Pertama kali memperkenalkan diri, Nala Aprilia, salah seorang changemakers We Create Change Batch III ini menjelaskan, bahwa nama depannya, Nala, berarti jantung hati.
Perempuan yang saat ini sedang menjalani kuliah di jurusan psikologi ini, memang sulit untuk tidak merebut jantung dan hati kita. Melihat kiprahnya yang luar biasa di isu iklim, rasanya orang tua Nala tidak salah memberinya nama.
Karena aktivitas yang dilakukannya dalam mengkampanyekan krisis iklim, Nala pernah mendapat kesempatan untuk mengikuti beberapa acara terkait iklim di berbagai kota. Selain itu, Nala juga terpilih mewakili Asia, di Program Purpose yang diselenggarakan oleh PBB, untuk menyatakan pendapat dan keresahannya terkait kerusakan lingkungan di wilayahnya. Video program tersebut dapat disaksikan di sini.
Menikmati proses dan menjadi pemberani
Ketika pertama kali diajak ngobrol dan diminta memilih sendiri bagian mana yang akan dia ceritakan dalam tulisan ini, Nala memilih bercerita tentang proses hidup yang sedang dia dan kawan-kawan seusianya jalani. “Aku belum sampai tujuan, jadi belum bisa bercerita tentang keberhasilan,” katanya rendah hati.
Nyatanya, hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Nala telah berhasil mencuri hati panitia Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-27 di Mesir (COP27). Ketika ditanya apa yang sudah dia lakukan hingga berkesempatan untuk menjadi perwakilan anak muda dari Indonesia untuk mengikuti COP di Mesir tersebut. Nala mengangkat bahu. Katanya, dia hanya mendapatkan informasi kalau ada kesempatan untuk datang ke COP27, lalu dia mendaftarkan diri, dan diterima begitu saja.
Kita tahu keajaiban sering kali hanya ada di dalam fiksi. Dalam keseharian kita sebagai manusia, untuk mencapai titik tertentu, ada kerja ekstra keras yang harus dilakukan. Demikian juga dengan Nala. Di balik terpilihnya dia berangkat ke Mesir untuk mengikuti COP adalah karena kerja keras dan kukuhnya untuk mengkampanyekan isu lingkungan dengan cara yang khas anak muda.
Terinspirasi oleh gerakan Fridays for Future yang dilakukan oleh Greta Thunberg, Nala berkeliling lingkungan tempat tinggalnya dengan bersepeda, di mana di bagian depan sepeda dia pasang poster bertema penyelamatan lingkungan. “Aku selalu berusaha untuk bergerak walaupun dengan ketakutanku,” katanya sembari tersenyum mengingat Nala yang baru lulus SMA, sesemangat itu melakukan kampanye sendirian.
Foto-fotonya ketika melakukan Fridays for Future kemudian dia posting dan mendapat cukup banyak perhatian. Tampaknya upaya Nala dalam bergabung di gerakan kampanye untuk mengingatkan masyarakat agar terus menjaga kelestarian lingkungan ini yang membukakan pintu COP buatnya.
Di Mesir ada banyak orang yang ditemui Nala, yang kemudian terus saling menjadi penjaga semangat melakukan upaya pelestarian lingkungan ketika pulang ke negara masing-masing.
Hal ini yang Nala ingin tularkan pada banyak kawan mudanya. Menurut pemikiran Nala, selama ini ada banyak sekali anak muda yang merasa silau pada hal-hal besar, dan menghabiskan waktu terlalu banyak untuk mendapatkan hal tersebut, tanpa sadar konsekuensinya. Hal-hal kecil jadi kurang mendapat perhatian.
Banyak orang muda yang merasa gagal hanya ketika tidak berhasil mencapai satu hal besar yang menjadi standard mereka.
Buat Nala, hidup adalah proses yang harus dilalui dan tidak semuanya terdiri dari hal-hal besar saja. Ada hal-hal sederhana yang juga harus dirayakan dan dinikmati. Tanpa bermaksud menggurui, karena Nala sendiri belajar dari kesalahan yang dilakukannya.
Kembali ke tahun 2021, ada masa di mana Nala merasa menjadi orang yang sangat gagal. Impiannya untuk mendapatkan beasiswa berkali-kali terhempas. Dia bahkan harus mengambil gap year sebelum akhirnya masuk ke bangku kuliah.
Jika melihat kembali ke waktu itu, Nala merasa bahwa dia sudah menyia-nyiakan banyak berkah di masa lalu. Waktu itu, perempuan berzodiak Taurus ini sempat membuat orang tuanya khawatir. Dia menghabiskan banyak waktu di dalam kamar, melihat ke awan dari balik jendela, tanpa melakukan apapun sama sekali. Malam-malam dihabiskan dengan menangisi kegagalannya mendapatkan beasiswa. Jika bisa kembali ke masa itu, rasanya Nala ingin mengingatkan dirinya agar tidak selarut itu menghadapi keadaan.
Karena toh semua hal buruk akan berlalu. Dia percaya semesta bergerak dengan cara ajaib dan setiap orang memiliki linimasa yang berbeda-beda.
Linimasa manusia
Di ilmu psikologi yang dipelajari Nala sekarang, dia belajar banyak tentang kondisi krisis yang dialami manusia di berbagai fase hidupnya. Quarter life crisis atau krisis seperempat baya, salah satunya. Secara teori krisis ini terjadi di usia 20-an, dimana orang menjadi sangat kehilangan arah, identitas, bahkan sampai kehilangan harapan hidup. Bagi Nala quarter life ini bahkan sudah dialaminya di umur 17-an.
Ketika berusia 17 tahun, saat itu seluruh dunia sedang mengalami krisis karena pandemi yang menghajar bukan hanya kesehatan manusia, tetapi juga kehidupan sosial dan ekonomi. Pada saat yang sama, Nala juga sedang bertarung dalam mencapai impiannya. Ayah yang biasa mendapatkan penghasilan dari sewa kendaraan yang mereka miliki, terpaksa kehilangan banyak order. Nala yang masih SMA waktu sangat terdampak karenanya. Nala harus membantu ibunya berjualan. Banyak waktu dihabiskannya untuk memikirkan kapan pandemi akan berakhir.
Ketika semua cerita tersebut sudah menjadi bagian dari sejarah, Nala dan orang-orang terdekatnya dapat melihat semua peristiwa tersebut sembari tersenyum. Keberanian untuk bersepeda sambil melakukan kampanye juga buah dari apa yang dialaminya ketika pandemi.
Waktu itu Nala sempat mengalami sakit batuk yang tidak sembuh-sembuh. Setelah mencari di berbagai literatur, kemungkinan olahraga dapat membantu meringankan gejala penyakit yang dialaminya.
Dari sini Nala belajar bahwa sering kali penderitaan yang dialami manusia sedang mengajarkan untuk melakukan hal baik yang mungkin tidak terpikirkan, ketika sedang dalam kondisi normal.
Dari banyak hal yang dialaminya, Nala juga jadi belajar bahwa tidak semua orang akan melalui tangga dan jalur yang sama. Ada orang-orang tertentu yang mendapatkan banyak hal sesuai dengan yang mereka harapkan dan dalam waktu yang juga bersamaan, tetapi tidak sedikit yang mendapatkannya di waktu yang berbeda dari harapan mereka.
Kebahagiaan juga tidak harus datang dari hal besar. Hal-hal sekecil tempe goreng juga bisa membuat kita bahagia. “Iya, buatku tempe goreng itu sesuatu banget. Karena selama kos di Solo, lauk-pauk kering masih sering dikirimin sama Bunda, untuk menghemat biaya hidup. Padahal lauk favoritku itu tempe goreng buatan Bunda. Karena tidak bisa mengirim dari Bogor, jadi begitu dapat tempe goreng hangat di warung yang mirip buatan Bunda, itu rasanya sudah berkah banget,” kata Nala.
Hal seperti ini yang menurut Nala sering luput disadari banyak orang. Orang sibuk mengejar hal besar, sehingga melupakan kebahagiaan-kebahagiaan dan pencapaian-pencapaian kecil lain yang mestinya juga butuh dirayakan.
Mengambil Banyak Peran dalam Hidup
Dalam perjalanan hidupnya, Nala memutuskan bahwa dia akan mengambil banyak peran di dalamnya. Dia tidak percaya bahwa setiap orang hanya boleh memerankan satu hal dalam hidup. Dia percaya bahwa semesta memberkati manusia dengan banyak kelebihan, termasuk dalam hal mengatur ritme hidup mereka masing-masing. Dia belajar tentang hal tersebut dari pengalaman pribadinya. Nala sangat peduli pada isu kesehatan mental. Tetapi di saat yang sama dia juga peduli pada isu lingkungan.
Di kampusnya yang berbasis Agama Islam, tentu Nala diajarkan banyak pengetahuan yang berbasis keyakinan tersebut. Ini membuat ada banyak hal berdesakan di dalam kepalanya dan muncul sebagai energi dan pemikiran ke depan terkait apa yang ingin dicapainya di masa mendatang.
Nala bercita-cita menjadi seorang psikolog yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Alam dan manusia adalah dua entitas yang tidak dapat dipisahkan. Kesehatan manusia bergantung pada kelestarian alam secara keseluruhan, bukan hanya di tempat yang ditinggalinya. Maka memastikan kelestarian lingkungan dapat dikatakan juga merupakan upaya untuk menjaga kesehatan manusia, baik jiwa maupun raga.
Dia bercita-cita untuk mendirikan sebuah lembaga semacam pesantren ekologi yang terbuka untuk siapapun yang berniat belajar agama dan lingkungan secara bersamaan. Nala percaya bahwa agama apapun mengajarkan manusia untuk berbuat baik bukan hanya terhadap sesama manusia, tetapi juga pada lingkungan, termasuk hewan, tumbuhan, air, tanah, bahkan udara. Dengan melakukan kejahatan terhadap lingkungan, manusia sesungguhnya sedang menunjukkan ketidaktaatannya pada Tuhan.
Selain pesantren ekologi, di jangka waktu yang lebih pendek, Nala sangat ingin memiliki aktivitas pemberdayaan masyarakat di sekitarnya. Ada banyak perempuan yang bisa diberdayakan dalam upaya pelestarian lingkungan, misalnya dengan memanfaatkan sampah sebagai bahan baku membuat sesuatu yang menghasilkan, atau kegiatan yang sifatnya pengelolaan sampah lain. Sampah menjadi salah satu pemikiran terbesar Nala karena saat ini orang menganggap sampah sebagai barang tidak berguna, padahal mereka bisa menjadi modal, jika diolah dengan baik.
Semangat Nala bekerja di isu lingkungan juga karena dukungan banyak orang. Sekedar cerita bagaimana alam bekerja, terjadi di awal kuliahnya. Karena kondisi ekonomi orang tuanya yang sedang berbenah kembali paskapandemi, Nala tidak tega meminta laptop untuk kuliahnya. Maka dia bercerita pada salah seorang kawan yang merupakan pelatih tenis dari Swiss. Dia sangat mendukung gerakan yang Nala lakukan. Orang yang tinggal ribuan mil dari Solo tersebut, kemudian mengirimkan uang untuk Nala membeli laptop baru. Pesannya adalah, “Gunakan laptop ini sebagai pendukung upayamu melestarikan lingkungan.”
Nala tahu jalur yang dipilihnya tidak akan mudah. Menjadi orang yang menunjukkan kepedulian terhadap iklim dengan mengikuti kampanye Fridays for Future saja, dia sudah dianggap gila, apalagi mencoba mengombinasikan kepedulian lingkungan dengan agama dan psikologi, pasti tidak mudah.
Tapi Nala tahu bahwa pilihannya memang di jalur yang mungkin sunyi. Dia percaya pada linimasa yang sudah diatur oleh semesta. Dia juga tahu bahwa hasil tidak akan membohongi usaha. Maka nala akan bekerja sangat keras untuk mewujudkan impiannya.
Semangat Nala, si jantung hati yang penuh cinta pada bumi!



