Banyak permasalahan dan krisis muncul karena kita telah terasing dari hubungan dengan alam, tanah asal, budaya lokal, dan dari satu sama lain. Berangkat dari kesadaran ini, Makassar International Writers Festival (MIWF) 2026 mengangkat tema “re-coordinate”. Tema ini mengajak kita untuk memperbarui cara kita membaca peta kehidupan dan mengevaluasi kembali posisi kita di tengah dunia yang terus berubah.
Salah satu program dalam rangkaian MIWF 2026 adalah 5×15 Lanskap Hidup, program wicara publik hasil kolaborasi dengan WeSpeakUp.org. Program ini dirancang sebagai ruang pertemuan bagi berbagai pihak dari latar belakang yang berbeda, yang berjuang melalui cara dan media yang beragam.
Di ruang ini, kita barangkali akan menemukan titik-titik persilangan cerita yang menjadi awal dari hubungan yang bermakna. Bukan hanya antarmanusia, tetapi juga dengan alam dan makhluk lainnya.
Dari tanggal 14 sampai 17 Mei 2026, setiap harinya 5 orang pembicara akan bercerita satu arah, masing-masing selama 15 menit. Kisah mereka mencakup antara lain:
- kisah perjalanan
- apa atau siapa yang memotivasi atau menginspirasi
- inisiatif yang digerakkan, buku yang ditulis, penelitian yang dilakukan, lanskap yang diperjuangkan, ataupun orang-orang yang didampingi
- tujuan aktivisme mereka
- bagaimana publik bisa berpartisipasi
Konsep penceritaan ini diadopsi dari narasi publik yang dikembangkan oleh Marshall Ganz, seorang seorang pengajar senior di Harvard University di bidang kepemimpinan dan pengorganisasian gerakan sosial. Lewat “story of self” (panggilan diri), “story of us” (kesamaan nilai dan pengalaman), dan “story of now” (strategi dan aksi), pencerita diharapkan dapat menciptakan koneksi emosional dan mengajak audiens untuk bersolidaritas.

Di hari pertama, 5×15 Lanskap Hidup mengangkat tema “Home and Belonging”. Amalia Muis, Premana W. Permadi, Arief Daeng Rate, Ibe S. Palogai, dan Paulina mengurai dan merefleksikan “rumah” sebagai ruang geografis, kultural, dan emosional yang terus dinegosiasikan, dipertahankan, dan dimaknai ulang.
Sesi ini juga memicu refleksi tentang bagaimana individu dan komunitas membangun kesadaran kritis serta rasa memiliki (“sense of belonging“) melalui ingatan dan relasi sosial.

“Saya akhirnya tahu bagaimana kehidupan mereka yang daerahnya dijadikan tambang. Saya juga mendapat perspektif baru soal alat musik yang disampaikan Arief Daeng Rate, soal alat musik hampir punah di Pinrang.” (Ismaniar, hadirin hari ke-1)

5×15 Lanskap Hidup 5×15 di hari kedua bicara tentang “Who Feeds The World?”. Ahmad Arif, Steven Yunius, Evi Mariani, Harnita Rahman, dan Dhianita Kusuma Pertiwi membahas upaya perawatan yang sering kali tidak terlihat dan diabaikan di tengah dunia yang semakin mekanis.
Dalam sesi ini, istilah “feeds” tidak hanya merujuk pada aktivitas memberi makan secara biologis, tetapi juga mencakup semua bentuk perawatan terhadap kehidupan dan pengetahuan.

“Cerita yang disampaikan awalnya terasa jauh padahal ia begitu dekat, terjadi di daerah saya, pada anak didik saya, pada rekan kerja saya, pada keponakan dan kerabat saya. Mendapatkan insight baru untuk kemudian dipikirkan dalam bentuk solusi-solusi yang bisa dimulai dari diri sendiri.” (Latifah, hadirin hari ke-3).

Pada hari ketiga, 5×15 Lanskap Hidup mengangkat tema “Learning and Liberation”. Geger Riyanto, Anjar Masiga, Annisa Beta, Lynette Russell, dan Nurhady Sirimorok merayakan keberagaman pengetahuan di tengah dominasi pengetahuan “modern”. Mereka menekankan bahwa proses pembebasan dimulai dari keberanian untuk menciptakan ruang bagi narasi pengetahuan yang sebelumnya terpinggirkan.

“Pengetahuan yang sudah ada sejak dulu itu tergeser oleh prinsip-prinsip baru karena adanya kolonialisme. Jadi, ini mengubah cara pandang saya bagaimana pengetahuan itu terbentuk dan bagaimana pengetahuan itu seharusnya diaplikasikan. Jadi tidak ada pengetahuan yang lebih tinggi dari pengetahuan yang lainnya. Semuanya harus setara.” (Mato, hadirin hari ke-3)

Di hari terakhir, 5×15 Lanskap Hidup mengangkat tema “Voices from The Frontline”. Sekar Banjaran Aji, Zen RS, Fahruddin Faiz, Fitrah Ramadhan, dan Umanitya Fitri Hanryana menceritakan proses pendampingan dan pendokumentasian suara masyarakat di garis depan. Bagaimana agar suara masyarakat di garis depan bisa terdengar lebih jernih, tanpa kehilangan konteks kemanusiaan yang mendasarinya.

“Kak Sekar membukanya dengan kehilangan, kebetulan saya mengalami kehilangan. Tapi ternyata saya kembali mengartikan kehilangan itu, bahwa sebenarnya kehilangan itu ternyata bukan cuma kehilangan orang tapi terkadang identitas, tanah kita, budaya kita, bahasa kita, ternyata itu juga bisa hilang. Dan harusnya kita bisa menunda kehilangan itu.” (Amelia, hadirin hari ke-4)

Terima kasih atas kehadiran dan antusiasme lebih dari 300 peserta dalam 5×15 Lanskap Hidup. Sampai jumpa di acara berikutnya!
Penulis:
Frida Kurniawati
Campaign Coordinator, WeSpeakUp.org



