tidak semudah dan seterbuka itu, terutama bagi kelompok-kelompok marjinal. Ironinya di dunia yang telah demikian kapitalis, pendidikan juga menjadi salah satu komoditas dan bukan hak warga negara.

Gaji guru yang bisa terbilang sangat kecil, masih banyaknya guru honorer yang bahkan dibayar jauh di bawah standar minimum penghasilan, menunjukkan bahwa pengelola negara tidak serius meletakkan pendidikan sebagai upaya pengentasan kemiskinan. Tidak perlu terlalu jauh ke pelosok yang sulit mendapat akses terhadap fasilitas pendidikan, di kota-kota besar, termasuk yang dekat dengan ibukota saja, masih banyak guru honorer yang harus mengerjakan pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Kurangnya perhatian yang diberikan oleh pengelola negara terhadap para guru, dapat menyurutkan semangat orang-orang yang memiliki kapasitas menjadi pengajar yang baik. Ketika berbicara realita, setiap orang perlu mendapatkan penghargaan dan penghidupan yang layak. Dyah Hastari, salah seorang  penggerak yang tergabung dalam We Create Change Batch III memiliki pemikiran dan visi yang menarik terkait kondisi pendidikan di Indonesia tersebut.

 

Mengajar Sebagai Kebutuhan Naluriah

Terlahir dari seorang ibu yang berprofesi sebagai guru, Dyah tanpa sadar mengikuti jejak ibunya. Awalnya anak kedua dari tiga bersaudara ini tidak tahu kenapa dia begitu suka mengajar. Semuanya mengalir tanpa direncanakan. Kuliahnya juga bukan di bidang yang berkaitan dengan pendidikan. Manajemen Bisnis adalah jurusan yang ditekuninya setelah lulus dari SMA. Jujur dia mengakui bahwa pilihan ini bukan atas kemauannya sendiri. Di dalam proses menemukan passionnya, Dyah mendapatkan informasi jika kampus di dekat rumahnya menawarkan beasiswa penuh untuk jurusan Manajemen Bisnis.

Sebagai seorang kakak, Dyah merasa bahwa dia juga memiliki kewajiban untuk memberikan contoh pada adiknya. Mengurangi beban orang tua dalam membiayai pendidikannya adalah salah satu contoh yang baik menurut Dyah, maka dia mendaftarkan diri untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Begitu lolos beasiswa dan menjalani kuliah, Dyah merasa cukup menikmatinya.

Satu hal yang cukup menguntungkan bagi Dyah ketika kuliah adalah jarak antara rumah dan kampusnya sangat dekat. Dia jadi memiliki banyak waktu untuk tinggal di kampus dan berkegiatan di sana. "Jadi kalau orang lain perlu waktu ke kampus, aku kan nggak, ya. Di situlah keuntunganku. Aku bisa menghabiskan banyak waktu berkegiatan. Ada salah satu kegiatan kemanusiaan yang jadi titik balik hidupku waktu itu," kata Dyah.

Dyah dan kawan-kawan di kampusnya menginisiasi sebuah program dan membentuknya menjadi semacam UKM (unit kegiatan mahasiswa) sebagai inisiatif laboratorium percobaan. Ada berbagai pelatihan dan bentuk-bentuk peningkatan kapasitas lain yang dilakukan di dalamnya. Meskipun awalnya belum ada dasar untuk melatih, tapi Dyah tetap mencoba terjun ke dalamnya.

Salah satu pelatihan yang paling menyita perhatian Dyah adalah jika hal tersebut berhubungan dengan lingkungan. Dia merasa hatinya banyak tercurah ke isu tersebut. Selain melakukan pelatihan, organisasi yang dikelolanya juga menjalin kolaborasi dengan berbagai organisasi, kampus, dan lembaga lain yang memiliki nilai-nilai yang sama.

Dari aktivitas yang dilakukannya di UKM ini Dyah kemudian berkenalan dengan banyak hal di luar kehidupan kampusnya. Mengikuti beberapa talkshow interaktif dan seminar ternyata membuat Dyah perlahan menemukan passion dalam hidupnya. Ketika itu salah satu seminar yang diikutinya memberikan tugas untuk membuat projek.

Karena sudah memiliki jejaring dengan beberapa sekolah, Dyah memutuskan untuk membuat projek di sana, yaitu edukasi pembuatan kompos dan eco enzim. Rupanya sekolah membuka pintu luas untuk kolaborasi tersebut.

Dari situ Dyah menemukan teman-teman sefrekuensi dan semakin yakin kalau pendidikan dan dunia pengajaran adalah kebutuhan naluriahnya sebagai manusia. Dunia pendidikan kemudian diterjuni penyuka game online ini ketika suatu hari ada seorang kawan yang mencari MC dan moderator berbahasa Inggris. Waktu itu Dyah memberanikan diri untuk mengambil kesempatan tersebut. Rupanya salah satu peserta acara tersebut adalah seorang pengurus PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Dia kemudian menghubungi Dyah dan mengatakan kalau PKBM sedang membutuhkan guru bahasa Inggris.
Ketika akhirnya bertemu dengan ketua yayasan PKBM tersebut, Dyah merasa mampu dari segi waktu, dan dia memutuskan untuk menjadi pengajar di PKBM tersebut, hingga saat ini.

 

Passion x Hobi

Mendengar Dyah bercerita tentang bagaimana dia menghabiskan waktu untuk mengajar di PKBM, menghidupkan berbagai pelatihan di UKM dan sekolah-sekolah yang mereka dampingi, rasanya tidak menyangka bahwa perempuan kelahiran Bogor ini punya hobi bermain game online. "Iya, aku seneng banget main game di waktu luang, khususnya role playing game. Itu seru banget menurutku," kata Dyah sambil tertawa renyah. Dia tahu orang tidak ada yang menyangka kalau bermain game adalah hobinya, mengingat perhatiannya pada dunia pendidikan sangat tinggi.

"Orang selalu mikir game online itu negatif, tapi buatku sama sekali enggak. Karena setiap kali main game, pikiranku masih ada di dunia pendidikan dan pengajaran. Aku selalu mikir gimana ya caranya membuat aplikasi yang seru dan mendukung pendidikan, tetapi dengan game seperti ini. Jadi orang tidak sadar ketika bermain game sebenarnya mereka sedang belajar."

Ketika bermain Roblox, yang ada di dalam pikiran Dyah adalah bagaimana cara membuat peta baru untuk anak-anak didiknya di PKBM agar belajar dari sana. Imajinasi yang terus bermunculan di kepala Dyah pada saat bermain game tidak jauh-jauh dari dunia pendidikan dan murid-murid di PKBM-nya.

Di dalam kehidupan sehari-hari pada akhirnya Dyah mencoba mewujudkan imajinasinya dengan membuat percobaan beberapa permainan edukatif. Bukan hanya untuk anak-anak didiknya di PKBM, Dyah juga menerapkannya untuk membuat permainan mengenal Sustainable Development Goals (SDG’s).

Dari percobaan-percobaan yang dilakukannya, Dyah menemukan bahwa mengajarkan generasi yang memang sudah terbiasa dengan gawai menjadi jauh lebih mudah. Sementara untuk generasi yang lebih senior perlu lebih banyak kesabaran, karena memang mereka tidak semelek gawai itu dibandingkan generasi yang lebih muda. Dampak dari aplikasi pembelajaran yang dibuatnya bukan hanya membuat pada murid lebih senang belajar, tetapi juga mengangkat rasa percaya diri mereka.

Selama ini ada stigma bahwa orang yang belajar di PKBM, bukanlah belajar dalam arti sesungguhnya. Mereka hanya mencari ijazah, sehingga secara metode belajar dan lain sebagainya tidak terlalu diperhatikan. Dengan metode belajar melalui aplikasi, anak-anak muridnya merasa lebih bangga karena diperlakukan setara dengan kawan-kawan lainnya yang bersekolah di sekolah formal. "Jadi ada kebanggan gitu. Mereka bilang mereka merasa kayak anak sekolah beneran," kata Dyah menirukan ucapan murid-muridnya.

 

Bergerak dalam Senyap

Melihat kondisi pendidikan saat ini, seperti banyak orang yang lain, Dyah merasa sangat prihatin. Orang-orang yang memiliki potensi baik menjadi seorang pengajar, mungkin akan menggugurkan niatan mereka menjadi guru karena tidak masuk akal untuk dijadikan sebagai profesi. "Mengharapkan gaji guru naik rasanya masih jauh banget sekarang ini, apalagi guru honorer," kata Dyah.

"Tapi guru-guru yang baik harus tetap kita dorong untuk lahir. Menunggu negara berubah juga rasanya tidak akan terjadi terlalu cepat, maka memang kita yang harus bergerak sendiri di bawah tanah," lanjut perempuan yang pernah menjadi pengajar favorit di PKBM Gemar Ilmu ini.

Salah satu cita-cita Dyah saat ini adalah membuat komunitas, atau kelak jika telah cukup kuat atau diperlukan, komunitas tersebut bisa menjadi sebuah entitas hukum yang lebih memiliki kredibilitas. Komunitas yang sedang direncanakan akan dibentuk oleh Dyah akan menjadi alat untuk mendorong para guru menjadi lebih berdaya. Upaya yang dilakukannya bisa dalam bentuk peningkatan kapasitas guru tersebut, atau juga memberi peluang untuk mengerjakan hal lain di luar mengajar, sebagai sumber mata pencaharian tambahan.

Cita-cita ini berawal dari salah satu mata kuliah yang didapatkannya di kampus. Corporate Social Responsibility (CSR) adalah mata kuliah favorit Dyah. Di kuliah tersebut dia mendapatkan pengetahuan bukan hanya terkait CSR saja, tetapi juga tentang bagaimana membuat proposal, komunikasi pembangunan, dan publik relation (PR).

Dari mata kuliah ini juga, alumni batch 3 We Create Change ini mengenal WeSpeakUp.org. Waktu mendaftar untuk menjadi salah satu Changemakers di boot camp yang dibuat WeSpeakUp.org, Dyah bahkan sebetulnya tidak yakin akan lolos. Dia senang akhirnya menjadi bagian dari WCC, bertemu dengan banyak kawan yang sefrekuensi dengan pemikirannya.

Jika ditanya apa yang akan dilakukannya dalam 3-5 tahun ke depan, sambil tersenyum Dyah mengatakan bahwa dia akan melakukan aura farming. Eksplorasi diri sembari memastikan bahwa kesejahteraannya sendiri juga akan meningkat, adalah hal pertama yang terpikirkan. Selain itu, Dyah sangat ingin menginisiasi program pemberdayaan bagi guru dan tutor-tutor pendidikan informal sepertinya agar lebih melek teknologi.

"Sekarang aku sedang farming material dulu," katanya. "Nanti kalau aku sendiri sudah lumayan dan bisa jadi contoh, aku akan serius membuat program pendidikan itu, terutama yang menggunakan teknologi."

Kegemaran Dyah pada permainan online membuatnya banyak terinspirasi pada penggunaan teknologi untuk pendidikan. Menurut Dyah jika teknologi selama ini sering kali dikonotasikan dengan hal buruk, atau dampak negatif, hal tersebut lebih karena orang yang menggunakannya memilih bagian negatif dari teknologi. Buat Dyah, meskipun bermain game, tetapi teknologi juga memberi kita pilihan untuk bermain yang mendidik. Inilah yang sedang diupayakan untuk dikembangkan.

Dyah percaya bahwa masa depan bangsa ini tidak akan pernah lepas dari dunia pendidikan. Pendidikan yang baik akan selalu membutuhkan para pendidik yang juga baik, memiliki passion terhadap ilmu pengetahuan, dan adalah tugas negara untuk memastikan kesejahteraannya.

Sementara Negara masih sibuk dengan hal lain, Dyah akan terus bergerak di dalam senyap, mengambil peran dalam skup kecil yang memungkinkan untuk dikerjakan.

Semangat berjuang, Dyah Hastari!

 

Tentang Penulis:
Dian Purnomo adalah seorang penulis dan periset yang memiliki perhatian khusus pada isu-isu sosial dan lingkungan. Klik untuk melihat profil lengkap Dian Purnomo.

se other articles

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram