Bagaimana perempuan penggerak di Papua merawat solidaritas di tengah beragam tantangan yang dihadapi di Tanah Papua hari ini?
Pertanyaan tersebut menjadi titik berangkat penyelenggaraan PeremPuan Bersua(ra) Simpul Papua, yang difasilitasi oleh WeSpeakUp.org bersama LEKAT Papua dan Pusaka Bentala Rakyat (PUSAKA) di Jayapura pada 2–6 Juni 2026.
Menghadapi tantangan berupa movement fatigue dan menyempitnya ruang sipil akibat dinamika sosial-politik di Papua, ruang ini hadir bukan sekadar sebagai tempat pelatihan teknis, melainkan sebuah ruang perawatan kolektif (collective care).
Kegiatan yang berlangsung hangat selama 5 hari 4 malam ini memberi ruang bagi 23 perempuan penggerak lintas-generasi dari seluruh bentang wilayah adat Tanah Papua, mulai dari Papua, Papua Barat, Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, hingga Papua Barat Daya, untuk terhubung secara bermakna, berbagi praktik baik, melakukan refleksi kritis dan menggali potensi kolaborasi antar-komunitas.

Di hari pertama, perjalanan perawatan kolektif ini dimulai dari dalam diri, bersama Mila Nuh yang mengawali proses dengan memfasilitasi sesi mindfulness untuk menghadirkan diri secara utuh dan membangun ruang aman antar-peserta. Fondasi tersebut kemudian diikat secara ideologis oleh aktivis perempuan adat senior dari Papua, Frida Kelasin melalui sesi refleksi mendalam mengenai hubungan spiritualitas perempuan adat dengan tanah (connection to land) sebagai akar perjuangan perempuan Papua.

Refleksi ini kemudian diperdalam secara kritis oleh Sakdiyah Ma’ruf yang mengajak peserta merekam pengalaman hidup, perjalanan aktivisme, dan sosok-sosok perempuan yang menginspirasi perjuangan mereka melalui sesi Story of Self dan Story from Movement Ancestor.
Di hari kedua, alur refleksi ini kemudian ditransformasikan menjadi aksi nyata dalam sesi berbagi praktik baik dalam pengelolaan pengetahuan, di mana peserta belajar dari Rosita Tecuari, Ketua Organisas Perempuan Adat (ORPA) Namblong, tentang pentingnya mengakui pengetahuan lokal, tradisi tutur, dan pengalaman perempuan sebagai bentuk pengetahuan yang sah dalam advokasi dan gerakan sosial

Serta Angela Flassy, Jurnalis JUBI Papua, yang membekali peserta dengan protokol taktis keamanan digital dan mitigasi risiko dalam membangun narasi yang aman relevan, serta dapat menjangkau generasi yang lebih muda.
Melengkapi pembelajaran tersebut, Frida Kurniawati dari WeSpeakUp.org juga turut membagikan praktik baik dalam merawat pengetahuan akar rumput melalui storytelling versi WeSpeakUp.org, mulai dari teknik mengangkat pengalaman personal sebagai pintu masuk memahami isu yang lebih besar, hingga menjembatani cerita komunitas dengan publik yang lebih luas melalui berbagai medium dan acara kreatif.

Di hari ketiga, seluruh proses tersebut kemudian ditutup dengan praktik artivisme atau aktivisme melalui seni bersama Ika Vantiani, seorang seniman, kurator dan crafter. Ika mengajak peserta menerjemahkan pengalaman, ingatan, dan pengetahuan kolektif menjadi karya kreatif berbentuk Sisterhood Jurnal, bukan saja sebagai bentuk produksi narasi atau dokumentasi cerita perempuan Papua, tetapi juga medium perawatan atau pemulihan.
Dari rangkaian sesi dan refleksi tersebut, di akhir kegiatan peserta berhasil mendokumentasikan dan mengarsipkan cerita dan profil perempuan penggerak dari berbagai wilayah di Papua yang menginspirasi perjalanan aktivismenya. Peserta juga berhasil mengidentifikasi rencana kolaborasi dengan rekan-rekan yang berada dalam satu wilayah untuk menjaga ruang perawatan kolektif yang sudah dibangun.
Lebih dari sekadar pelatihan teknis, PeremPuan Bersua(ra) Simpul Papua menjadi ruang untuk saling terhubung secara bermakna. Ruang mendengar, merawat, dan menghubungkan kembali cerita-cerita perempuan Papua yang tersebar di berbagai wilayah dan isu perjuangan.
Dari ruang ini lahir jejaring baru, percakapan lintas generasi, serta berbagai gagasan kolaborasi untuk memperkuat gerakan perempuan di Tanah Papua.

Kami percaya bahwa solidaritas tidak tumbuh dari kesamaan pengalaman semata, tetapi dari kesediaan untuk saling belajar, merawat pengetahuan bersama, dan membangun narasi yang berakar pada cerita, pengalaman dan kehidupan perempuan Papua sendiri.
Penulis:
Mathilde Hutagaol
Program Team Leader, WeSpeakUp.org



