×
Icon WeSpeakup YellowIcon WeSpeakup Yellow

Lewat Gerakan Plastik Merah dari Rumah, Liswar Ajak Warga Peduli Sampah

Di balik minimnya kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah, di Kelurahan Paruga, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, terdapat sosok inspiratif yang tekun memberikan edukasi dan percontohan kepada masyarakat agar selalu menjaga lingkungan. Ia merupakan Liswar Ahmad (46), Ketua Komunitas Pemuda Kampung Sigi (Madasigi).

Liswar juga tergabung dalam Tim Siaga Bencana Kelurahan (TSBK), Pemuda Tangguh Tanggap Bencana (PTTB), serta Relawan Damkar Kelurahan (Redkar) Paruga.

Liswar merupakan wiraswasta sekaligus bapak rumah tangga. Ia pernah bekerja sebagai manager di Perusahaan Otobus Langsung Indah. Setelah mengabdi selama 18 tahun di perusahaan itu, Liswar berhenti bekerja pada Januari 2025. Ia tinggal di lingkungan Sigi bersama istrinya, Elfi Rifmawati (42), dan dua anak perempuan, yakni Istiqomah Virginia (19 tahun) dan Reidinantika (21).

Di antara kesibukannya, Liswar rutin jogging di Lapangan Serasuba, Kota Bima. Namun, ia tidak nyaman melihat sampah berserakan di lapangan itu. Liswar kemudian berinisiatif untuk berolahraga sambil mengumpulkan sampah dan membawa sampah ke tempat pembuangan yang disediakan oleh Dinas Lingkungan Hidup. Sampah- sampah yang dipungut Liswar kebanyakan merupakan bungkus makanan dan minuman dari pengunjung dan pedagang makanan dan minuman di Lapangan Serasuba.

Liswar tertarik mengurusi masalah sampah sejak ia berkecimpung pada organisasi Madasigi. Organisasi yang ia dirikan itu dibentuk pada 11 November 2016 dan masih aktif hingga sekarang. Organisasi Madasigi berisi anak-anak muda Kelurahan Paruga, khususnya dari Lingkungan Sigi. Kegiatan organisasi ini antara lain gotong royong membersihkan sampah, perayaan 17 Agustus, serta tradisi pertemuan atau musyawarah warga (mbolo kampo).

Selain mendirikan organisasi dan secara sukarela memungut sampah di lapangan, Liswar juga meluncurkan Gerakan Plastik Merah dari Rumah, sebuah inisiatif yang mengajak masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan dan mau mengatasi persoalan sampah yang ada saat ini. Gerakan Plastik Merah dari Rumah mendorong masyarakat untuk membawa plastik kosong dari rumah saat beraktivitas, seperti menghadiri musyawarah desa ataupun berwisata di taman.

Kantong plastik yang dibawa dari rumah itu dipakai sebagai tempat untuk membuang sampah yang dihasilkan oleh masyarakat, seperti bungkus sisa makanan, dan untuk tempat mengumpulkan sampah yang mereka temui di jalan. Dengan membawa plastik kosong di dalam tas, masyarakat mempunyai tempat untuk membuang sampah yang mereka hasilkan sendiri. Begitu sampah terkumpul di plastik, maka plastik sampah itu bisa dibuang di bak sampah.

Liswar menuturkan, beberapa tahun lalu dirinya berjalan-jalan dengan istri dan anaknya di pantai. Di sana, ia melihat sampah yang berserakan sehingga mengganggu pemandangan. Dari situ timbul kemauan untuk mengumpulkan sampah di tempat- tempat wisata.

Ia memulainya dengan mengumpulkan sampah sisa makanannya sendiri. Sampah tersebut dikumpulkan dan dimasukan di dalam plastik dan dibawa pulang atau sampai menemukan bak sampah.

Tantangan utama dari Gerakan Plastik Merah dari Rumah ini adalah masyarakat kerap hanya mendengarkan, tapi tidak melaksanakan anjuran.

Kesadaran masyarakat untuk mengumpulkan masih minim. Padahal gerakan ini tidak sulit untuk dilakukan. Selain itu, kesadaran pelaku usaha juga masih minim.

Liswar dan petugas kelurahan sudah sering mengingatkan para pedagang untuk membersihkan dan mengumpulkan sampah sisa jualan mereka agar sampah tersebut bisa diangkut oleh mobil sampah. “Namun, tetap saja, masyarakat kerap mengabaikan anjuran ini. Pada dasarnya, semua tergantung kebiasaan masyarakat untuk mengikuti aturan yang ada,” kata dia.

Menurut Liswar, persoalan sampah di Kelurahan Paruga bukan hanya tanggung jawab pemerintah daerah atau kelompok tertentu saja, tapi sudah menjadi persoalan dan tanggung jawab masyarakat bersama.

Gerakan Plastik Merah dari Rumah ini bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat akan lingkungan. “Minimal kita sadar akan sampah yang kita bawa sendiri, dengan begitu tumbuh kepedulian tentang sampah yang ada di sekitar kita. Gerakan ini juga diharapkan dapat membantu mengurangi sampah yang dibuang sembarangan. Saya berharap, gerakan ini akan berjalan lancar dan menjadi hal positif ke depannya,” kata dia.

Menurut Liswar persoalan sampah tidak pernah ada ujungnya. Namun, bukan berarti tidak ada jalan keluarnya selama masyarakat punya rasa peduli untuk membuang sampah pada tempatnya. Dengan begitu, tidak ada lagi sampah yang berserakan sehingga tercipta lingkungan yang bersih dan enak dipandang mata. “Mari bersama- sama kita membangun kesadaran dan rasa peduli kita. Tanpa kesadaran dan rasa peduli, mustahil persoalan sampah ini bisa teratasi,” kata dia.

 

Penulis:
Warga Kelurahan Paruga: Mutmainah, Sukmawati, Haryani, Saputri Aditia, Nursinawati

 

*Catatan:
Artikel ini merupakan karya kolaboratif warga desa/kelurahan di Bima, Nusa Tenggara Barat yang mengangkat keresahan sekaligus praktik baik terkait pengelolaan sampah di wilayah masing-masing. Para penulis merupakan bagian dari komunitas dampingan Wahid Foundation dalam program We Nexus.

Penulis: