×
Icon WeSpeakup YellowIcon WeSpeakup Yellow

Khotbah Pinggiran: Ruang Aman bagi Penggerak Perubahan dari Pinggiran untuk Bercerita dan Didengarkan

Ketika orang yang paling termarginalkan bicara, apakah ada yang akan sungguh-sungguh mendengarkannya? Dalam esai Can the Subaltern Speak?, Gayatri Chakravorty Spivak, salah satu pelopor studi poskolonialisme, mengajukan pertanyaan ini. Spivak berpendapat bahwa mereka hanya akan didengar ketika ucapan mereka sesuai dengan sistem yang dominan, bahasa politik, narasi media, atau kampanye sosial. Apabila tidak sesuai dengan itu, suara mereka akan ditulis ulang atau bahkan diabaikan.

Berangkat dari pertanyaan serupa, lahirlah Pesta Pinggiran. Salah satu mata acara utama Pesta Pinggiran 2026 adalah Khotbah Pinggiran, program kolaborasi antara Project Multatuli dengan WeSpeakUp.org.

Program ini dirancang untuk menjadi ruang penceritaan (storytelling), dengan menghadirkan kisah-kisah warga dari berbagai daerah di Indonesia, yang ceritanya luput dari sorotan media arus utama. Menghadirkan sembilan pembicara dari latar belakang yang beragam, Khotbah Pinggiran memperkuat suara mereka yang sering kali dipinggirkan, diisolasi, atau diabaikan dalam diskursus besar.

Dengan format monolog satu arah disertai elemen teatrikal, setiap pembicara membagikan pengalaman dan perjuangan unik dari daerah mereka, baik tentang eksploitasi sumber daya alam, ketimpangan sosial, diskriminasi, maupun keberdayaan kolektif untuk membangun harapan di tengah kondisi sulit. Dengan demikian, Khotbah Pinggiran menjadi sarana membangun kesadaran kritis tentang kekuasaan menindas dan menghadirkan narasi alternatif, dengan mengedepankan refleksi dan dialog, serta menumbuhkan harapan.


WeSpeakUp.org membersamai persiapan setiap pengkhotbah, melalui beberapa tahap:

  1. penggalian cerita personal melalui wawancara mendalam
  2. penulisan narasi dengan merajut benang merah antara kisah personal dengan isu sosial yang mereka perjuangkan
  3. pelatihan public speaking dan storytelling bersama ahlinya, termasuk latihan di atas panggung
  4. produksi slide visual untuk lebih menghidupkan cerita

 

Di babak pertama, yang bertajuk “Suara Pinggiran, Si Penggerak dalam Empat Babak”, empat orang penggerak perubahan berbagi kisah. Gernata dari Ibu Berisik, berbagi cerita tentang peran ibu dalam gerakan sosial. Berangkat dari para ibu yang menolak untuk diam melihat ketidakadilan, obrolan saat makan bersama anak di rumah bisa jadi permulaan perubahan.

“Dari semua perjuangan ini, saya sadar bahwa keputusan politik bisa saja diketok di gedung DPR, tapi perilaku politik yang sesungguhnya tumbuh dari meja makan.” (Gernata, Ibu Berisik)

 

Senada dengan itu, Jorgiana Augustine juga merefleksikan bahwa gerakan kolektif lahir dari hal-hal kecil. Pertemuan yang tidak disengaja, obrolan santai, nongkrong, atau tertawa dan sedih bersama. Dari situlah juga lahir ide untuk memulai Aksi Tenda di depan DPR pasca-disahkannya RUU TNI tahun lalu.

“Negara bisa saja mempersenjatai hukum, aparat, dan kekerasan. Tapi yang tidak pernah benar-benar bisa mereka kendalikan adalah: ingatan, solidaritas, dan keberanian sederhana untuk tetap saling menemukan.” (Jorgiana Augustine, aktivis perempuan)

 

Selanjutnya, Pujo Nugroho atau akrab dipanggil Pupung, berbagi cerita tentang pola pelanggaran HAM masa lalu yang masih relevan hingga hari ini. Bersama kolektif Bersemai Sekebun yang turut ia dirikan, mereka mencoba menyemai pengetahuan dan menjadi jembatan antara kisah para penyintas pelanggaran HAM berat seperti 1965 dengan generasi hari ini.

