Masih sangat melekat di ingatan kita tentang tragedi Januari 2026 lalu di Ngada, NTT, di mana seorang anak berusia 10 tahun yang masih duduk di kelas 4 SD terpaksa mengakhiri hidupnya sendiri karena orang tuanya tidak mampu membelikannya buku dan pena.
Peristiwa itu bukan hanya menjadi alarm pengingat, namun juga menjadi tamparan keras bagi kita. Bahwa ketimpangan akses pendidikan secara ekstrem masih banyak terjadi di berbagai wilayah dan bahkan berujung dengan hilangnya nyawa seseorang.
Fakta ini kemudian menjadi wajah dari kebijakan pemerintah yang belum memprioritaskan keberpihakannya untuk menyelesaikan masalah ketimpangan akses pendidikan, utamanya di wilayah-wilayah dengan angka kemiskinan ekstrem.

Di satu sisi, untuk merespons situasi-situasi ketimpangan ini, muncul beragam gerakan warga bantu warga untuk saling mendukung dan berkontribusi untuk memperkecil jarak ketimpangan.
Menjaga Raga Merawat Asa
Dalam rangka memperingati rangkaian 16 hari Anti Kekerasan Berbasis Gender (16HAKBG) 2025 dan inisiatif untuk berkontribusi mempersempit jarak ketimpangan sosial, WeSpeakUp.org berkolaborasi dengan Komunitas Teman Yoga menyelenggarakan rangkaian kegiatan Yoga for Charity pada tanggal 22 November hingga 7 Desember 2025 lalu.
Kegiatan ini tidak hanya bertujuan mengajak publik untuk hidup sehat melalui yoga, namun juga memantik semangat berbagi dan solidaritas untuk mendukung pendidikan perempuan dan anak-anak perempuan.
Bersama 5 orang Yoga Teachers dari komunitas Teman Yoga, WeSpeakUp.org berhasil menyelenggarakan 5 kelas yoga berbeda dengan 5 tema gerakan yang diikuti oleh sejumlah total 64 peserta.
Kegiatan ini juga didukung oleh total 14 brand sponsor, yaitu: Avoskin, EarthLoveLife, Camu, Sookies, Brasov, Calm, RAAR, Energen, Perkis, Yoga Fit, Geut, Serendipity, Pure Habit, dan Eloi Coco.

Dari kegiatan ini, terkumpul uang sebesar Rp. 5.016.055,- (Lima Juta Enam Belas Ribu Lima Puluh Lima Rupiah) yang disalurkan untuk membantu dana pendidikan anak-anak perempuan di Sumba Timur.
Kami memilih Sumba Timur karena wilayah ini merupakan salah satu wilayah termiskin di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa 4 dari 10 orang anak perempuan di Sumba Timur berusia 16-18 tahun di Sumba Timur putus sekolah dan tidak lagi dapat mengakses pendidikan.

Proses Penyaluran Dana
Bersama dengan Antonia Maria Oy yang lebih akrab disapa Nia, salah satu penggerak muda dari Sumba yang merupakan alumni We Create Change dan Muda Bersua(ra) Balinusra, WeSpeakUp.org menyalurkan uang yang terkumpul dari Kegiatan Yoga for Charity ini melalui Yayasan Mestara Perempuan Berdaya yang memiliki kelompok dampingan usia sekolah di Sumba Timur.
Yayasan Mestara Perempuan Berdaya yang sejak lama bergerak untuk pemberdayaan perempuan, menjadi mitra kami untuk menyampaikan inisiatif baik ini ke kelompok yang membutuhkan dan tepat sasaran.
Dalam kurun Januari hingga Februari 2026, dana ini kemudian secara berkala disalurkan ke 4 sekolah di Sumba Timur untuk pembayaran iuran komite sekolah bagi 47 siswi dari 4 sekolah yang berbeda, yaitu: SMPN Satap Padadita sebanyak 8 orang, SMKN 1 Waingapu 5 orang, SMP Kristen Payeti 12 orang, SMKN 5 Waingapu 22 orang.
Kami berterima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dan mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Apa yang WeSpeakUp.org lakukan bersama Komunitas Teman Yoga menjadi refleksi untuk memberi makna pada 16 Hari Aktivisme Anti Kekerasan Berbasis Gender dan melihat bahwa ketimpangan menjadi katalisator terjadinya berbagai bentuk kekerasan.

Melalui upaya ini kami berharap dapat menguatkan kesadartahuan publik tentang masih banyaknya ketimpangan akses bagi kelompok perempuan, terutama di bidang pendidikan. Dan semoga kita dapat terus menguatkan dukungan dan solidaritas antar warga sipil dalam merespon ketimpangan, utamanya terhadap kelompok perempuan.
Penulis:
Nafilah Safitri
Communication Officer, WeSpeakUp.org



