Jika melihat foto-foto dari Pariwisata Alor yang memuat wajah seorang perempuan yang memakai ikat kepala dari tenun Alor, dialah No Ayu.
Perempuan yang kerap disapa Kak Ayu ini merupakan salah satu icon wisata Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Tenun yang terpasang di kepalanya adalah ciri khas, yang inspirasinya dia dapatkan dari mama-mama Alor yang hidup di sekitarnya.
Perempuan Alor tidak dapat dilepaskan hidupnya dari kain tenun. Mulai dari membuat tenun, menjadikannya sebagai salah satu mata uang ketika harus barter dengan bahan kebutuhan rumah tangga lain, tenun sebagai pakaian dan identitas kebanggan. Bahkan ketika harus keluar rumah untuk berkebun, para mama menggunakannya sebagai penahan agar sinar matahari tidak menyerang langsung ke ubun-ubun.
Tulisan kali ini adalah tentang No Ayo, salah seorang peserta We Create Change Batch III yang berasal dari Alor.
Mengembalikan Kebaikan dengan Kebaikan
Ketika ditanya bagaimana No Ayu mengawali kehidupannya sebagai aktivis lingkungan seperti sekarang, dia menjawab bahwa semua berawal ketika masih SMP. Dia merupakan salah satu anak yang didampingi oleh Wahana Visi Indonesia (WVI). “Banyak kesempatan yang kudapatkan ketika masih didampingi WVI,” katanya memulai cerita. Ayu pernah bergabung sebagai anggota marching band, mengikuti jambore anak, dan ketika Forum Anak diinisiasi oleh WVI, Ayu turut menjadi bagian di dalamnya.
No Ayu menganggap bahwa Forum Anak Alor adalah tempat belajar pertama dalam berorganisasi, mendalami berbagai isu, dari mulai isu anak, sosial, dan lingkungan, serta kepemimpinan. Ada banyak fasilitas dan kesempatan yang diberikan. Potensi diri yang selama ini terpendam jadi mulai digali di organisasi ini. Di Forum Anak juga, pertama kali Ayu mendapatkan kesempatan untuk memimpin sebuah organisasi.
Di bawah kepemimpinannya, Forum Anak Alor melakukan banyak kegiatan, termasuk diantaranya membuat kantin kejujuran. Salah satu hal yang masih diingat oleh Ayu sampai sekarang, adalah ketika para anggota Forum Anak hadir di sebuah kegiatan, di mana marching band tampil di sana. Waktu itu marching band baru ada dua grup saja di Alor, sehingga menyaksikan penampilan mereka secara langsung adalah hal yang luar biasa. Namun yang membuat hal tersebut mengesankan adalah karena aktivitas yang dilakukan Forum Anak.
Mereka tidak sekedar datang untuk menonton. Anak-anak tersebut hadir dan berinisiatif mengikuti acara dan juga mengambil sampah yang terserak. “Jadi kami anak-anak ini membawa kantong plastik dan mengumpulkan sampah sisa-sisa botol minuman, biskuit, permen, dan masih banyak lagi. Buatku itu berkesan sekali,” kata Ayu.
Berkat apa yang dilakukannya di Forum Anak, bahkan setelah tidak lagi berusia anak, Ayu masih diminta untuk mendampingi adik-adik di forum tersebut. Selain itu, bersama WVI Ayu diajak mendampingi anak-anak di desa yang belum bergabung dalam forum. Kenangan tentang apa yang dilakukannya bersama WVI mendampingi anak-anak di Alor meninggalkan kesan yang cukup mendalam. Ini salah satu hal yang kemudian membuat Ayu merasa bahwa dia juga harus melakukan banyak kebaikan, untuk membalas kebaikan yang pernah diterimanya.
Kelestarian Alam di atas Segalanya
Tahun 2015 Ayu mulai memasuki dunia kerja yang cukup menyenangkan. Dia menjadi pemandu wisata yang cukup banyak mempromosikan Alor. Dengan penampilannya yang khas memakai ikat kepala, Ayu mudah dikenali dan cukup mendapat banyak tamu. Ada banyak destinasi wisata yang dulu sepi dikunjungi orang, perlahan-lahan diperkenalkan oleh Ayu dan tempat itu menjadi sangat ramai, bahkan diliput oleh banyak media. Beberapa TV nasional datang mengunjungi dan membuat liputan dari pantai-pantai yang asri tersebut.
Meskipun senang Alor mendapat banyak perhatian dari media, tapi dampaknya membuat Ayu resah. Pantai-pantai bersih yang pasirnya halus tersebut, perlahan-lahan menjadi rusak karena pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Sampah berserakan, pantai yang dulunya hening dan tenang, menjadi ramai. Di beberapa lokasi wisata yang dipromosikan oleh Ayu, ada juga titik-titik habitat dugong, yang sudah pasti ikut terdampak karena ramainya wisatawan.
“Aku membayangkan 20 tahun ke depan, kalau tempat-tempat ini rusak, habitat di dalamnya terganggu, apalagi kalau sampai ada investor yang membangun ini itu. Aku merasa ikut berdosa terhadap lingkungan, karena sudah menjadi salah satu yang memperkenalkan mereka,” kata Ayu getir. “Aku nggak bisa membayangkan anak-anakku akan melihat keindahan Alor hanya dari foto saja, karena barangnya sudah tidak ada lagi,” tambahnya.
Pemikiran-pemikiran ini yang kemudian membuat Ayu memutuskan untuk berhenti menjadi pemandu wisata. Dia mundur perlahan-lahan, karena saat itu pemandu wisata adalah mata pencahariannya. Sembari mencari pengganti sumber penghasilan, Ayu mulai memberikan permintaan-permintaan memandu pada kawannya yang lain.
Di tengah perasaan mulai khawatir dari tadinya banyak job memandu wisata, lalu tiba-tiba berkurang drastis, meskipun atas kemauan sendiri, semesta datang dengan kasih sayang. Saat itu awal pandemi Covid, begitu banyak hal yang dipindahkan menjadi kegiatan daring. Di situlah Ayu mulai mendapatkan pekerjaan-pekerjaan barunya. Dia banyak mendapat undangan menjadi pembicara terkait wisata. Semesta memang akan selalu membukakan pintu untuk setiap niat mulia.
Tahun 2021-2022 Ayu mulai berkenalan dan berkolaborasi dengan berbagai komunitas. Trash Hero di Alor merekomendasikan Ayu, karena dia pernah membuat kegiatan di World Clean Up Day tahun 2019 yang cukup sukses. Dari rekognisi yang diterimanya ini, Ayu menjadi lebih percaya diri, bahwa inilah jalur yang sedang dipilihkan semesta untuk dia jalani.
Hingga saat ini Trash Hero masih berjalan. Tetapi Ayu menyadari sekali bahwa hal-hal seperti ini sulit dipaksakan. Semua orang yang bergabung di dalamnya adalah relawan. Dengan kesibukan lain yang mereka miliki, dari mulai bekerja atau kuliah, tentu tidak bisa selalu ada untuk kegiatan tersebut. Tetapi sekuat tenaga Ayu dan kawan-kawannya terus mengupayakan kegiatan tersebut terus berjalan. Dia percaya bahwa kelestarian alam harus tetap didahulukan dibanding apapun.
Merawat Kekayaan Budaya dan Lingkungan
Keputusan untuk berhenti dari pekerjaan sebagai pemandu wisata membawa dampak besar pada kehidupan Ayu. Kecintaan pada lingkungan kemudian mempertemukannya kembali pada pemikiran tentang bagaimana dampak dari kerusakan lingkungan telah merambat ke berbagai hal.
Sebagai perempuan yang pernah menjadi icon Alor dengan ikat kepala tenunnya, meskipun memutuskan untuk melepas ikat kepala tersebut, karena mengalami perundungan, Ayu jadi memikirkan kembali bahwa tenun adalah salah satu cinta pertamanya. Dia ingat bagaimana neneknya memiliki begitu banyak koleksi tenun. Terlepas dari sulitnya perekonomian mereka, sang nenek sering sekali punya kain tenun baru yang ditimang dan dipamerkan pada Ayu setiap dia pulang sekolah.
Ketika ditanya, kenapa masih beli tenun juga, padahal katanya sedang tidak punya uang, neneknya menjawab, “Ini tidak beli. Tadi ada satu mama datang, dia tidak punya uang untuk beli padi dan jagung. Nenek tukar satu belek padi dan jagung dengan kain ini.” Tanpa disadari oleh perempuan-perempuan Alor, mereka telah melestarikan kekayaan budaya tersebut dalam banyak bentuk.
Di Alor yang mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai petani dan nelayan, hampir semua perempuannya adalah penenun. Mereka naik ke Kalabahi dan mengetuk pintu ke pintu untuk menawarkan kain tenun. Dari sinilah Nenek Ayu punya banyak kawan perempuan penenun. Ayu melihat hubungan mereka seperti para bestie, yang bukan sekedar jual beli. Ada pertukaran informasi, membicarakan makanan, budaya, keluarga, dan banyak hal lagi.
Sayangnya kondisi tenun di Alor banyak terdampak karena perubahan iklim. Ayu menyadarinya ketika sudah semakin banyak belajar tentang lingkungan, dan berani menyebut dirinya sebagai aktivis lingkungan. Dengan berubahnya pola konsumsi masyarakat, terutama pesisir, sekarang menemukan pohon kapas yang asli sudah sulit. Pohon kapas masih bisa ditemui satu batang di rumah tenun. Di kampungnya sendiri, Ayu sudah tidak menemukan pohon tersebut.
Kemudian pewarna alam, sudah banyak yang tidak tersedia lagi, atau sudah masuk dalam kategori biota yang dilindungi dan dilarang diambil. Bagusnya, masyarakat menurut dan tidak melanggar aturan tersebut. Tetapi tantangannya adalah, masyarakat jadi menggunakan bahan pewarna kimia, yang tentu saja tidak ramah terhadap lingkungan. Atau ada juga penenun yang mengakali dengan mencampur sebagian bahan alami dengan kimia.
Jika merujuk ke praktik di masa lalu, tenun sebetulnya adalah sebuah tradisi kerja bersama yang karib bagi masyarakat Alor. Orang muda yang pergi ke hutan mencari pewarna alami, orang-orang yang lebih senior mengolah pewarnanya setelah semua bahan terkumpul. Para laki-laki memetik kapas dan memintalnya menjadi benang. Lansia yang melakukan pencelupan warna, lalu para mama yang membuat motif dan menenun benang-benang hasil pintalan tersebut.
Saat ini mencari pemintal saja sudah susah. Tentu, karena kapasnya juga nyaris musnah. Sekarang para mama yang masih punya hasil tenun dari benang kapas menyimpan betul kain tersebut sebagai benda berharga. Mereka baru bersedia menjualnya jika ada kebutuhan yang sangat mendesak.
Saat ini Ayu menghidupi dirinya sendiri dan komunitas tenun di Alor dengan kain-kain tersebut.
“Sayangnya banyak motif yang sudah hilang,” tutur Ayu dengan sedih. Proses regenerasi yang lambat ke angkatan yang lebih muda menjadi salah satu penyebabnya. Banyak anak muda yang enggan belajar tenun. Mereka hanya mau membuat tenun “main-main”–begitu istilah yang dipakai para mama untuk menggambarkan tenunan syal-syal kecil. Tenun yang sesungguhnya adalah membuat kain yang lebar dan bisa dipakai menjadi sarung.
Di bawah brand @tenundarialor No Ayu mengkurasi sendiri kain-kain tenun yang dijualnya. Dia tidak lagi menerima titipan, karena takut barang terlalu lama dia pegang, sementara pada mama penenun butuh uang lebih cepat. Ayu membeli putus kain-kain yang dikurasinya. Memang agak berisiko, karena kain ada yang baru laku setelah tiga tahun kemudian. Tapi dengan cara ini setidaknya dia tidak membuat para mama menunggu.
Dia berusaha mencari kain yang benar-benar alami, atau jika tidak mendapatkan yang 100% alami, Ayu akan dengan jujur menyampaikannya pada pembeli bahan-bahan yang sesungguhnya. “Paling tidak suka kalau ada penjual tenun yang berbohong. Mengatakan kalau bahan alami, supaya bisa mendapat harga tinggi, padahal sesungguhnya bahan campuran, atau bahkan kimia semua,” kata Ayu. Kebohongan seperti itu yang bisa merusak bukan hanya nama baik pedagangnya, tetapi juga pandangan orang terhadap Tenun Alor.
Alor is Me
No Ayu juga memiliki keprihatinan tersendiri pada kondisi Alor sekarang. Alor yang diingatnya dulu sangat tentram dan damai. Orang membangun masjid dibantu oleh warga Kristiani, begitu pula sebaliknya, ketika gereja sedang didirikan, kawan Musim berbondong-bondong mengulurkan tangan. Tapi saat ini, pergesekan antar individu saja mudah sekali dibawa ke isu SARA. Ayu berharap hal ini tidak berkelanjutan.
Ayu merasa bahwa keberadaannya di dunia tidak bisa dilepaskan dari Alor. Wajah Alor adalah wajahku, demikian katanya. Alor is me. Di tengah kondisi mulai ditinggalkannya Alor oleh anak-anak muda, yang merasa bahwa kehidupan yang lebih baik menanti mereka di luar Alor, Ayu memutuskan untuk tinggal. Dia tengah membangun mimpinya mewujudkan sebuah rumah belajar, dimana orang muda bisa belajar bersama di sana.
Dia membayangkan rumah belajarnya nanti akan menjadi tempat orang-orang muda yang memiliki visi serupa, mempertahankan tradisi dan budaya baik, menjaga kelestarian lingkungan, termasuk belajar keahlian seperti tenun, bahasa Inggris, dan sebagainya. Di rumah itu juga, Ayu akan memajang kain-kain yang sudah dikurasinya.
Alor adalah Alor. Meskipun Ayu memahami bahwa industri pariwisata seperti memaksa Alor berkejaran dengan Sumba, Bajo atau bahkan Bali, tapi Alor harus mempertahankan identitas. Alor yang warganya jujur dan rukun, alamnya indah, dan tenunnya cantik. Rumah Belajar yang Ayu impikan mungkin tidak akan besar dan megah, tetapi dia berharap dari kelompok kecil di mana orang-orang di dalamnya mau belajar toleransi, menjaga lingkungan, maka di situlah identitas Alor akan terus dijaga.