“Ini bukan sekadar cerita tentang penyintas kejahatan kemanusiaan atau pelaku. Ini adalah cerita kita semua untuk berkontribusi pada masa depan yang lebih baik.” (Pujo Nugroho “Pupung”, Bersemai Sekebun)

 

Bagja dari Silang.id, yang juga seorang praktisi budaya Tuli, berbagi kisah tentang perjalanan menemukan diri sendiri. Serta bagaimana ia turut membangun budaya Tuli.

“Dari pengalaman-pengalaman inilah saya mulai memahami bahwa inklusi tidak bisa bergantung pada niat baik, tetapi harus dibangun sebagai sistem.” (Bagja, Silang.id & praktisi budaya Tuli)

 

Bertajuk “Suara Masyarakat Adat dalam Empat Babak”, babak kedua menghadirkan para pejuang kelestarian ekosistem dan budaya. Sesi ini dipandu oleh Sakdiyah Ma’ruf sebagai moderator dan dibuka dengan stand-up comedy oleh Harry Hartanto.

“Saat pemerintah sebuah negara berniat mencaplok negara lain, dengan mudah kita sebut penjajahan, lalu saat perusahaan merebut ruang hidup Masyarakat Adat, apakah kita masih menyebutnya demi pembangunan, kemajuan, atau pembukaan lapangan kerja?” (Sakdiyah Ma’ruf, komedian & figur publik)

 

Pengkhotbah pertama di Sesi 2, Mersi Silalahi, adalah seorang Perempuan Adat Sihaporas. Ia menceritakan perjuangan Masyarakat Adat Sihaporas di Sumatera Utara selama puluhan tahun menghadapi perusahaan raksasa yang merampas ruang hidup mereka. Uang 10 miliar tawaran dari perusahaan ditolaknya, meski suaminya kemudian harus menghadapi kriminalisasi, tak cuma sekali.

“Tanah tidak mengingat siapa yang memilikinya. Tanah mengingat siapa yang mencintainya.” (Mersi Silalahi, Perempuan Adat Sihaporas)

 

Di Sulawesi Tenggara, ada sebuah desa bernama Torobulu yang dulu dijuluki “Desa Dollar” karena hasil lautnya berlimpah. Namun, kini Torobulu menjelma desa yang gersang. Hasil laut dan kebun tak bisa lagi diandalkan karena aktivitas tambang nikel yang telah merusak ekosistem. Amalia Muis, perempuan muda dari Torobulu, membagikan cerita perjuangannya bersama warga untuk menolak tambang nikel ini.

“Saya akan terus memperjuangkan Torobulu. Meski suara saya kadang lirih dan bergetar, tak terdengar dimakan suara mesin tambang. Saya akan tetap bertahan.” (Amalia Muis, warga Torobulu)

 

Sementara itu, sejumlah proyek geothermal tengah mengepung Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Salah satunya di Poco Leok. Valeria Rahmat, seorang pegiat literasi dan seniman dari Rumah Baca Aksara, mengisahkan perjuangan Masyarakat Adat Poco Leok merawat ruang hidup dari ancaman proyek geothermal. Bersama Rumah Baca Aksara, Valeria mendukung gerakan warga Poco Leok dengan beraksi lewat seni pertunjukan, mendokumentasikan pengetahuan, dan membangun kemandirian ekonomi.

“Seni pertunjukan bisa menjadi sebuah peristiwa sosial. Ia bekerja bukan hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai tubuh kolektif yang merasakan, menyimak, lalu bereaksi bersama.” (Valeria Rahmat, Rumah Baca Aksara)

 

Di Mentawai, pelarangan praktik kepercayaan adat, termasuk tato, nyaris memusnahkan tradisi dan identitas. Tak hanya soal seni, kepercayaan Masyarakat Adat Mentawai terhubung dengan keseluruhan sistem kehidupan: tanah, air, dan hutan. Bajak Letcu, menceritakan perjalanannya dalam membangkitkan kembali tato Mentawai. Febrianti, jurnalis penerima hibah Pulitzer Center turut membersamai gerakan generasi muda Mentawai ini.

“Bagi orang Mentawai, tato adalah simbol spiritualitas, identitas budaya, juga sebagai alat komunikasi nonverbal.” (Bajak Letcu, seniman Tato Mentawai)

 

Yuk, gali dan dokumentasikan cerita-cerita dari penggerak perubahan di daerahmu agar solidaritas kita semakin kuat dan berwarna!

 

Penulis:
Frida Kurniawati
Associate Campaigner WeSpeakUp.org

Penulis: